Maka, mari kita bicara tentang takdir. Dan takdir, ah, takdir—entitas tak kasatmata yang seringkali kita bayangkan sebagai sutradara agung, atau mungkin, lebih jujur lagi, sebagai preman pasar yang paling piawai. Ia hadir tanpa permisi, seenak jidatnya sendiri, kadang membawa sebuket bunga mawar yang baru dipetik, tapi lebih sering menyodorkan bogem mentah tepat di ulu hati. Takdir mungkin memang piawai bangsatnya hadir seperti bajingan paling asu, menendang pintu hidup kita yang bahkan tak pernah kita kunci, lalu tertawa terbahak-bahak melihat kita kelimpungan di antara puing-puing rencana yang baru semalam kita susun dengan saksama. Ia adalah lelucon kosmik yang paling getir. Lalu apa? Kita meratap? Mengutuk langit yang pekak dan tak peduli? Menyalahkan bintang-bintang yang posisinya tak pernah kita minta? Silakan saja. Itu adalah hak prerogatif manusia yang merasa dikhianati. Tapi di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya, persoalan yang memisahkan antara sekadar hidup dan menjad...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"