Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

Que Sera, Sera. Amor Fati

Maka, mari kita bicara tentang takdir. Dan takdir, ah, takdir—entitas tak kasatmata yang seringkali kita bayangkan sebagai sutradara agung, atau mungkin, lebih jujur lagi, sebagai preman pasar yang paling piawai. Ia hadir tanpa permisi, seenak jidatnya sendiri, kadang membawa sebuket bunga mawar yang baru dipetik, tapi lebih sering menyodorkan bogem mentah tepat di ulu hati. Takdir mungkin memang piawai bangsatnya hadir seperti bajingan paling asu, menendang pintu hidup kita yang bahkan tak pernah kita kunci, lalu tertawa terbahak-bahak melihat kita kelimpungan di antara puing-puing rencana yang baru semalam kita susun dengan saksama. Ia adalah lelucon kosmik yang paling getir. Lalu apa? Kita meratap? Mengutuk langit yang pekak dan tak peduli? Menyalahkan bintang-bintang yang posisinya tak pernah kita minta? Silakan saja. Itu adalah hak prerogatif manusia yang merasa dikhianati. Tapi di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya, persoalan yang memisahkan antara sekadar hidup dan menjad...

Lakon Fana di Panggung yang Fana

Maka, mari kita akui saja, tanpa perlu berbasa-basi dengan optimisme picisan yang dijual murah di sampul-sampul buku pengembangan diri: hidup ini memang sebuah lakon yang menyedihkan. Dan serius. Kita tidak pernah meminta untuk dilemparkan ke panggung ini, bukan? Tiba-tiba saja kita sudah di sini, terengah-engah menghirup napas pertama, mata kita silau oleh cahaya yang tak kita kenali, telinga kita pekak oleh suara-suara yang asing. Kita datang sebagai sebuah kebetulan kosmik, sebuah absurditas yang diberi nama kelahiran. Dunia ini, dengan segala keindahannya yang brutal, terhampar di depan kita. Senja yang melukis langit dengan warna jingga dan nila, bau tanah basah setelah hujan pertama, atau melodi sebuah lagu lama yang entah kenapa terasa begitu akrab. Semua itu disajikan kepada kita, sebuah perjamuan megah bagi para pendatang yang tak diundang. Kita dibiarkan berjalan, meraba-raba dalam pesona yang membutakan itu. Lalu, di sebuah tikungan takdir yang entah dirancang oleh siapa, ki...

Pinjam, Sebentar Saja, Hari Milikmu

Bolehkah aku meminjam harimu yang biasa-biasa saja? Pertanyaan ini tidak lahir dari bibir yang biasa meminta. Ia merangkak dari palung jiwa yang lelah, dari lanskap hati yang porak-poranda oleh gempa yang datang tanpa henti. Aku melihatmu duduk di beranda senja, dengan secangkir teh yang uapnya menari-nari malas, dan tatapanmu jatuh pada cakrawala tanpa menuntut apa-apa. Di sanalah aku ingin berlabuh. Harimu yang biasa-biasa saja itu, bagiku, adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau. Kau tahu, hari-hariku selalu datang dengan genderang perang. Pagi disambut dengan derit pintu ingatan yang terbuka paksa, siang adalah medan tempur untuk sekadar bernapas tanpa terisak, dan malam adalah gencatan senjata yang gelisah, di mana mimpi buruk menjadi patroli yang tak pernah lelah. Maka, ketika aku melihat harimu, aku melihat sebuah suaka. Aku melihat sunyimu yang tidak berisik. Sunyiku adalah raungan panjang di lorong tak berujung; gaungnya memantul-mantul di dinding tengkorak, menjadi riuh y...

