Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Tentang Sunyi di Meja Makan

Senja di kota ini selalu terasa asing. Kaca-kaca gedung memantulkan sisa matahari yang pucat, warna oranye yang sakit, sekarat. Di kamar kos yang disewa dengan harga yang lumayan murah ini, secangkir kopi—yang dibeli dari kedai seberang jalan, bukan diseduh di rumah—perlahan mendingin. Di luar, gerimis mulai turun. Dan setiap kali gerimis turun di atas bangunan tua di sebuah kota, ingatan selalu punya cara untuk melarikan diri, pulang ke sebuah rumah yang berjarak ratusan kilometer dan puluhan tahun yang lalu. Pulang ke sebuah dunia di mana kasih itu tak perlu diucapkan. Kita tumbuh dewasa dengan asumsi bahwa cinta adalah apa yang kita lihat di film-film. Cinta adalah pernyataan. "Aku sayang kamu." Bunga. Cokelat. Nyanyian. Kita menuntut kata-kata, kita menagih bukti yang verbal. Kita lupa, atau mungkin tidak pernah diajari, bahwa di rumah yang kita tinggalkan itu, cinta adalah bahasa yang berbeda. Bahasa yang bisu, yang kasar, yang disamarkan dalam peluh dan asap dapur. Bapa...

Kau, Mereka, dan Bising yang Tak Kau Suka

Mereka bilang, kalau banyak orang tak suka padamu, berarti kau yang bermasalah. Sebuah adagium. Sebuah vonis jalanan. Dipalukan di kepala setiap orang yang mencoba berjalan sedikit miring dari garis lurus yang mereka sepakati bersama. Simpel, bukan? Demokrasi rasa suka. Kebenaran yang lahir dari jajak pendapat bisik-bisik di belakang punggungmu. Jika mayoritas jari menunjuk ke arahmu, maka kau pesakitannya. Selesai. Tapi tunggu dulu. Mari kita seret logika picisan itu ke pengadilan sejarah. Sejarah adalah kuburan orang-orang hebat yang dibenci di zamannya. Sejarah adalah panggung bagi mereka yang suaranya dianggap sumbang oleh koor massal. Lihat Socrates. Lelaki tua yang kerjanya hanya bertanya, mengusik nyaman para penguasa Athena dengan logika. Apa yang ia dapat? Piala berisi racun cemara. Ia mati karena mulutnya dianggap lebih berbahaya dari pedang. Menurut standar “disukai banyak orang”, Socrates adalah produk gagal. Ia bermasalah. Lihat Yesus. Kisahnya tentang cinta dan pengampuna...

Perihal Malaikat yang Memulihkan Dunia

Orang-orang menyebutmu malaikat—dan tanpa ragu, tanpa jeda bahkan untuk sekadar menarik napas, saya terlampau sepakat. Di dunia yang bising oleh sumpah serapah dan klakson kendaraan yang berteriak di persimpangan nasib, selalu ada sekelompok orang yang berbicara tentangmu dengan nada yang lebih lirih, lebih takzim, seolah menyebut namamu adalah sebuah ritual sakral. Mereka yang mengenal dan pernah terhubung denganmu, yang pernah bertukar pesan singkat atau sekadar bersitatap di sebuah sore yang penat, saya anggap salah satu mahluk paling beruntung di muka bumi. Mahluk-mahluk yang berhasil membuat saya—dengan kesadaran penuh—merasa iri sepenuh hati. ​Bagaimana tidak? Merasakan hangat dan tulus dari seorang manusia yang bahkan saya curiga tidak akan tega menepuk nyamuk yang lancang mendarat di pipinya sendiri. Kamu adalah antitesis dari segala kekerasan, penangkal dari segala racun sinisme yang merayap di pembuluh darah kota. Auramu adalah semacam jeda di tengah hiruk pikuk, sebuah oase ...

