Langsung ke konten utama

Memoar Andromeda yang (Tak) Hilang

Kau tahu? Pada waktu kecil, aku selalu bermimpi untuk menjadi pahlawan pembela kebenaran. Ya, seorang pahlawan. Penegak kebaikan. Kedengarannya naif, bukan? Tapi di usia itu, naif adalah kemewahan; sebuah kemurnian sebelum dunia datang dan menagih segalanya dengan kerumitan.

​Aku bisa terbang. Tentu saja aku bisa. Aku mengarungi galaksi, bukan dengan roket atau mesin bising—mesin bising adalah milik dunia orang dewasa yang penuh perhitungan—tapi dengan imajinasi murni. Aku melesat di antara nebula yang berbinar, menakuti monster-monster yang ingin berbuat jahat. Monster-monsterku waktu itu sederhana; mereka besar, bertaring, dan mudah dikenali. Mereka belum serumit monster-monster di dunia nyata, yang seringkali bersembunyi di balik senyum paling ramah atau kata-kata paling santun.

​Setiap malam, kau tahu, setiap malam adalah tugasku. Aku membentuk konstelasi pada gugus bintang-bintang. Aku menyambungkan titik cahaya satu ke titik cahaya lain, bukan untuk membuat gambar zodiak yang kaubaca di majalah remaja, tapi untuk sebuah tugas yang jauh lebih sakral. Aku menyerap. Aku mengubah kesedihan orang-orang—kesedihan ibuku yang lelah, kesedihan tetangga yang bertengkar, kesedihan anak kucing yang kedinginan—dan mengubahnya menjadi serangkaian harapan. Menjadi doa-doa yang tenang. Aku adalah penyaring kosmik bagi duka di bumi.

​Dan aku ingat bagaimana andromeda melompat keluar dari sorot mataku. Kau tidak percaya? Tidak apa-apa. Tapi itu terjadi. Ia mengisapku masuk ke dalamnya, ke dalam pusaran galaksi yang ungu dan biru, dan aku terlempar ke dalam buku-buku dongeng yang kubaca sebelum tidur. Aku menjadi peran utama. Aku adalah ksatria, aku adalah pangeran, aku adalah anak pengembara yang berbicara dengan hewan. Aku masuk ke dalam sebuah dunia yang di mana aku selalu berharap untuk dapat hidup di sana.

​Dunia yang kupercaya itu. Ah, dunia itu.

​Maukah kau kudongengkan tentangnya? Di sana tak ada rasa sakit. Sungguh. Kebahagiaan jauh lebih lama dari derita; derita hanyalah jeda singkat, seperti iklan sebelum film paling menakjubkan diputar. Tak ada perseteruan yang rumit. Mengapa harus berseteru jika semua entitas saling terkoneksi dalam kehangatan cinta? Cinta di sana bukanlah kata kerja yang rumit, yang penuh tuntutan dan pengorbanan. Cinta adalah udara. Kau menghirupnya tanpa perlu memikirkannya.

​Di setiap pagi burung-burung akan bernyanyi, dan nyanyian mereka adalah berita pagi yang kaudengar. Berita tentang embun, tentang kelopak yang merekah. Di setiap malam bintang-bintang selalu berseri, tak pernah tertutup polusi. Matahari tidak pernah marah; ia tahu persis kapan harus hangat dan kapan harus bersembunyi di balik awan agar kau bisa tidur siang. Gerimis tidak pernah terburu-buru; ia turun perlahan, satu per satu, memberimu waktu untuk mencari tempat berteduh atau sekadar menikmati baunya.

​Dan bulan. Jika kau sedang bersedih—karena di sana kesedihan adalah anomali, tapi mungkin saja terjadi—bulan akan selalu dengan ramah memberikan ketenangan padamu. Sinarnya akan turun, membelai rambutmu, dan berbisik bahwa segalanya akan baik-baik saja.

​Di dunia itu, tak ada satu pun binatang yang tersiksa. Alam tidak pernah marah pada manusia. Tak ada yang serakah, karena "cukup" adalah sebuah perayaan, bukan sebuah kekurangan. Tak ada yang terancam. Setiap dada dianugerahi kasih—kebaikan selalu merekah di setiap sudut, di setiap percakapan, sehingga kejahatan akan selalu padam bahkan sebelum ia sempat terpikirkan.

​Maukah kau menuju dunia yang kupercaya? Aku pernah bertanya pada semua orang, pada angin, pada malam, pada bayanganku sendiri di cermin.

​Tentu saja, dunia itu tidak ada.

​Aku tumbuh dewasa. Gravitasi mulai terasa nyata. Aku tidak lagi bisa terbang; berjalan menaiki tangga kampus saja sudah membuatku lelah. Monster-monster itu ternyata ada, dan mereka tidak bertaring; mereka hadir dalam bentuk tenggat waktu, tagihan, kebencian yang tak terjelaskan, dan berita-berita di media sosial yang membuat perut mulas. Konstelasi yang kubuat dulu, kini tak terlihat lagi. Langit terlalu terang oleh lampu kota, atau mungkin mataku yang sudah terlalu rabun oleh realitas.

​Dunia yang kupercaya itu hancur berkeping-keping. Atau mungkin ia tidak pernah ada. Ia hanya mekanisme pertahanan seorang anak kecil yang terlalu peka, yang mencoba membangun benteng dari kepingan mimpi.

​Aku mencarinya, kau tahu. Aku mencari dunia itu di tempat-tempat lain. Dalam alkohol, dalam pekerjaan, dalam perjalanan, dalam meditasi. Aku mencoba mencari pintu mana saja yang bisa membawaku kembali ke tempat di mana andromeda melompat dari mataku.

​Dan aku gagal. Tentu saja aku gagal.

​Baiklah.

​Katakanlah mimpi tersebut tidak akan pernah datang pada hidupku. Katakanlah aku ditakdirkan untuk hidup di dunia ini, dunia di mana matahari bisa membakar, gerimis datang terburu-buru, dan kesedihan adalah tamu yang seringkali lupa untuk pulang.

​Katakanlah aku bukan pahlawan. Aku tidak bisa menyelamatkan siapa-pun dari kesedihan mereka. Aku bahkan seringkali gagal menyelamatkan diriku sendiri.

​Baiklah, aku terima.

​Tapi setidak-tidaknya, di antara semua kerumitan dan kekecewaan ini, di antara semua mimpi yang padam dan realitas yang memar, aku sudah bertemu denganmu.

​Kau, yang entah bagaimana, membuat gravitasi terasa sedikit lebih ringan. Kau, yang di matamu, aku seperti melihat sisa-sisa binar andromeda yang kukira telah lama hilang. Kau, barangkali, adalah satu-satunya bagian dari dunia dongeng itu—dunia yang kupercaya itu—yang berhasil menyeberang ke dunia nyata.

​Aku tidak lagi terbang mengarungi galaksi. Tapi duduk diam di sampingmu, sambil minum kopi, rasanya sudah cukup kosmik bagiku.

Komentar