Surat Ungu untuk Bulan yang Akan Lebur

Pada bulan yang malam ini tampak terlihat malu-malu, yang purnamanya sebentar lagi akan lebur serupa gula di atas lidah, aku ingin menitipkan sesuatu. Sebuah salam yang tak pernah punya alamat, sebuah pertanyaan yang selalu mengambang di udara kamar yang pengap oleh penantian. Kuletakkan daguku di tepian jendela yang dingin, membiarkan bayanganku sendiri menjadi satu-satunya kawan bicara, dan bulan di atas sana menjadi satu-satunya kurir yang kupercaya. Maka, kepada bulan yang pucat pasi itu, kusampaikan: sampaikan padanya pertanyaanku. Kamu sedang apa? Apakah di kotamu yang jauh, di antara gedung-gedung yang menelan senja dan lampu-lampu jalan yang menyala tanpa pernah bertanya, kau juga tengah memandangnya? Apakah kau melihat semburat tipis awan yang melintas di wajahnya, serupa kerudung yang tersingkap perlahan? Atau jangan-jangan kau sedang tertawa, di sebuah kedai kopi yang ramai, dengan kepulan asap yang mengaburkan wajah kawan-kawanmu, dan kau lupa sama sekali pada langit. Aku t...

Altar Itu Bernama Gagal dan Berhasil

Di sebuah persimpangan jalan yang riuh, di tengah hiruk-pikuk notifikasi dan arak-arakan berita tentang siapa mengakuisisi siapa, tentang berapa valuasi yang kini disandang sebuah nama, kita dipaksa memilih. Kiri atau kanan. Gelap atau terang. Vonis atau mahkota. Di sana, di kedua ujung jalan itu, berdiri dua berhala kembar dengan wajah yang sama-sama angkuh: yang satu bernama Gagal, yang lain Berhasil. ​Keduanya adalah tuhan-tuhan kecil zaman ini. Mereka menuntut sesajen yang sama: waktu yang tergerus, tidur yang terampas, hubungan yang terabai. Altar mereka adalah layar-layar yang menyala biru dalam gelap, kuil mereka adalah ruang-ruang kerja bersama yang bising oleh mantera-mantera produktivitas. Orang-orang datang berbondong-bondong, membawa persembahan berupa proposal bisnis dan proyeksi keuntungan, berharap mendapat restu dari salah satu tuhan itu. Lebih tepatnya, berharap dihindarkan dari kutukan yang satu, dan dilimpahi anugerah dari yang lain. ​Gagal, sebuah vonis yang dibacak...

Badai yang Tak Pernah Bisa Kau Baca

Ada badai di atas kertas. Ada badai di tengah lautan. Keduanya memakai nama yang sama, tetapi kebenarannya terpisah oleh jurang yang tak terjembatani. Di atas kertas, badai adalah kumpulan aksara, data meteorologi, dan metafora puitis. Anginnya bisa diukur dalam skala Beaufort, tekanan udaranya dalam milibar. Hujannya adalah deskripsi tentang tirai air yang mengguyur, dan gelombangnya adalah lukisan kata tentang amuk samudra. Seseorang bisa duduk di kursi yang empuk, dengan secangkir kopi mengepul di sisinya, membaca seribu buku tentang badai. Ia bisa menjadi ahli, seorang pakar badai. Ia bisa menulis disertasi tentang pola siklon tropis, mengutip Conrad atau Melville, dan merangkai kalimat-kalimat indah tentang bagaimana manusia tak berdaya di hadapan alam. Ia tahu segalanya tentang badai. Ia bisa menjelaskan proses terbentuknya, pergerakannya, dan daya hancurnya dengan presisi seorang ilmuwan. Ia bahkan bisa merasakan ketakutan imajiner, getaran yang merambat dari halaman buku ke uju...