Stasiun, Kopi, dan Kitab yang Tak Pernah Kutemukan

​Di peron stasiun waktu ini, aku duduk. Bukan stasiun kereta sungguhan, tentu saja, melainkan sebuah ruang tak bernama di dalam kepala, tempat aku hanya bisa melihat kereta-kereta melesat pergi. Setiap gerbong membawa wajah yang kukenal: teman-teman lama, kawan sepermainan, bahkan orang-orang yang hanya sekelebat kutemui. Mereka melambai dari jendela, atau mungkin juga tidak, barangkali mereka terlalu sibuk menatap cakrawala di depan yang menjanjikan tujuan. Mereka berlari. Derap langkah mereka menjadi musik latar bagi keheninganku, gema yang mengisi cangkir kopiku yang entah sudah berapa kali kuhangatkan kembali. ​Aku melihat mereka berlari mengejar gelar, jabatan, cincin di jari manis, atau sekadar foto di puncak gunung yang belum pernah terjamah. Mereka memanggul ransel yang berbeda-beda—ada yang berisi ambisi setebal kamus, ada yang memikul harapan keluarga, ada pula yang hanya membawa sepasang sepatu lari dan keyakinan buta. Dan aku? Aku di sini. Masih di tempat yang sama. Menguku...

Cinta Keroncongan di Lambung Anarki

Orang-orang bicara tentang cinta seolah ia adalah udara. Sesuatu yang bebas dihirup, sesuatu yang bisa ditemukan di sudut kafe remang-remang, di antara baris-baris sajak, atau dalam tatapan mata yang tak sengaja bertemu di gerbong kereta yang melaju menembus senja. Mereka meracik definisinya dengan kata-kata muluk: pengorbanan, keabadian, penyatuan dua jiwa. Cinta, kata mereka, adalah revolusi sunyi yang bisa meruntuhkan rezim paling lalim sekalipun. Itu bohong. Bohong besar. Atau setidaknya, itu adalah kemewahan yang hanya bisa dibicarakan oleh perut-perut yang sudah terisi, oleh lambung yang tak pernah menjeritkan protesnya. Sebab sebelum segala fantasi tentang penyatuan jiwa dan debar di dada, ada realitas yang lebih purba, lebih jujur, dan lebih brutal: lapar. Dan cinta, ketika dihadapkan pada realitas absolut bernama lapar, akan menjelma menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi anarkis. Anarki bukanlah kekacauan tanpa tujuan. Anarki adalah penolakan terhadap struktur, hukum, dan tata...

Sang Maestro Absurditas

Maka aku tepuk tangan. Bukan, jangan salah sangka. Tepuk tangan ini bukan lahir dari rahim kekaguman. Sama sekali bukan. Tidak ada decak kagum yang bergetar di telapak tanganku, tidak ada rasa hormat yang mengalir deras di pembuluh darahku. Ini adalah tepuk tangan yang berbeda. Tepuk tangan yang lahir dari kesadaran penuh atas sebuah pertunjukan akbar. Sebuah perayaan. Perayaan untuk absurditas. Lihatlah dia di atas panggung itu. Berdiri di bawah sorot lampu yang membutakan. Jasnya mahal, potongannya sempurna, seolah dijahit untuk menyembunyikan setiap cacat yang mungkin ada. Senyumnya. Oh, senyumnya adalah sebuah mahakarya. Terlatih di depan cermin ribuan kali, dikalibrasi untuk kadar kehangatan yang pas, untuk tingkat ketulusan yang paling meyakinkan. Setiap jeda dalam kalimatnya adalah sebuah kalkulasi. Setiap gerak tangannya adalah sebuah koreografi. Dia adalah seorang maestro. Dan dia bicara. Tentu saja dia bicara. Kata-kata mengalir dari bibirnya seperti sungai madu di negeri don...

Surga Pukul Lima Pagi

Kelak, beberapa tahun dari sekarang—ketika garis-garis di sudut mata kita telah menjadi peta dari tawa dan tangis yang kita bagi, ketika helai-helai perak di rambutmu menjadi saksi bisu ribuan fajar yang kita jelang bersama—aku akan menemukan kepingan surga yang selama ini hanya berani kubayangkan dalam dongeng-dongeng purba. Surga itu tidak terhampar di cakrawala jingga, tidak pula bersembunyi di balik gumpalan awan kapas. Surga itu nyata, berdenyut, dan beraroma bawang. Surga itu adalah dapur kita, tepat pada pukul lima pagi. Aku akan terbangun oleh sunyi yang ganjil, sunyi yang hanya bisa tercipta ketika sebagian besar dunia masih terlelap dalam mimpinya. Namun, dari celah pintu kamar, akan terdengar sebuah orkestra fajar yang samar: desis minyak di atas wajan panas, denting ritmis spatula yang beradu dengan logam, dan gemericik air yang mengalir. Aku akan berjingkat, melintasi lantai yang dingin, hanya untuk berdiri di ambang pintu dapur, menjadi penonton satu-satunya dari sebuah p...

