Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Di Sisa Hari, Sebelum Kalender Menjadi Abu

Pada akhirnya, waktu hanyalah kesepakatan-kesepakatan kecil yang kita buat dengan ingatan, bukan? Kita menamai hari, memberi nomor pada tahun, seolah-olah waktu adalah sesuatu yang bisa kita potong-potong seperti kue tart, lalu kita rayakan atau kita tangisi potongannya. Namun, di sisa hari yang tersisa ini, ketika matahari Desember merangkak turun dengan cahaya yang lelah dan warnanya memudar seperti foto tua di dompet kulit, aku memutuskan untuk duduk diam. Aku tidak ingin berlari mengejar matahari yang tenggelam. Aku hanya ingin menutup buku tebal bernama "Tahun Ini" tanpa membawa terlalu banyak beban di punggung, tanpa menyeret koper berisi sesal. ​Barangkali kau bertanya, apa yang sebenarnya kita cari di penghujung tahun selain alasan untuk memaafkan diri sendiri? ​Aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela yang diburamkan hujan—hujan yang selalu turun seolah langit tahu kita butuh musik latar untuk melamun. Di sana, di balik tatapan itu, aku tahu satu hal: aku sudah m...

Hikayat Istana Pasir di Tepi Waktu

Dengarlah. Apakah kau mendengar suara itu? Bukan, bukan suara klakson yang memaki-maki kemacetan di luar jendela kamarmu, juga bukan suara televisi yang terus-menerus memuntahkan berita tentang siapa yang menjatuhkan siapa. Aku memintamu mendengarkan suara yang lebih purba. Suara debur ombak. Suara angin yang mengikis batu. Suara waktu yang mengunyah sejarah, pelan-pelan, tanpa ampun. ​Mari kita bicara tentang sesuatu yang sering membuatmu tidak bisa tidur nyenyak. Mari kita bicara tentang kekuasaan. ​Kau tahu, kadang aku merasa lucu melihat bagaimana kita—manusia-manusia yang sombong ini—berjalan dengan dagu terangkat, seolah-olah tanah yang kita pijak tidak akan pernah merekah dan menelan tubuh kita bulat-bulat. Kita membangun gedung-gedung pencakar langit, menyusun undang-undang, mendirikan partai, dan berebut kursi empuk, seakan-akan semua itu adalah jimat anti-mati. ​Akan tetapi, bukankah kekuasaan manusia hanya bersifat sementara? ​Cobalah kau bayangkan sebuah pantai. Bayangkan s...

Romantisme dan Perjuangan

Barangkali hari ini matahari bersinar sedikit lebih terik di langit Tulungagung, atau mungkin darah kita sajalah yang sedang mendidih oleh semacam perasaan ganjil bernama perpisahan. Kita berdiri di sini, mengenakan toga yang terasa asing di tubuh, di tengah kerumunan yang merayakan sebuah akhir, padahal kita tahu ini hanyalah permulaan dari kesunyian yang lain. ​Aku ingin mengajakmu mengenang, bukan tentang nilai indeks prestasi yang tercetak di kertas transkrip, melainkan tentang jejak-jejak sepatu kita di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah. Sebuah kampus yang mungkin tidak pernah masuk dalam daftar sepuluh besar kampus terbaik di negeri ini, bahkan mungkin tercecer dari seratus besar, namun siapa peduli? Di sinilah, di bawah naungan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, kita pernah menjadi manusia paling hidup. ​Ingatkah kau? Kita masuk ke Program Studi Psikologi Islam dengan separuh keraguan. Ada kata "Islam" yang melekat di sana, sebuah label administratif ...