Tarian Sunyi di Atas Retak Porselen Jiwa

Sebuah lagu lama. Kau tahu? Dari masa ketika dunia terasa lebih naif, mungkin karena gambarnya masih hitam-putih. Seorang perempuan dengan senyum pepsodent menyanyikannya untuk anak lelakinya yang gelisah tentang masa depan. Que sera, sera, whatever will be, will be. Apapun yang terjadi, terjadilah. ​Dulu, kalimat itu terdengar seperti kepasrahan yang cengeng. Sebuah dalih untuk kaum yang lelah berusaha, yang menyerahkan dayung pada arus sungai entah berantah. Bendera putih yang dikibarkan sebelum perang benar-benar usai. Tapi waktu, oh, waktu adalah guru yang paling kejam sekaligus paling puitis. Ia mengikis prasangka, menampar wajahmu dengan kenyataan, lalu membisikkan rahasia di telingamu yang berdengung: Que sera, sera bukanlah lagu pengantar tidur untuk jiwa yang menyerah. Itu adalah mantra. Proklamasi sunyi dari jiwa yang telah melihat segalanya dan memutuskan untuk tetap berdiri. ​Apapun yang terjadi, terjadilah. ​Ucapkan itu pelan-pelan. Rasakan getarnya di rongga dada. Itu buk...

Tarian di Atas Kaca Retak

Maka, bayangkan ini: sebuah panggung tanpa batas, lantainya terbuat dari kaca. Di bawahnya, jurang gelap menganga, entah sedalam apa. Di atasnya, badai angin tak pernah berhenti meraung, datang dari segala penjuru, membawa serta serpihan debu dan pekik suara-suara yang tak jelas siapa empunya. Dan di tengah panggung yang gemetar itu, mereka menari. Anak-anak muda itu. Generasi yang lahir ketika dunia sudah terlanjur riuh. Lantainya adalah kaca. Kaca bening yang pada mulanya tampak kokoh, sebuah keajaiban teknologi yang memantulkan langit-langit digital penuh janji. Inilah lantai informasi, di mana segala pengetahuan, segala cerita, segala kebenaran dan kebohongan terhampar dalam kilau yang memabukkan. Mereka meluncur di atasnya, jemari mereka adalah sepatu dansa, dan setiap gesekan adalah sebuah langkah, sebuah pilihan, sebuah klik. Indah, bukan? Panggung yang menawarkan segalanya. Tapi lihat lebih dekat. Lantai itu tidak mulus. Ia penuh retakan. Bukan retak biasa yang lurus dan bisa d...

Parade Tuhan-Tuhan Kecil di Kepala Kita

Lihatlah, mereka berbaris dalam parade yang tak pernah usai. Dengan langkah pongah di atas panggung yang mereka bangun sendiri, mereka membusungkan dada. Inilah para Tuhan-Tuhan Kecil. Makhluk-makhluk fana yang lupa bahwa napas mereka hanya pinjaman, bahwa jantung mereka berdetak bukan atas kehendak sendiri. Namun, di singgasana remah-remah kekuasaan, entah itu di ruang rapat berpendingin udara, di mimbar-mimbar komunitas, di meja makan keluarga, atau bahkan hanya di kolom komentar media sosial, mereka merasa telah menggenggam semesta. ​Mereka adalah arsitek dari sebuah dunia yang harus berputar pada poros egonya. Peraturan? Tentu saja ada. Peraturan adalah apa pun yang terucap dari bibir mereka pagi ini. Besok? Bisa jadi lain lagi. Jangan bertanya tentang konsistensi, sebab konsistensi adalah belenggu bagi manusia biasa. Mereka, para tuhan kecil ini, adalah pengecualian. Mereka melampaui logika sebab-akibat yang menjemukan itu. Kehendak mereka adalah hukum tertinggi, dan setiap tarika...

Surat Terbuka Untuk Jiwa yang Hampir Padam

Lakukan saja. Lakukan saja apa pun yang kamu mau. Di persimpangan jalan yang berdebu ini, di bawah tatapan lampu kota yang tak peduli, di antara dengung jutaan suara yang menuntutmu menjadi sesuatu—lakukan saja. Kau dengar? Suara-suara itu. Bising. Seperti sekawanan lebah yang marah, berdengung di dalam tempurung kepalamu, memberitahumu apa yang pantas dan apa yang tabu. Mereka bilang kau harus begini. Mereka bilang kau harus begitu. Mereka berbisik lewat tatapan mata tetangga, berteriak lewat status di media sosial, menggema di ruang makan keluarga saat makan malam. Jangan pedulikan. Sumbat telingamu dengan musik paling bising yang kau punya, atau dengan sunyi paling pekat yang bisa kaucipta. Apa yang mereka katakan padamu hanyalah pantulan dari ketakutan mereka sendiri. Cermin dari penjara yang mereka bangun untuk diri mereka, dan kini mereka ingin kau masuk ke dalamnya, menemaninya, agar mereka tak merasa sendirian dalam kungkungan itu. Ini hidupmu. Ulangi kalimat itu sampai parau. ...

