Senja di kota ini selalu terasa asing. Kaca-kaca gedung memantulkan sisa matahari yang pucat, warna oranye yang sakit, sekarat. Di kamar kos yang disewa dengan harga yang lumayan murah ini, secangkir kopi—yang dibeli dari kedai seberang jalan, bukan diseduh di rumah—perlahan mendingin. Di luar, gerimis mulai turun. Dan setiap kali gerimis turun di atas bangunan tua di sebuah kota, ingatan selalu punya cara untuk melarikan diri, pulang ke sebuah rumah yang berjarak ratusan kilometer dan puluhan tahun yang lalu. Pulang ke sebuah dunia di mana kasih itu tak perlu diucapkan. Kita tumbuh dewasa dengan asumsi bahwa cinta adalah apa yang kita lihat di film-film. Cinta adalah pernyataan. "Aku sayang kamu." Bunga. Cokelat. Nyanyian. Kita menuntut kata-kata, kita menagih bukti yang verbal. Kita lupa, atau mungkin tidak pernah diajari, bahwa di rumah yang kita tinggalkan itu, cinta adalah bahasa yang berbeda. Bahasa yang bisu, yang kasar, yang disamarkan dalam peluh dan asap dapur. Bapa...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"