Januari selalu datang dengan aroma tanah basah dan sisa-sisa kembang api yang mulai memudar di cakrawala. Namun, bagiku, Januari kali ini bukan sekadar pergantian angka di atas kalender dinding. Ia adalah sebuah fragmen waktu yang sengaja kupagari, kusekap dalam sebuah kotak kaca bernama ingatan, hanya untuk menampung satu sosok: dirimu. Ada sesuatu yang sublim saat aku menatapmu di bulan ini. Mungkin itu cara cahaya matahari pagi yang tipis masuk melalui celah jendela, lalu jatuh tepat di keningmu, seolah semesta sedang memberikan tanda titik dua sebelum sebuah kalimat panjang tentang keindahan dimulai. Aku menuliskanmu, bukan karena aku ingin mengabadikanmu—karena bagiku kau sudah abadi dalam DNA-ku—melainkan karena tanganku tak punya pilihan lain. Menuliskanmu adalah cara paling purba bagiku untuk tetap bernapas. Dalam tradisi kepenulisan yang paling sunyi, setiap detak jantungku sebenarnya adalah sebuah mesin tik tua yang berderik tanpa henti. Cek-cek-cek. Suaranya hanya bergema di...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"