Jeda Panjang Sebelum Luka Berikutnya

Bukankah hidup ini, pada akhirnya, hanyalah serangkaian rasa sakit yang pandai menyamar? Ia mengenakan topeng waktu, bersembunyi di balik detak jam dinding yang monoton, seolah-olah berbisik bahwa segalanya akan membaik, padahal ia hanya sedang menunda giliran untuk menghantam kita lagi. Cobalah kau ingat-ingat kembali, kapan terakhir kali kau benar-benar merasa utuh? Mungkin tidak pernah. Kita dilemparkan ke dunia ini bukan dengan tawa, melainkan dengan jeritan. Bayi merah yang dipaksa menghirup udara asing, menangis sekeras-kerasnya seolah tahu bahwa ia baru saja mendaftar pada sebuah penderitaan panjang bernama usia. Kita lahir dengan tangis, tumbuh dengan kehilangan demi kehilangan—mainan yang rusak, teman yang pindah rumah, kekasih yang memilih punggung lain, hingga orang tua yang perlahan menjadi tanah—dan di sela-sela itu semua, kita dipaksa belajar tertawa. Tertawa, Saudara-saudara, di atas luka yang belum benar-benar kering. Aku membayangkan kita semua berjalan di sebuah loron...

Pembedahan atas Tubuh Bernama Kehidupan

Di luar jendela, senja barangkali sudah lama mati, digantikan oleh lampu-lampu kota yang gemetar menahan kantuk. Namun, di dalam kepalamu, pertanyaan itu masih saja berdenyar, menolak untuk padam. Orang-orang sering berkata dengan nada yang terlampau sederhana, seolah-olah mengutip diktat biologi sekolah dasar, bahwa kehidupan hanyalah peristiwa yang berlangsung di antara dua napas. Tarikan pertama saat kau menangis keluar dari rahim, dan embusan terakhir saat layar monitor di rumah sakit menjadi garis lurus yang memekakkan telinga. ​Betapa naifnya. Betapa menyedihkannya jika hidup hanya sebatas durasi, sebatas kronologi angka-angka di batu nisan. ​Duduklah sebentar. Mari kita bicara tentang sesuatu yang tak tampak di cermin. Mari kita bicara tentang tubuh yang tak kasatmata. Karena sesungguhnya, kehidupan ini adalah organisme yang kompleks, sebuah anatomi sunyi yang tersusun dari lapisan-lapisan yang sering kali luput dari tatapan mata yang terburu-buru. Ia bukan sekadar rentetan keja...

Kegilaan di Dunia yang Terlalu Waras

Di luar jendela, Tulungagung sedang diguyur hujan yang tampak tidak berniat berhenti, seolah langit sedang membalaskan dendam rindu yang tak tersampaikan. Aku duduk di sini, di sudut kafe yang memutar lagu Indie standar yang memasukkan isu-isu sosial dalam lagunya—mungkin .Feast atau Hindia, mungkin juga bukan—sambil memandangi genangan air yang memantulkan lampu-lampu neon kota. Dan di sela-sela kepulan asap kopi yang menari-nari seperti hantu masa lalu, aku memikirkanmu. Atau lebih tepatnya, aku memikirkan apa yang sedang terjadi di antara rusuk-rusuk kita. Kita menyebutnya cinta, sebuah kata yang sudah terlalu sering diperkosa oleh lagu-lagu pop dan sinetron murah, hingga kehilangan sakralitasnya. Namun, malam ini, izinkan aku mendefinisikannya ulang untukmu, dengan bahasa yang mungkin tidak kau temukan dalam kamus, tapi kau rasakan denyutnya di nadimu. Cinta, pada hakikatnya, adalah anomali dari segala keteraturan logika. Dunia ini, Kekasih, dibangun di atas pondasi nalar yang angk...

