Seandainya saja, di sebuah sore yang lengang ketika langit berwarna jingga sepuhan, seorang kurir mengetuk pintu dan menyerahkan sebuah bingkisan tebal—bukan surat cinta, bukan pula tagihan utang, melainkan naskah lakon hidupku. Lengkap. Dari adegan pembuka hingga epilog yang belum tertulis tanggalnya. Di tanganku, sebuah pena bertinta merah. Sebuah undangan untuk menjadi sutradara sekaligus editor bagi takdirku sendiri. Ah, betapa memabukkannya kuasa itu. Jemariku pasti akan gemetar, bukan karena ragu, melainkan karena hasrat yang meluap-luap. Adegan pertama yang akan kucoret tanpa ampun adalah fragmen-fragmen kehilangan. Dialog-dialog perpisahan yang membelah jiwa, monolog sunyi di kamar yang basah oleh air mata—semua akan lenyap. Aku akan merobek halaman di mana nama-nama tertentu terucap dengan nada pengkhianatan, menghapus paragraf yang menceritakan kejatuhan yang memalukan di depan mata keramaian. Panggung ini akan kubersihkan dari para antagonis, dari figuran bermuka dua, dari s...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"