Ziarah Sunyi ke Dalam Diri

Di zaman yang ingar-bingar ini, di tengah riuh rendah notifikasi dan guliran layar yang tak berkesudahan, adakah yang lebih sunyi dari seseorang yang menunduk, membaca? Sebuah laku yang nyaris terasa aneh, sebuah kemewahan yang pelan-pelan tergerus oleh kecepatan. Orang-orang berlari, mengejar entah apa, sementara buku-buku terdiam di rak, menyimpan semesta yang menunggu untuk disinggahi. Orang-orang berteriak di ruang-ruang gema digital, sementara kata-kata yang teranyam rapi dalam sastra, sejarah, dan filsafat menawarkan sebuah percakapan—sebuah dialog batin yang tak ternilai. ​Mengapa kita harus kembali pada laku sunyi itu? Mengapa kita, manusia abad ke-21 yang terobsesi dengan efisiensi dan data, perlu berziarah ke dunia yang tak menawarkan keuntungan instan? Jawabannya sederhana, meski tak pernah simpel: karena di sanalah kita bertemu dengan kemanusiaan kita sendiri, dalam wujudnya yang paling telanjang dan paling rumit. ​Mari kita mulai dengan sastra. Sastra bukanlah sekadar unta...

Perihal Menemukanmu, Tanpa Sebuah Alasan

​Jika nanti, di suatu pagi yang hening atau di antara riuh senja yang memerah, aku memberanikan diri mengatakan bahwa aku menyukaimu, tolong jangan pernah bertanya kenapa. Sungguh, jangan. Sebab, jika kau tanyakan itu, aku akan serupa daun kering yang gugur, gamang dan kebingungan mencari arah angin. Aku akan terdiam, menatap matamu dengan jawaban yang tak pernah ada di bibirku. Aku akan kesulitan merangkai kata, sebab perasaan ini tidak lahir dari barisan aksara yang terencana. ​Percayalah, semua ini tidak dalam kendaliku. Ia datang tanpa permisi, serupa gerimis yang tiba-tiba menitik dari langit yang semula terang. Rasanya seperti muncul begitu saja, terbilang tiba-tiba, dan memang—memang kamu orangnya. Tidak ada almanak yang menandai harinya, tidak ada pertanda yang mendahuluinya. Suatu waktu, aku hanya menatapmu, mungkin saat kau tertawa lepas atau saat kau terdiam menatap jendela, dan saat itulah aku tahu, ada sesuatu yang berdetak berbeda di dalam diriku. Perasaan ini, serupa huj...

Kitab Suci yang Tak Lagi Sakti

Mari kita katakan ini dengan lantang, di tengah keheningan perpustakaan dan kafe-kafe tempat para intelektual memamerkan sampul buku mereka: membaca buku bukanlah satu-satunya jalan menuju kepintaran. Mungkin, bahkan bukan lagi jalan yang terbaik. Kita telah terlalu lama bersembahyang di depan altar yang terbuat dari tumpukan kertas, memuja buku sebagai kitab suci, sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang tak terbantahkan. Sebuah dogma yang rapuh di hadapan zaman. Hadapi saja kenyataannya. Informasi hari ini adalah arus deras, badai yang bergerak lebih cepat dari mesin cetak mana pun. Ia lahir di utas media sosial, diperdebatkan dalam siniar, divisualisasikan dalam video berdurasi sepuluh menit yang mampu merangkum teori fisika kuantum lebih efektif daripada bab pengantar setebal lima puluh halaman. Lalu, mengapa kita masih bertekuk lutut pada buku? Mengapa kita masih memeluk relik yang tintanya mungkin sudah kering bahkan sebelum gagasannya relevan? Bukan, ini bukan seruan untuk mem...