Risalah Kecil Tentang Peluk

Di luar, barangkali hujan sedang turun atau senja sedang merah-merahnya membakar langit-langit kota yang penuh polusi, tapi aku ingin bicara padamu tentang peluk. Ya, peluk. Sebuah kata kerja yang sering kali kita simpan dalam laci paling sunyi di kepala kita. Tentang hal yang tak pernah dengan serius dibahas oleh manusia, kecuali ketika mereka sedang bercinta, ketika napas memburu dan keringat bercampur, seolah pelukan hanyalah prolog atau epilog dari sebuah drama daging yang banal. Padahal, jika kau mau duduk sebentar dan membiarkan kopi itu mendingin, kau akan sadar bahwa peluk adalah samudera. Luasnya merengkuh benua-benua kesepian yang terpetakan dalam jiwa manusia; kedalamannya serupa suaka bagi kapal-kapal karam yang lelah dihantam badai kehidupan. Pelukan bukan sekadar tempelan kulit dengan kulit. Ia adalah peristiwa kosmis. Harus kucatat di sini, sebuah pengakuan dosa atau barangkali proklamasi kecil: aku pernah menjadi seseorang yang membenci peluk. Ada masa ketika tubuhku ad...

Sepotong Keabadian di Saku Jas yang Lusuh

Di luar jendela, kota ini masih saja mengunyah nasib orang-orang yang tak sempat sarapan. Langit Tulungagung—atau entah kota mana lagi yang telah kehilangan namanya—terlihat abu-abu, bukan karena mendung, melainkan karena asap knalpot dan keputusasaan yang menguap bersamaan. Di jalanan, klakson bersahut-sahutan seperti orkestra orang-orang gila yang berebut sisa kewarasan. Semua orang terburu-buru, berlari mengejar bayang-bayang, mengejar angka-angka di rekening bank, mengejar pengakuan semu di layar ponsel yang menyala redup. Dunia ini, harus kuakui, semakin hari semakin terasa seperti lelucon yang tidak lucu. Absurd. Kita dipaksa tertawa pada hal yang menyedihkan dan menangis pada hal yang sepele. Namun, di tengah kakofoni yang nyaris memecahkan gendang telinga ini, aku duduk diam. Tidak, aku tidak sedang bermeditasi. Aku hanya sedang mengingatmu. Dan tiba-tiba, bising itu meredam. Seperti ada tombol mute yang ditekan perlahan di semesta ini. Di titik itulah, sebuah kalimat melintas ...

Untuk Ibu dan Senja yang Belum Selesai

Barangkali senja hari ini tidak jauh berbeda dengan senja-senja yang pernah kau lewati puluhan tahun lalu. Matahari masih tergelincir di barat dengan warna jingga yang memar, seolah langit baru saja dipukuli waktu. Di luar jendela, dunia masih berisik, Bu. Kendaraan menderu, orang-orang berlari mengejar entah apa, dan jam dinding terus berdetak dengan ketukan yang angkuh. Namun, di sini, di hadapanmu, aku ingin membekukan waktu barang sejenak. Aku ingin menarik satu kursi kayu, duduk menghadapmu, dan menatap matamu yang kini menyimpan lebih banyak riwayat daripada buku sejarah mana pun. ​Selamat ulang tahun, Bu. ​Angka-angka pada kalender hanyalah penanda yang dingin, bukan? Tapi hari ini, tanggal 11 Desember di tahun 2025 ini, aku ingin membacanya sebagai sebuah jeda. Sebuah titik koma dalam kalimat panjang kehidupanmu yang tak henti-hentinya kau tulis dengan keringat dan air mata. ​Aku tahu, Bu. Aku tahu benar kau mencintaiku dengan segenap hati dan jiwa. Cinta itu tidak perlu kau uc...

Alkimia Kata-Kata di Balik Jendela yang Basah

Barangkali kita harus memulainya dari senja yang selalu terasa terlalu singkat itu, atau dari hujan yang mengetuk kaca jendela seperti seorang kekasih lama yang ragu-ragu untuk pulang. Di sanalah aku selalu menemukannya. Bukan di panggung-panggung megah dengan sorotan lampu yang menyilaukan, melainkan di sudut kamar yang remang, ditemani secangkir kopi yang perlahan dingin dan suara kereta yang menderu di kejauhan. ​Menulis, bagiku, bukanlah sekadar menyusun abjad menjadi kata, atau kata menjadi kalimat. Ia bukan sekadar kerajinan tangan kaum intelektual. Menulis itu temanku. Teman yang paling setia, yang duduk diam di sebelaku ketika dunia terasa begitu bising dan membingungkan. Ia adalah satu-satunya entitas yang tidak pernah menuntutku untuk menjadi orang lain. ​Kau tahu, dunia ini penuh dengan topeng. Di jalanan, di gedung-gedung bertingkat, di dalam bus yang sesak dengan aroma keringat dan keputusasaan, manusia menyembunyikan wajah aslinya. Namun, menulis memberiku sebuah lensa. S...