Petrichor, dan Alamat Pulang yang Hilang

Hujan berhenti. Tiba-tiba. Seperti percakapan yang diputus paksa di tengah kalimat paling penting. Udara yang tadinya riuh oleh rentetan air yang menusuk-nusuk atap seng dan aspal jalanan, kini lengang. Hanya menyisakan gema sayup dari tetes-tetes terakhir yang jatuh dari ujung daun atau talang air yang bocor. Dan di antara jeda sunyi itulah ia datang. Bukan suara. Bukan bayangan. Tapi bau. Bau tanah setelah hujan. Petrichor. Para ilmuwan punya nama untuknya, tentu saja. Mereka selalu punya nama untuk segala hal, seolah menamai berarti menaklukkan. Mereka akan bicara tentang geosmin, tentang bakteri actinomycetes, tentang minyak atsiri dari tumbuhan yang dilepaskan ke udara. Mereka membedahnya, mengurainya menjadi rumus-rumus kimia yang dingin dan presisi. Tapi mereka keliru. Mereka melupakan satu unsur paling penting yang tak bisa diukur oleh spekstrometer mana pun: kenangan. Karena kangen adalah bau tanah setelah hujan. Ia merayap masuk tanpa permisi lewat rongga hidung, melewati bat...

Naskah Batin yang Terbaca dalam Sunyi

Manusia bukanlah mosaik dari momen-momen besar. Bukan pula sebuah potret tunggal yang diambil di bawah cahaya paling benderang atau di sudut paling kelam. Sering kali kita keliru, kita mencoba meringkus seseorang dari satu ledakan amarahnya, dari satu tindakan heroiknya, dari satu kalimat bijak yang ia kutip di media sosial. Kita terpukau oleh kilat, lalu kita abai pada cuaca yang melingkupinya sepanjang hari. ​Sebuah kesalahan. Kesalahan fatal dalam upaya membaca sesama. ​Sebab, esensi seseorang tidak bersemayam pada peristiwa-peristiwa agung yang meledak sesekali. Ia bersembunyi, nyaris tak terlihat, dalam alur-alur kecil yang ditariknya setiap hari. Ia adalah naskah batin yang dibacakan tanpa suara, sebuah lagu sunyi yang terus-menerus diputar ulang. Pola-pola. Di sanalah kebenaran itu tinggal, dalam pengulangan yang membosankan dan konsisten, yang justru karena itu, menjadi teramat jujur. ​Manusia itu, tentu saja, makhluk kompleks. Ia bisa menjadi pahlawan di pagi hari dan pengecut...

Papan Permainan di Ruang Tamu

​Maka, kau gelar juga papan permainan itu. Di atas karpet beludru peninggalan nenek, di antara kita. Kotak-kotak hitam dan putih. Atau mungkin warna-warni, seperti lintasan ular tangga yang penuh janji surga dan ancaman neraka seukuran mata dadu. Kau tersenyum. Senyum seorang juru taktik yang sudah hafal semua kemungkinan, semua probabilitas, semua celah untuk menang. ​Bagimu, ini hanyalah itu. Sebuah papan. Sebuah arena yang dibatasi oleh tepi-tepi kayu yang dipernis. Bidak-bidaknya adalah aku, adalah kau, adalah janji-janji yang pernah kita sebut sebagai doa. Kau lempar dadunya. Angka enam. Kau melangkah dengan riang. Kau ambil kartu “kesempatan”. Mungkin isinya: “Maju tiga langkah dan ambil semua kenangan yang pernah ada.” Dan kau tertawa. Sebab ini permainan. Selalu hanya permainan. ​Tapi lihat ke seberang sofa. Lihat siapa yang duduk di sana, dalam diam yang lebih purba dari semua kata-kata kita. Ada Bapak. Tangannya menggenggam koran sore yang tak lagi ia baca. Matanya menatap ko...