Seni Hidup di Tepi Jurang Absurditas

Maka datanglah saat itu. Saat di mana semua peta yang kita genggam—peta moral, suluh agama, kompas sosial, bahkan denah keindahan—tiba-tiba menjadi lembaran kertas usang yang rapuh. Angin meniupnya, dan ia hancur menjadi debu. Kita berdiri di persimpangan tanpa rambu, di bawah langit yang tak lagi menjanjikan petunjuk. Inilah batas keabsurdan: sebuah titik nol di mana segala tiang penyangga makna yang kita kenal runtuh, menyisakan kita telanjang dalam kekosongan yang melengking. Lalu apa? Apa artinya denyut nadi ini ketika semua narasi besar telah undur diri? Inilah diagnosis zaman kita, atau mungkin, diagnosis abadi kemanusiaan itu sendiri. Filsuf eksistensialis seperti Albert Camus membisikkannya dengan jernih: hidup itu absurd. Bukan karena hidup itu sendiri jahat atau tanpa kegembiraan, melainkan karena ada jurang yang tak terjembatani antara dua sisi. Di satu sisi, berdiri manusia, makhluk yang tak henti-hentinya menjeritkan pertanyaan “mengapa?” ke angkasa. Ia merindukan makna, m...

Sebuah Catatan untuk 10 Oktober

Dan begitulah, tanggal itu akan tiba lagi. Kalender digital di gawai-gawai kita, dengan presisi dinginnya, akan menandai 10 Oktober 2025. Di linimasa, spanduk-spanduk virtual akan berkibar dengan slogan-slogan penuh warna: “Jiwamu Berharga”, “Bicara Itu Sehat”, “Akhiri Stigma”. Akan ada seminar-seminar daring, utas-utas pencerahan, dan orang-orang yang tiba-tiba menjadi sangat bijak perihal kesehatan jiwa. Semua merayakan sebuah hari. Sebuah perayaan untuk sesuatu yang, ironisnya, sering kali dirayakan dengan dalih untuk melenyapkannya: penderitaan. Pesta pora kesadaran ini terasa ganjil. Sebab di luar festival satu hari itu, ada sebuah kebenaran yang tak terucap, sebuah kontrak yang kita tanda tangani tanpa sadar saat pertama kali menghirup udara dunia. Kontrak itu menyatakan bahwa penderitaan adalah bagian intrinsik dari paket bernama “kehidupan”. Itu hal yang normal. Setiap orang, tanpa kecuali, akan mendapatkannya. Kau akan mendapatkan jatah sedihmu, entah karena kehilangan atau ka...

Belantara Pilihan, Beban Kebebasan

Di persimpangan mana kau berdiri sekarang? Di hadapanmu terbentang ribuan jalan, mungkin jutaan, berkelok seperti ular tak berujung, lurus menusuk cakrawala, atau lenyap ditelan kabut. Semua pintu terbuka. Semua tanda panah menunjuk ke arah yang berbeda, namun sekaligus tidak menunjuk ke mana-mana. Inilah panggungmu. Panggung tragedi sekaligus komedi agung yang bernama kebebasan. Mereka bilang, kebebasan adalah anugerah. Tentu. Tapi mereka lupa menambahkan—ia juga kutukan, beban terberat yang dipanggulkan di bahu ringkih manusia. Saat segala belenggu terlepas, saat tak ada lagi titah raja, dogma agama, atau hardik orang tua yang menjadi kompas, kita telanjang. Telanjang di tengah belantara pilihan. Kita merindukan sangkar emas yang kita benci, karena setidaknya di sana ada batas yang jelas. Ada dinding untuk bersandar, ada jadwal makan yang pasti. Kini, di alam bebas ini, kita kelaparan di tengah perjamuan tak berkesudahan. Terlalu banyak buah untuk dipetik, terlalu banyak sungai untuk...

