Mari kita katakan ini dengan lantang, di tengah keheningan perpustakaan dan kafe-kafe tempat para intelektual memamerkan sampul buku mereka: membaca buku bukanlah satu-satunya jalan menuju kepintaran. Mungkin, bahkan bukan lagi jalan yang terbaik. Kita telah terlalu lama bersembahyang di depan altar yang terbuat dari tumpukan kertas, memuja buku sebagai kitab suci, sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang tak terbantahkan. Sebuah dogma yang rapuh di hadapan zaman.
Hadapi saja kenyataannya. Informasi hari ini adalah arus deras, badai yang bergerak lebih cepat dari mesin cetak mana pun. Ia lahir di utas media sosial, diperdebatkan dalam siniar, divisualisasikan dalam video berdurasi sepuluh menit yang mampu merangkum teori fisika kuantum lebih efektif daripada bab pengantar setebal lima puluh halaman. Lalu, mengapa kita masih bertekuk lutut pada buku? Mengapa kita masih memeluk relik yang tintanya mungkin sudah kering bahkan sebelum gagasannya relevan?
Bukan, ini bukan seruan untuk membakar buku. Ini adalah gugatan terhadap romantisme buta yang menyelimutinya. Kultus "satu buku per minggu" itu, misalnya. Mari kita jujur, apakah kau benar-benar menjadi lebih bijak setelah melahap 52 buku dalam setahun? Ataukah kau hanya membangun monumen bagi egomu sendiri, sebuah tugu pengingat bahwa kau telah menyelesaikan sesuatu? Ada perbedaan besar antara menelan halaman dan mencerna pengetahuan. Banyak yang melakukan yang pertama, namun hanya sedikit yang mampu melakukan yang kedua. Mereka mengoleksi kutipan-kutipan bijak dari buku yang tak pernah mereka terapkan dalam hidupnya, seolah-olah tumpukan pengetahuan itu dengan sendirinya akan menjelma menjadi kebijaksanaan. Itu ilusi.
Lalu ada elitisme intelektual yang busuk itu. Anggapan bahwa mereka yang tidak membaca buku secara otomatis adalah gerombolan pemalas atau dungu. Omong kosong. Ini adalah cara kaum terpelajar yang sempit pikiran untuk merasa superior. Belajar adalah proses yang cair, ia bisa meresap dari mana saja. Dari kursus daring yang diajarkan seorang praktisi di ujung dunia, dari utas panjang seorang ahli di platform media sosial, atau bahkan dari percakapan sengit di warung kopi. Jika seorang montir belajar memperbaiki mesin injeksi terbaru dari video tutorial dan berhasil, apakah ia lebih bodoh dari sarjana sastra yang baru saja selesai membaca Ulysses tanpa memahami satu paragraf pun? Jika seorang pengusaha muda membangun bisnisnya dari wawasan yang ia dapat dari siniar dan artikel daring, apakah ia kurang cerdas dari seorang mahasiswa ekonomi yang hafal mati teori Adam Smith dari buku teks yang dicetak dua dekade lalu? Mengagungkan buku sebagai satu-satunya medium hanya akan melahirkan pemikiran yang kerdil.
Dan mari kita bedah borok yang paling bernanah: industri "self-help". Inilah pasar gelap harapan, tempat para pecandu pengetahuan berkumpul. Mereka diajarkan untuk terus mengonsumsi, bukan beraksi. Mereka menjadi knowledge junkie, menimbun kiat-kiat produktivitas, menumpuk resep kebahagiaan, mengoleksi formula kesuksesan. Padahal, sejujurnya, sebagian besar dari kitab-kitab motivasi itu adalah sampah. Jargon kosong yang dibungkus dengan sampul menarik, dirangkai untuk menciptakan candu. Candu untuk merasa lebih baik tanpa pernah benar-benar menjadi lebih baik. Kau dibuat percaya bahwa kau butuh satu buku lagi untuk akhirnya bisa berubah. Itu kebohongan.
Jika kau benar-benar ingin berubah, berhenti membaca dan mulailah bergerak. Kau tidak butuh dua puluh artikel tentang "cara bangun pagi" dan lima buku tentang "filosofi stoik untuk disiplin". Kau hanya perlu menyetel alarm dan mematikan ponselmu lebih awal. Titik. Kau tidak perlu menonton ribuan video workout untuk membakar lemak. Kau hanya perlu mengikat tali sepatumu dan berlari. Bahkan berjalan kaki pun sudah cukup. Industri ini menjual persiapan sebagai ganti dari tindakan, dan banyak dari kita yang dengan senang hati membelinya karena persiapan terasa aman, sedangkan tindakan itu menakutkan.
Kita hidup di era informasi yang melimpah ruah, sebuah paradoks di mana kita justru merasa semakin "belum cukup pintar" karena belum membaca semua yang tersedia. Berhentilah membohongi diri sendiri. Kau tidak akan pernah bisa membaca semuanya. Kunci kecerdasan hari ini bukanlah seberapa banyak yang kau masukkan ke dalam kepalamu, tapi seberapa cakap kau memilah, menyaring, menyesuaikan, dan yang terpenting, mempraktikkan serpihan-serpihan informasi yang relevan. Dunia tidak peduli pada daftar bacaanmu. Dunia hanya peduli pada apa yang kau lakukan dengan apa yang kau ketahui.
Buku tidak sakral. Ia hanyalah alat, sepotong kecil dari mosaik besar bernama pembelajaran. Membaca untuk memahami adalah sebuah kebajikan. Tapi membaca hanya untuk memuaskan ego, membaca hanya untuk menumpuk amunisi dalam perdebatan, membaca hanya agar bisa berkata "aku sudah baca buku itu"—itu bukan lagi sebuah aktivitas intelektual.
Itu adalah penyakit mental yang banyak diabaikan.
Komentar
Posting Komentar