Peta Jiwa dalam Bisikan

Lupakan wajah. Lupakan lekuk senyum yang terkalibrasi sempurna atau sorot mata yang sengaja diredupkan untuk memanen pesona. Lupakan semua itu. Itu hanya sampul, etalase fana yang dipajang di depan toko. Mudah dibaca, mudah pula dilupa. Debu jalanan akan menempeli permukaannya, waktu akan menggores catnya, dan akhirnya ia menjadi sekadar pemandangan lalu-lalang yang membosankan. Bukan, ini bukan tentang siapa yang membawa paras paling rupawan ke sebuah pesta remang. Bukan tentang dia yang kulitnya bercahaya di bawah lampu kuning kafe di pengujung malam. Ini adalah sebuah peringatan, sebuah memoar sunyi bagi mereka yang jiwanya pernah dimasuki tanpa izin, bukan didobrak, melainkan diundang masuk oleh sang tuan rumah yang tak sadar telah memberikan kuncinya. Waspadalah, bukan pada yang rupawan, tapi pada mereka yang memegang peta jiwa kita—para pembisik, para penenun kata, para perayu ulung. Rayuan sejati tak pernah datang sebagai badai. Ia merambat seperti kabut pagi di lembah, dingin, ...

Kita Adalah Perjalanan Itu Sendiri

Maka kita pun berlari. Selalu berlari. Mengejar sesuatu yang kita sebut "tujuan" di ujung cakrawala. Sebuah titik, sebuah harta karun, sebuah ijazah, sebuah jabatan, sebuah kebahagiaan yang kita yakini akan menuntaskan segalanya. Kita terengah-engah, memfokuskan mata pada satu fatamorgana di kejauhan, dan sering kali lupa: kita sedang menapaki tanah. Kita sedang menghirup udara. Kita sedang menjadi. Untuk apa semua lari ini? Pertanyaan itu mungkin terdengar konyol bagi dunia yang menuntut efisiensi. Dunia yang menjual peta-peta jalan pintas dan menjanjikan kedatangan yang lebih cepat. Tapi pertanyaan itu mengintai, seperti bayangan di siang bolong, mengusik di sela-sela napas kita yang tersengal. Jangan-jangan, semua yang kita cari justru berceceran di sepanjang jalan yang kita lewati dengan tergesa-gesa. Lihatlah Santiago, anak gembala dari Andalusia itu. Ia melintasi gurun, menantang perampok, dan mengarungi lautan pasir hanya untuk sebuah mimpi: harta karun yang terkubur d...

Agama Bukan Penjara Suci

Lihatlah tangan santri itu. Kasar. Kapalan. Bukan karena terlalu sering membolak-balik halaman kitab kuning yang tebal dan sakral, tapi karena jemarinya terbiasa menggenggam cangkul, mengaduk semen, mengangkat bata. Orang-orang bilang, itu demi ngalap berkah. Demi pengabdian. Demi sebuah bangunan pondok yang megah, yang kelak akan melahirkan ribuan ulama. Tapi, ada yang bertanya, ulama macam apa yang lahir dari punggung yang bungkuk karena bekerja laksana kuli? Pendidikan macam apa yang mengganti pena dengan sekop? Maka, mari kita bicara tentang apa itu belajar. Terutama, belajar agama. Agama, dalam bentuknya yang paling murni, adalah ilmu. Dan ilmu, di mana pun ia berada, di atas mimbar masjid atau di dalam laboratorium senyap, adalah sebuah proses. Proses bertanya, proses mencari, proses meragukan, dan akhirnya, proses menemukan—meski temuan itu sering kali hanya sementara, menunggu untuk diuji kembali. Belajar agama adalah proses akademik. Ia adalah proses ilmiah. Ia memiliki metodo...