Jeda, Spasi, dan Kita

Lihatlah baris-baris kalimat ini. Rangkaian abjad mati yang kau baca dalam sunyi. Seindah apa pun tiap hurufnya terukir—dengan lengkung yang puitis atau garis yang tegas—dapatkah ia menyampaikan makna apabila tak ada jeda? Dapatkah seluruh paragraf ini kau selami artinya jika tak ada spasi yang memisahkan satu kata dari kata lainnya? Tentu tidak. Kata akan tumpang tindih menjadi kebisingan visual yang absurd, gumpalan tinta tanpa pesan. Makna justru lahir dari kekosongan di antara aksara. Dan begitulah kita, bukan? Aku dan kau. Dua entitas yang seringkali mabuk oleh gagasan romantis picisan bahwa cinta adalah leburan total dua menjadi satu. Dongeng-dongeng mengajarkan kita untuk mencari "separuh jiwa", seolah-akan kita terlahir sebagai makhluk yang timpang dan tak utuh. Maka atas nama kasih sayang, kita berusaha merapatkan diri, menghapus segala jarak, meniadakan semua ruang, hingga lupa caranya bernapas dengan paru-paru milik sendiri. Kasih sayang yang sejati, aku percaya, t...

Untuk Diriku di Masa Depan

Duhai, diriku, kutulis ini untukmu; untuk sebuah masa yang kelak akan kau sadari. Jikalau nanti engkau membaca surat usang ini, di sebuah senja yang entah berwarna apa, di sebuah ruang yang entah beraroma apa, kuharap napasmu tidak tersengal oleh penyesalan akan waktu yang merayap lambat laksana siput yang sekarat. Kuharap engkau telah menyadari, bahwa salah satu hal terbaik dalam hidup adalah menghabiskan usiamu pada sesuatu yang membuat waktu tidak lagi ada. Waktu, bukankah ia adalah monster yang paling mengerikan sekaligus kekasih yang paling dirindukan? Ia bisa menjadi sipir penjara yang menghitung setiap detik penderitaanmu dengan ketukan yang membosankan pada jeruji sel jiwa. Setiap detaknya adalah pengingat akan kekosongan, akan penantian yang tak berujung, akan hidup yang dijalani hanya sebagai formalitas dari fajar ke petang. Namun, ia juga bisa menjadi angin yang tak terasa, yang mendorong perahumu di tengah lautan gairah, dan tahu-tahu kau sudah tiba di sebuah pulau tanpa pe...

Gerimis untuk Tumbuhan Langka

Sore ini, sewaktu aku terbangun dari tidurku, aku tidak bertanya tentang langit yang mendung di luar jendela; tidak pula tentang kopi yang barangkali tidak akan pernah dibuat di dapur; tidak tentang tanggal yang tercetak di sudut gawai yang mati; tidak tentang hari yang akan menuntut peranku sekali lagi. Aku tidak bertanya tentang salah dan benarku yang telah menjadi arsip usang di kepala, tidak pula aku bertanya tentang apa yang sedang bergolak di dalam atau di luar diriku. Aku hanya di sana—diam, membeku dalam hening, dengan kaki berpangku di tepi ranjang. Aku telah menjadi sejenis tumbuhan langka yang, setelah kemarau panjang, hanya meminta bagian gerimisnya. Dalam keheningan yang absolut itu, aku menemukan sejenis kemerdekaan yang paling purba. Tidak ada teman yang menggunakanku sebagai sandaran bagi keluh-kesah mereka; tidak ada musuh yang diam-diam menyelidiki riwayat hidupku untuk mencari celah menyerang. Telepon genggam membisu, dan notifikasi yang biasanya berteriak-teriak men...

Serpihan Monolog di Ruang Tunggu

Di persimpangan antara cermin dan tatapan mata orang lain, ada jeda. Di jeda itulah saya ada, dan di sana pula aku dilahirkan. Keduanya menempati raga yang sama, tetapi berjalan di lorong yang berbeda. Maka, izinkan saya memulai pengakuan ini dengan satu dalil yang paling jujur: saya bukan aku. Aku adalah persona yang kau lihat, konstruk sosial yang kau vonis dengan cap ‘manis’ atau ‘iblis’, entitas yang kau undang ke pestamu atau yang kau gunjingkan di belakang punggungmu. Aku adalah topeng yang dipoles oleh ekspektasi. Sedangkan saya? Saya adalah denyut di baliknya. Kekacauan murni yang bergelora tanpa henti. Saya adalah ketergesa-gesaan itu sendiri. Napas yang memburu entah untuk apa, seolah waktu adalah algojo yang mengayunkan kapak tepat di tengkuk. Setiap pencapaian hanyalah terminal sementara sebelum kereta hasrat kembali melaju menuju stasiun antah-berantah. Tak ada kata ‘cukup’ dalam kamus saya. Kepuasan adalah mitos, fatamorgana di gurun keinginan yang tak pernah benar-benar ...

