Langsung ke konten utama

Di Sisa Hari, Sebelum Kalender Menjadi Abu

Pada akhirnya, waktu hanyalah kesepakatan-kesepakatan kecil yang kita buat dengan ingatan, bukan? Kita menamai hari, memberi nomor pada tahun, seolah-olah waktu adalah sesuatu yang bisa kita potong-potong seperti kue tart, lalu kita rayakan atau kita tangisi potongannya. Namun, di sisa hari yang tersisa ini, ketika matahari Desember merangkak turun dengan cahaya yang lelah dan warnanya memudar seperti foto tua di dompet kulit, aku memutuskan untuk duduk diam. Aku tidak ingin berlari mengejar matahari yang tenggelam. Aku hanya ingin menutup buku tebal bernama "Tahun Ini" tanpa membawa terlalu banyak beban di punggung, tanpa menyeret koper berisi sesal.

​Barangkali kau bertanya, apa yang sebenarnya kita cari di penghujung tahun selain alasan untuk memaafkan diri sendiri?

​Aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela yang diburamkan hujan—hujan yang selalu turun seolah langit tahu kita butuh musik latar untuk melamun. Di sana, di balik tatapan itu, aku tahu satu hal: aku sudah melakukan yang terbaik. Kalimat itu terdengar klise, seperti lirik lagu pop atau koplo yang diputar berulang-ulang di bus antar kota, tetapi malam ini kalimat itu terasa sakral. Aku bangga pada diri yang terus bertahan, pada tulang-tulang yang tidak remuk meski beban serasa menekan sampai ke sumsum, pada napas yang tetap berhembus meski kadang tersengal di tikungan-tikungan tajam nasib. Aku telah sampai di titik ini, sebuah koordinat waktu yang dulu—mungkin enam bulan lalu, atau di suatu malam yang ganjil—pernah kupikir tak akan mampu kulewati.

​Tahun ini, jika harus jujur, adalah sebuah komposisi musik yang rumit. Penuh improvisasi, kadang sumbang, kadang melengking tinggi, tapi entah bagaimana tetap membentuk harmoni yang utuh. Ia penuh euforia yang sulit kuletakkan dalam kata-kata. Bagaimana kau menjelaskan rasa yang terlalu padat? Bagaimana kau melukiskan perasaan yang terlalu luas untuk kanvas bahasamu yang terbatas?

​Ada hari-hari di mana tawa meledak seperti kembang api, terang benderang namun sekejap mata menjadi asap. Ada malam-malam di mana kejutan datang mengetuk pintu tanpa salam, membawa pelajaran yang kadang dikemas dalam kotak bernama "luka". Ya, luka. Kita tidak bisa membicarakan tahun ini tanpa membicarakan luka, sama seperti kita tidak bisa membicarakan senja tanpa menyebut kegelapan yang mengintip di baliknya. Namun, di antara retakan-retakan itu, terselip kemenangan-kemenangan kecil. Kemenangan yang tidak dirayakan dengan piala atau tepuk tangan riuh, melainkan kemenangan diam-diam. Kemenangan saat aku berhasil bangun dari tempat tidur ketika dunia rasanya ingin menelanku bulat-bulat. Kemenangan saat aku memilih diam daripada membalas amarah. Kemenangan-kemenangan inilah yang diam-diam membentukku, memahatku menjadi patung yang lebih tegas konturnya.

​Dulu, mungkin di awal bab pertama tahun ini, ambisiku begitu berisik. Aku ingin menjadi ini, ingin menjadi itu, ingin dilihat, ingin didengar. Tapi senja mengajarkan kita bahwa matahari yang paling indah adalah saat ia tidak menyilaukan mata, melainkan saat ia hangat menyentuh kulit. Sejak awal, tanpa sadar, aku sebenarnya hanya ingin menulis ulang diriku. Bukan menjadi orang lain, tapi menjadi versi yang lebih jujur.

​Menjadi jujur itu ternyata menyakitkan, Kawan. Itu berarti kau harus menelanjangi diriku sendiri dari segala pretensi, melepaskan topeng-topeng sosial yang kita pakai untuk bertahan hidup di hutan beton ini. Aku ingin menjadi lebih kuat, bukan dalam artian otot atau kuasa, tapi kuat untuk mengakui kelemahan. Aku ingin lebih damai. Damai yang bukan berarti sunyi tanpa suara, tapi ketenangan di tengah badai. Seperti secangkir kopi yang tetap tenang permukaannya meski di luar jendela badai sedang mengamuk merobohkan papan reklame.

​Dan kini, di detik-detik yang merambat pelan menuju angka dua belas yang mistis itu, satu-satunya harapanku tersisa adalah kemampuan untuk menikmati perjalanan ini. Menikmati, bukan sekadar menjalani. Aku ingin berjalan dengan tempo adagio, pelan dan penuh perasaan. Tanpa tergesa. Dunia di luar sana boleh berlari, orang-orang boleh saling sikut untuk mencapai garis finis imajiner itu, tapi aku memilih untuk berjalan di trotoar yang basah ini dengan langkahku sendiri.

​Aku lelah membandingkan. Membandingkan hidupku dengan hidup orang lain di layar kaca bercahaya itu adalah sebuah bunuh diri perlahan. Halaman bukuku berbeda dengan halaman buku mereka. Tinta yang kupakai berbeda, bahkan jenis kertasnya pun tak sama. Jadi, untuk apa membandingkan bab klimaks mereka dengan bab pendahuluanku? Itu tidak adil bagi jiwaku.

​Hanya ada aku, prosesku, dan langkah kaki yang terus berayun. Kiri, kanan, kiri, kanan. Sederhana. Namun dalam kesederhanaan langkah itu, aku sedang melakukan pekerjaan paling penting: mengumpulkan kembali diriku. Aku memungut serpihan-serpihan "aku" yang tercecer di meja kerja, di ruang tunggu bandara, di percakapan-percakapan basa-basi, dan di sela-sela tangis yang tertahan. Aku menyatukannya kembali, merekatkannya dengan kesabaran, hingga aku benar-benar utuh.

​Karena aku tahu, di depan sana, setelah kalender di dinding itu diganti, sebuah cerita baru sedang menunggu. Cerita itu masih berupa halaman kosong yang putih, bersih, dan mungkin sedikit menakutkan. Tapi aku tidak ingin menyambutnya dengan tangan gemetar atau hati yang berantakan. Aku ingin menyambutnya sebagai aku yang siap. Aku yang telah berdamai dengan masa lalu, yang telah memaafkan waktu, dan yang mengerti bahwa hidup, pada akhirnya, hanyalah tentang bagaimana kita terus berjalan di antara satu senja ke senja berikutnya.

​Langit semakin gelap. Lampu-lampu kota mulai menyala, berpijar seperti harapan-harapan kecil yang keras kepala. Aku menyeruput sisa kopi yang sudah dingin. Tidak ada sesal. Hanya rasa terima kasih yang purba. Tahun ini, dengan segala kekacauan dan keindahannya, telah selesai. Dan aku, masih di sini, masih bernapas, dan siap mengetuk pintu masa depan.

Komentar