Labirin Waktu dan Manusia yang Belajar Berjalan

Barangkali kita semua adalah korban dari sebuah dongeng geometris yang diajarkan sekolah-sekolah dasar kehidupan: bahwa hidup adalah sebuah garis lurus. Sebuah mistar panjang yang membentang dari titik A bernama kelahiran menuju titik B bernama kematian, dan di antara keduanya, kita diwajibkan bergerak maju. Hanya maju. Seolah-olah "maju" adalah satu-satunya definisi kemenangan, dan sebaliknya, "mundur" adalah dosa besar yang harus ditebus dengan rasa malu. ​Kita tumbuh dewasa dengan membawa peta buta di saku baju, membayangkan bahwa setiap langkah ke depan berarti mendekati harta karun, mendekati puncak, mendekati sesuatu yang entah apa—yang penting "sukses". Kita menjadi manusia-manusia yang gelisah ketika jalanan macet, ketika hujan turun menahan langkah, atau ketika kita terpaksa berbalik arah karena jalan buntu. Kita mengutuk kemunduran sebagai kegagalan. Kita lupa, atau mungkin pura-pura lupa, bahwa kehidupan tidak pernah melamar kerja untuk menjadi...

Lelucon Paling Sunyi di Bawah Kota yang Runtuh

Aku pernah membaca lelucon yang lucu sekaligus menyedihkan, sebuah anekdot purba yang barangkali tertulis di dinding-dinding gua kesepian manusia modern. Ceritanya klise, seperti potongan adegan film noir hitam-putih yang diputar berulang-ulang di bioskop yang bangkunya sudah berdebu. ​Seorang lelaki pergi ke psikiater. Ia tidak membawa luka fisik; tidak ada darah yang menetes dari pelipisnya, tidak ada memar biru di rusuknya. Ia hanya membawa sekantong kehampaan. Ia mengeluhkan bahwa ia menderita depresi, sebuah kata yang di zaman ini seringkali kehilangan maknanya karena terlalu sering diucapkan di kedai kopi, tapi bagi lelaki ini, kata itu adalah monster. Ia mengatakan bahwa hidup ini terasa keras, terlalu kasar, seolah-olah dunia adalah amplas dan dia adalah kayu yang dipaksa halus sampai habis. Ia berkata tak ada seorang pun yang memahami lapisan terdalam jiwanya. Ia merasa total sendiri di dunia yang segala hal di dalamnya mengancam, menguras energi, tidak jelas, dan tidak pasti....

Tentang Sepotong Cinta yang Membosankan

Ya, memang benar. Aku harus mengakuinya kepadamu, di sini, sekarang, saat senja belum benar-benar habis dimakan malam dan lampu-lampu kota mulai menyala seperti kunang-kunang yang kesepian. Aku lebih suka relasi yang lembut dan membosankan. ​Mungkin ini terdengar aneh di telinga orang-orang yang memuja ledakan, mereka yang mengira cinta adalah sebuah panggung sandiwara kolosal di mana setiap babaknya harus diisi dengan teriakan, air mata, pintu yang dibanting, atau kecemburuan yang membakar hangus akal sehat. Kita sering diajarkan oleh film-film picisan dan novel-novel yang dijual di stasiun kereta bahwa cinta harus berdarah-darah untuk bisa disebut nyata. Bahwa tanpa konflik yang meletup-letup, tanpa argumen yang berbelit-belit bagai benang kusut yang mustahil diurai, cinta itu hambar. Bahwa kita harus saling menyakiti dulu untuk bisa saling memahami. ​Omong kosong. ​Aku sudah lelah dengan semua itu. Aku ingin keluar dari panggung sandiwara itu. Aku ingin duduk di kursi penonton ya...