Elegi Sebuah Mimpi di Langit Senja

“Bukankah kita bebas bermimpi? Kita bebas bermimpi, kan?” Kataku bertanya dengan teriak lapang pada angkasa. Langit itu diam. Hanya warna jingga yang mulai memar, disapu kepekatan yang merayap dari ufuk timur. Beberapa burung gereja terbang rendah, pulang ke sarang mereka yang entah di mana, tak peduli pada satu manusia yang tengah berdebat dengan kekosongan. Angin sore meniup sisa-sisa harapan, membuatnya berderak seperti daun kering yang menunggu remuk diinjak. Selang beberapa menit kemudian aku kembali mengudarakan semua keluh kesahku, “Adakah mimpi itu yang terasa mustahil?” Tentu saja ada. Mimpi itu adalah kamu. Kamu yang selalu hadir dalam bentuk siluet di antara keramaian, wajahmu terbuat dari kepingan senja dan suaramu adalah melodi yang hanya bisa kudengar dalam sunyi. Kamu adalah kemustahilan yang paling nyata, sebuah paradoks yang hidup dalam denyut nadiku. Bermimpi tentangmu adalah pekerjaan paling sia-sia sekaligus paling membahagiakan yang pernah ada. Selang beberapa saat...

Serenada Pintu yang Terkunci

Dengarlah, dengarlah bisik syukurku ini. Ia tidak lahir dari puji-pujian atas kemenangan yang gemilang, tidak pula dari riuh tepuk tangan atas pencapaian yang terpajang. Tidak. Syukurku ini merambat sunyi dari balik pintu-pintu yang terkunci, dari abu rencana-rencana yang hangus terbakar, dari stasiun-stasiun di mana kereta kesempatan telah lama berlalu tanpa pernah aku menaikinya. Aku telah belajar, setelah sekian lama meninju dinding dan mengutuki nasib, bahwa semesta memiliki tata bahasanya sendiri yang tak selalu bisa kumengerti saat itu juga. Aku bersyukur untuk setiap derit engsel yang menutup sebuah kemungkinan di depan wajahku. Dulu, kudengar itu sebagai suara penolakan, sebagai gema kegagalan yang memantul di lorong-lorong jiwaku yang kosong. Kini, aku mendengarnya sebagai melodi perlindungan. Di balik pintu kayu yang tak jadi kubuka itu, mungkin ada jurang menganga, ada serigala yang lapar, atau ada ruang hampa yang akan menyedot habis sisa cahayaku. Aku tidak tahu, dan selam...

Buat Manusia yang Manusiawi

Aku tak pernah punya daftar, tak pernah merumuskan kriteria. Manusia favorit, katamu? Istilah itu terasa janggal, seperti memenjarakan semesta ke dalam sebuah bingkai foto. Sebab manusia bukanlah entitas tunggal yang bisa ditimbang dan dipilih. Mereka adalah mozaik yang berdenyut, fragmen-fragmen cahaya dan bayangan yang terus bergerak. Aku tidak mencari favorit. Aku hanya, terkadang, menemukan inspirasi dalam kepingan-kepingan itu. Dan kepingan-kepingan itu, jika kususun, barangkali akan membentuk sebuah potret. Potret tentang manusia yang membuatku ingin menjadi lebih manusiawi. Mereka adalah para penutur kebenaran. Bukan kebenaran versi spanduk atau mimbar yang diteriakkan hingga parau. Bukan. Ini adalah kebenaran yang diembuskan pelan, kadang dengan bibir gemetar, karena mereka tahu betul harga yang harus dibayar. Mereka adalah orang-orang yang melihat ada serpihan kaca di jalan yang akan dilalui banyak orang, dan alih-alih berbelok, mereka berhenti untuk menyingkirkannya, meski te...