Malam ini, aroma kopi hitam yang pekat bersinggungan dengan bau kertas tua di sudut meja kerjaku. Di luar, hujan jatuh dengan ritme yang malas, seolah enggan menyentuh aspal yang panas. Aku duduk di sini, menyesap pahit yang akrab, sembari menatap selembar surat penolakan yang baru saja mendarat di kotak surel. Anehnya, alih-alih sesak, aku justru merasakan sebersit kelegaan yang ganjil. Sebuah kepuasan yang mungkin bagi orang lain dianggap sebagai bentuk masokisme spiritual. Aku adalah orang yang paling senang merayakan kekalahan. Sejak lama, aku telah belajar untuk tidak takut pada pintu yang tertutup rapat atau punggung yang menjauh. Dalam setiap langkah baru yang kupijak, di balik ambisi yang menggebu, ada bagian kecil dalam diriku yang justru merapalkan doa-doa sunyi; aku memohon untuk ditolak, dicaci, bahkan dimaki. Ini bukan lantaran aku membenci diriku sendiri atau memuja kehancuran. Sama sekali bukan. Aku melakukan ini karena aku sadar bahwa dalam diri ini, terdapat kubangan l...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"