Pada akhirnya, waktu hanyalah kesepakatan-kesepakatan kecil yang kita buat dengan ingatan, bukan? Kita menamai hari, memberi nomor pada tahun, seolah-olah waktu adalah sesuatu yang bisa kita potong-potong seperti kue tart, lalu kita rayakan atau kita tangisi potongannya. Namun, di sisa hari yang tersisa ini, ketika matahari Desember merangkak turun dengan cahaya yang lelah dan warnanya memudar seperti foto tua di dompet kulit, aku memutuskan untuk duduk diam. Aku tidak ingin berlari mengejar matahari yang tenggelam. Aku hanya ingin menutup buku tebal bernama "Tahun Ini" tanpa membawa terlalu banyak beban di punggung, tanpa menyeret koper berisi sesal. Barangkali kau bertanya, apa yang sebenarnya kita cari di penghujung tahun selain alasan untuk memaafkan diri sendiri? Aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela yang diburamkan hujan—hujan yang selalu turun seolah langit tahu kita butuh musik latar untuk melamun. Di sana, di balik tatapan itu, aku tahu satu hal: aku sudah m...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"