Di Antara Angka dan Kesunyian yang Tak Terbaca

​Alangkah mengerikannya hidup di dunia yang hanya percaya pada apa yang bisa dihitung. Di kota ini, di zaman ini, kau dan aku sepertinya telah disepakati untuk tidak lagi dipandang sebagai manusia yang bernapas dan berdarah, melainkan sebagai mesin yang harus terus memuntahkan hasil. ​Kau berjalan di trotoar yang basah oleh sisa hujan semalam, dan kau bisa merasakan tatapan mereka. Tatapan yang tidak mencari "siapa" dirimu, melainkan "apa" yang bisa kau beri. Dunia telah menjadi pasar raksasa yang bising, di mana nilai seorang manusia ditentukan oleh seberapa keras denting koin yang bisa ia jatuhkan ke dalam mangkuk peradaban. Jika kau menghasilkan, kau ada. Jika kau diam, kau lenyap. ​Mereka ingin kau menjadi cerminan dari ambisi-ambisi mereka yang tak tuntas. Mereka ingin kau menjadi patung yang dipahat sesuai selera zaman: sukses, kaya, terlihat sibuk, dan selalu tersenyum di foto-foto media sosial. Mereka tidak menginginkan dirimu yang sebenarnya. Dirimu yang ra...

​Mencari Rumah Kecil untuk Surga di Matamu

Dalam hitungan hari yang tak lebih dari hembusan napas di ujung jurang, kita akan meninggalkan sekeping usang kalender yang dinamai tahun 2025 ini. Ia hanyalah angka, sebuah penanda bagi gerak abadi bumi yang tak pernah benar-benar peduli pada selebrasi, namun bagi kita yang hidup dalam rentang waktu fana, ia adalah batas antara kenangan yang diendapkan dan harapan yang masih berupa bayangan kabur. Kita melangkah, membawa tubuh yang semakin berat oleh akumulasi ribuan hari yang telah dilewati—hari-hari yang sebagian besar hanyalah riak dangkal di permukaan sungai kesadaran. ​Namun, di antara semua kepingan waktu yang telah menjadi debu dan uap, dari ribuan hari yang berlalu tanpa jejak signifikan, ada satu hari yang menolak untuk dilumat oleh mesin pelupaan. Ia adalah hari yang tegak berdiri, memancarkan cahaya yang membuat sisa hari lainnya tampak seperti fajar yang palsu. Itu adalah hari ketika aku—seorang pejalan yang tersesat di labirin eksistensi—untuk pertama kalinya menyaksikan ...

Samudra Glikemik dan Sedotan Plastik

Perjalanan selalu tentang tenggelam dan terangkat, seperti sepotong gula yang perlahan menghilang ke dalam air, lalu kembali menjadi keriangan rasa di ujung lidah. Sore itu, tak ada lagi yang lebih nyata dari hasrat untuk membiarkan diri terlarut, bukan di lautan garam yang asin dan legendaris, melainkan di samudra cokelat keemasan yang dingin itu: Lautan Es Teh Manis. ​Aku menjatuhkan diri, tanpa ragu, tanpa suara cipratan yang memprotes sunyi. Tubuhku disambut oleh aroma pekat tanin yang telah bersetubuh mesra dengan dinginnya es—sebuah kehangatan yang dibekukan, sebuah paradoks yang hanya bisa dipahami oleh para pemabuk kenikmatan. Di sekelilingku, bongkahan-bongkahan es berderak pelan, menciptakan melodi kristal yang mengingatkanku pada patahan-patahan memori yang tak lagi utuh. Cairan kental yang memelukku ini adalah janji: janji akan pelupaan, janji akan surga yang sementara. ​Semakin dalam aku menyelam, warna cokelat itu semakin buram, menjadi medium meditasi yang sempurna. Dan ...