Tulungagung sedang tidak ramah, tapi kapan kabupaten ini pernah ramah? Hujan turun dengan cara yang paling klise: deras, berisik, dan membuat kaca jendela buram oleh uap napas. Di antara bunyi rintik yang menghantam seng dan aroma aspal basah yang naik ke udara, kau tiba-tiba bertanya. Sebuah pertanyaan yang bagi sebagian orang adalah awal dari segalanya, namun bagiku, terasa seperti gangguan di tengah komposisi musik yang sudah sempurna.
"Untuk apa kau mencintaiku?"
Suaramu pelan, hampir tenggelam oleh guntur yang bersembunyi di balik awan kelabu. Kau menatapku, mencari sesuatu di mataku mungkin sebuah daftar alasan, mungkin sebuah justifikasi logis, atau mungkin sekadar kepastian bahwa aku tidak sedang bersandiwara.
Biarlah kutuliskan ini untukmu, meski aku tahu kata-kata sering kali hanya menjadi penjara bagi rasa.
Ketahuilah, dalam dunia yang serba menuntut penjelasan ini, cinta adalah satu-satunya pemberontakan yang paling sunyi. Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu harus memiliki output, setiap tindakan harus punya alasan, dan setiap perasaan harus bisa dikonversi menjadi data. Tapi di sini, di ruang antara aku dan kau, hukum itu tidak berlaku.
Biarlah urusan mencintaimu menjadi urusanku sendiri. Kau tidak perlu ikut campur. Kau tidak perlu merasa memiliki beban untuk membalasnya dengan porsi yang sama, atau merasa harus bertransformasi menjadi sosok yang kau pikir aku dambakan. Cukuplah dirimu tetap tinggal di tempatmu. Jangan bergeser seujung kuku pun. Jangan berubah menjadi apa pun selain dirimu yang sedang duduk di sana, dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan pikiran yang entah terbang ke mana.
Sebab cinta, jika ia memang benar-benar ada, tidak pernah menuntut jawaban. Ia tidak seperti ujian masuk pegawai negeri atau sidang skripsi yang penuh interogasi. Cinta hanya perlu ruang kecil untuk sekadar bernapas. Ia perlu waktu untuk diam, untuk duduk di pojokan hati, dan tumbuh tanpa perlu disuruh-suruh oleh logika. Ia seperti lumut di dinding tua; ia ada karena lingkungan memungkinkannya, bukan karena ia meminta izin untuk tumbuh.
Kau bertanya "mengapa", seolah-olah ada sebuah manual prosedur di dalam kepalaku. Jika kau memang ingin tahu alasannya, lihatlah caramu menatap dunia. Kau menatap segalanya dengan cara yang pelan, namun tulus. Kau melihat pengemis di lampu merah bukan sebagai gangguan estetika kota, tapi sebagai manusia yang punya cerita. Kau melihat kucing kurus di gang sempit dengan sorot mata yang membuatku percaya bahwa dunia belum benar-benar kiamat.
Atau, lihatlah caramu menyembunyikan luka dariku. Kau melakukannya dengan sangat rapi di balik tawa ringanmu yang tipis itu. Tawa yang tidak pernah memaksa orang lain untuk mengerti, tawa yang hanya ingin menjaga agar suasana tidak menjadi berat. Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu. Dan justru di sanalah, di celah antara tawa dan luka itu, aku menemukan alasan yang kau cari. Tapi alasan itu pun tidak perlu kau ketahui, karena begitu aku mengucapkannya, ia akan kehilangan kesaktiannya.
Hujan masih turun. Di luar sana, orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Mereka takut basah, mereka takut sakit, mereka takut pada sesuatu yang jatuh dari langit tanpa kendali.
Pernahkah kau bertanya pada hujan, "Mengapa kau turun hari ini? Mengapa tidak besok saja saat aku membawa payung?"
Tentu tidak. Hujan jatuh karena ia memang harus jatuh. Gravitasi menariknya, kelembapan mengizinkannya, dan awan tak lagi mampu membendungnya. Tidak ada negosiasi. Tidak ada perdebatan filosofis di antara butiran air sebelum mereka menyentuh bumi. Mereka jatuh begitu saja. Takdir mereka adalah membasahi tanah, mengisi sungai, atau sekadar membuat seseorang di dalam kamar merasa kesepian.
Begitu pun hatiku. Aku mencintaimu karena memang begitulah hati bekerja sebagaimana mestinya. Ia tidak bekerja berdasarkan kontrak kerja atau perintah atasan. Ia bekerja seperti jantung yang berdetak atau paru-paru yang mengembang. Aku mencintaimu karena begitulah takdir mekanika perasaanku bekerja saat berhadapan dengan eksistensimu.
Maka, jangan lagi bertanya "untuk apa". Pertanyaan itu hanya akan merusak keheningan yang indah ini. Biarkan cinta ini menjadi sesuatu yang tanpa motif. Sesuatu yang bebas dari pamrih. Seperti percakapan di warung kopi pinggir jalan yang tak pernah selesai, atau seperti senja yang hilang sebelum kita sempat menghitung warnanya.
Cukuplah kau di sana. Menjadi dirimu sendiri. Menjadi saksi dari hujan yang tak pernah meminta maaf karena telah membuat bumi basah. Dan biarkan aku di sini, mencintaimu dengan cara yang paling rahasia, paling diam, dan paling tanpa alasan.
Karena pada akhirnya, di dunia yang penuh dengan suara bising ini, hal-hal yang tak terucapkan justru adalah hal-hal yang paling jujur. Dan mencintaimu, bagiku, adalah sebuah kejujuran yang tak memerlukan tanda tanya.
Hujan mulai reda, tapi perasaan ini? Ia baru saja menemukan rumahnya. Di tempatmu. Tanpa syarat. Tanpa jeda.
Komentar
Posting Komentar