Langsung ke konten utama

Ruang Abadi dalam Aksara

Maka kutulis kau. Di antara sunyi yang berderit seperti pintu tua tak terjamah, di bawah cahaya lampu yang pucat dan setia, di hadapan layar yang memantulkan wajahku sendiri yang letih—aku menulis kau. Bukan karena aku seorang penulis, bukan pula karena aku percaya pada kekuatan magis kata-kata. Aku menulis kau karena hanya dengan cara itulah kau menjadi abadi. Hanya di sanalah kau menjelma sesuatu yang tak bisa direnggut oleh waktu, tak bisa dihapus oleh jarak, tak bisa dibunuh oleh kenyataan.

​Ingatan adalah pengkhianat yang paling licik. Ia datang seperti kabut, memelukmu dengan hangat, lalu pergi meninggalkan serpihan-serpihan yang tak lagi utuh. Ingatan memudarkan warna matamu, mengubahnya dari cokelat terang menjadi sekadar bayangan kelam. Ingatan melenyapkan nada suaramu saat tertawa, menggantinya dengan gema bisu yang samar. Ingatan mencuri aroma parfummu yang dulu menempel di kertasku, kini hanya tersisa bau kertas tua yang lapuk. Karena itulah aku tidak lagi memercayai ingatan. Aku memercayai ketukan-ketukan jari di atas papan ketik ini, yang mengejarmu, menangkapmu, lalu memenjarakanmu dalam paragraf-paragraf yang tak akan pernah kaubaca.

​Setiap tulisan adalah sebuah kota. Dan di setiap kota yang kubangun dari aksara, kau adalah penduduk satu-satunya. Aku membangun jalanan-jalanan lengang dari baris-baris kalimat, tempat kita pernah berjalan berdampingan di suatu senja yang basah. Aku mendirikan kedai kopi di sudut alinea, dengan aroma robusta yang pekat, persis seperti yang kausuka. Di sana, di dalam kedai fiktif itu, kita duduk berhadapan. Kau tersenyum, dan senyummu tidak pudar. Kau bicara, dan suaramu tidak hilang ditelan angin. Aku bisa mengulang percakapan itu berkali-kali, memperbaikinya, menambahkan dialog yang tak pernah sempat terucap, menghapus kata-kata penuh luka yang seharusnya tak pernah terlontar. Di dunia aksara ini, aku adalah tuhan kecil yang menciptakan takdir kita sendiri, sebuah takdir alternatif di mana perpisahan hanyalah sebuah konsep absurd yang ditulis oleh orang-orang pesimis.

​Aku menyimpan dirimu dalam setiap tulisanku, menjadikan kata-kata sebagai ruang abadi di mana bayanganmu tidak pernah hilang. Setiap bait yang kutulis adalah cerminan rinduku, setiap ayat adalah cara halusku untuk memanggil namamu tanpa benar-benar menyebutkannya. Apakah kau tahu? Saat aku menulis tentang hujan yang turun tiba-tiba di tengah hari yang terik, aku sebenarnya sedang menulis tentang caramu datang dalam hidupku. Saat aku mendeskripsikan keheningan malam yang menusuk, aku sedang bercerita tentang kepergianmu. Dan saat aku menulis tentang secangkir kopi yang mendingin di atas meja, aku sedang melukis potret penantianku yang tak berujung. Semua metafora, semua kiasan, semua lanskap yang terhampar di atas halaman ini, semuanya adalah kamu. Engkaulah kamus rahasiaku, glosarium dari segala rasa yang tak bernama.
Di atas helaian kertas—atau lebih tepatnya, di atas kanvas digital yang dingin dan kosong ini—aku merajut kenangan kita, menenun luka dan bahagia menjadi sebuah cerita yang hanya mampu dipahami oleh hatiku sendiri. Prosesnya adalah sebuah ritual yang menyakitkan sekaligus menenangkan. Jari-jemariku menari, memanggil kembali hantu-hantu masa lalu. Aku merasakan lagi hangat genggaman tanganmu, lalu dinginnya saat kau melepaskannya untuk terakhir kali. Aku mendengar lagi tawa renyahmu, lalu isak tangisku yang coba kusembunyikan di balik bantal. Menuliskannya kembali adalah seperti membuka luka lama dengan sengaja, membiarkannya berdarah sekali lagi, hanya untuk memastikan bahwa rasa sakit itu masih nyata, bahwa semua itu pernah benar-benar ada. Karena rasa sakit adalah bukti paling sahih dari sebuah cinta yang pernah hidup.

Meskipun dirimu telah jauh, dalam tulisanku engkau senantiasa dekat, hidup dalam setiap huruf yang kuukir dengan segenap rasa. Di sini, kau tidak pernah menua. Rambutmu tetap hitam legam, dan di sudut matamu belum ada garis-garis lelah. Kau masih mengenakan kemeja biru pudar yang sama, kemeja yang menjadi saksi bisu dari begitu banyak cerita. Di duniaku ini, waktu berhenti pada momen-momen terbaik kita. Jarum jam menolak berdetak, kalender menolak berganti halaman. Semua kekal, semua membeku dalam keindahan tragisnya.

​Aku tahu, mungkin kau tidak akan pernah membacanya, tidak akan pernah tahu bahwa di sebalik setiap rangkaian kata ada wajahmu yang kusembunyikan. Mungkin saat ini kau sedang menertawakan lelucon orang lain, atau menatap mata orang lain dengan tatapan yang dulu hanya untukku. Mungkin kau sudah lupa, atau memilih untuk lupa. Dan itu tidak apa-apa. Karena tulisan ini bukanlah surat yang menuntut balasan. Ini bukan pesan yang dikirim untuk sampai. Ini adalah sebuah monumen. Sebuah prasasti yang kupahat sendiri di sudut terpencil duniaku, untuk menandai sebuah era yang pernah ada, sebuah perasaan yang pernah begitu berkuasa.

​Biarlah begitu, karena menulismu adalah caraku untuk bertahan, caraku memastikan bahwa cintaku tidak pernah benar-benar lenyap, sebaliknya tetap bernapas dalam kesenyapan, terjaga di antara baris-baris yang tidak akan pernah padam ditelan waktu. Selama aku masih bisa mengetik namamu dalam samaran metafora, selama aku masih bisa melukis senyummu lewat jalinan frasa, maka kau belum sepenuhnya pergi. Kau hanya berpindah dimensi, dari dunia nyata yang fana ke dunia aksara yang abadi.

​Dan di sinilah kau sekarang, terperangkap di antara titik dan koma, hidup selamanya dalam keheningan sebuah cerita. Cerita yang mungkin tak akan pernah selesai, karena setiap kali aku menuliskan titik di akhir kalimat, hatiku selalu menemukan alasan untuk memulai sebuah alinea yang baru. Sebuah alinea tentangmu. Selalu tentangmu.

Komentar