Bayangkanlah sebuah kota, atau barangkali sebuah negeri di balik kabut, di mana matahari bersinar tegak lurus sepanjang masa. Bukan siang, bukan malam, dan celakanya: bukan senja. Di sana, cahaya datang dari segala arah, menyapu setiap ceruk, membunuh setiap sudut gelap, hingga tak ada satu pun benda yang memiliki bayang-bayang. Di kota itu, kau berjalan di atas trotoar yang mulus—terlalu mulus, sebenarnya—tanpa pernah mendengar bunyi langkah kakimu sendiri. Tidak ada gesekan. Sol sepatumu tidak menggerus aspal, dan aspal tidak menahan laju kakimu. Segalanya meluncur. Segalanya licin seperti permukaan kaca yang baru saja digosok oleh pelayan hotel yang terobsesi pada kebersihan. Apakah kau bisa membayangkannya? Sebuah ruang di mana segala sesuatu selaras. Begitu selarasnya hingga harmoni itu terdengar seperti dengung panjang yang membosankan, seperti nada tuts piano yang ditekan dan tak pernah diangkat, terus-menerus, tanpa jeda, tanpa sinkopasi. Di negeri ini, orang-orang berbicara...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"