Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Senja Merah 1965

Malam selalu punya cerita. Dan ada satu malam, di akhir September 1965, yang ceritanya diubah menjadi sebuah gospel kebangsaan, sebuah kredo yang diwajibkan untuk diimani selama lebih dari tiga dekade. Cerita itu sederhana, hitam-putih, dan brutal: Partai Komunis Indonesia (PKI), sang antagonis paripurna, melakukan kudeta keji, membunuh para jenderal, dan hendak mengubah haluan negara. Lalu datanglah sang pahlawan, Mayor Jenderal Soeharto, yang menumpas pemberontakan itu dan menyelamatkan bangsa. Sebuah dongeng yang sempurna. Tapi sejarah, seperti juga kehidupan, jarang sekali sesederhana dongeng. Sejarah ditulis oleh para pemenang, dan di bawah gemerlap narasi kemenangan itu, selalu ada bisik-bisik, ada pertanyaan-pertanyaan yang menolak untuk mati. Pertanyaan itu sederhana saja: benarkah demikian? Benarkah PKI adalah dalang tunggal dari sebuah skenario yang begitu rapi? Atau, adakah cerita lain yang sengaja dikubur di bawah tumpukan mayat dan infrastruktur ketakutan yang dibangun set...

Aku Mencintaimu, Karena Kesederhanaanmu

Aku pernah menunduk lama. Bukan karena malu pada riuh dunia yang mendesak kita untuk terus mendongak, melainkan karena cinta itu tiba-tiba saja hadir, seperti gerimis yang turun tanpa aba-aba di tengah hari yang terik. Ia datang bukan dengan gelegar petir atau kilau pelangi yang memaksa untuk dilihat. Tidak. Ia meresap perlahan, seperti air yang menemukan jalannya ke akar paling sunyi, membasahi tanah hati yang telah lama kering. Di sanalah, dalam tunduk yang panjang itu, aku menyadari semuanya berawal darimu. Dari caramu ada. Aku mencintaimu, karena cara berjalanmu tak pernah dirancang untuk menggoda mata siapa pun. Langkahmu biasa saja, ritmenya tenang, seolah setiap jejak adalah percakapan hening antara dirimu dan bumi. Namun, justru itu yang membuatku tunduk. Dalam ketenangan langkahmu, aku tak menemukan ajakan pada dunia, melainkan undangan untuk masuk ke dalam doa. Setiap kali kau melintas, semesta di sekitarku seakan mengambil jeda. Angin yang tadinya sibuk meniupkan kabar-kabar...

Jingga Untuk Selamanya

Dan senja pun turun, seperti biasa, tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun. Ia datang begitu saja, sebagai penanda waktu yang tak pernah lelah berputar, sebuah ritual alam yang agung sekaligus banal. Namun bagiku, senja bukanlah sekadar penanda waktu. Senja adalah kiasan paling jujur tentang bagaimana aku mencintaimu. Aku mencintaimu seperti senja mencintai cakrawala. Lihatlah bagaimana ia menumpahkan seluruh warna jingganya pada kanvas langit yang pucat pasi, tanpa pamrih, tanpa syarat. Ia melukis dengan cahaya keemasan dan merah tembaga, membaur begitu mesra hingga tak ada lagi yang bisa menunjukkan di mana tepatnya batas antara langit dan bumi. Begitulah cintaku bekerja. Ia mengalir, meresap, menghapus semua garis yang memisahkan antara “aku” dan “kamu”, hingga yang tersisa hanyalah “kita” yang lebur dalam spektrum warna yang sama. Dalam bentangan waktu yang tak terukur, aku adalah jingga dan kau adalah cakrawala, tempatku pulang dan menumpahkan segala. Barangkali orang-orang me...

Cinta Sebagai Ruang Pembebasan

Aku ingin pagi bersamamu. Secangkir kopi, mungkin. Atau teh. Dan buku yang sama di tangan kita. Halaman-halaman yang menguar bau kertas tua, menguarkan gagasan tentang ruang yang tak pernah netral. Dan di antara jeda membalik halaman, aku akan menatap matamu, memulai percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai. Sebab aku tak ingin sekadar jatuh cinta kepadamu; aku ingin membangun ruang bersamamu. Dan kita akan bicara, bukan? Tentang bagaimana cinta sesungguhnya adalah produksi ruang. Bukan ruang dengan empat dinding dan atap, melainkan ruang mental, ruang spiritual, tempat kita bisa menjadi diri kita sendiri, telanjang tanpa perlu merasa gamang. Di dunia yang terus-menerus memaksa kita mengenakan topeng, membangun citra, dan mengikuti skenario, ruang yang kita ciptakan berdua adalah satu-satunya teritori pembebasan. Di sanalah kita merayakan kerapuhan, saling membasuh luka, dan menertawakan segala kepalsuan yang ditawarkan oleh panggung-panggung kekuasaan di luar sana. Ruang ini ad...

Sebuah Nama pada Hari yang Terus Berulang

Dan angka itu bergeser. Dari 21 ke 22. Tanpa suara, tanpa seremoni, hanya detik jam yang melompat di layar ponsel yang temaram, memantulkan bayang seorang lelaki di langit-langit kamar. Lelaki itu aku. Mochamad Rifadil Izarun Nidhom. Nama sepanjang doa yang dititipkan, kini menanggung usia yang kian berkarat. Hari ini, 16 September 2025, kalender berbisik bahwa aku semestinya merayakan. Tapi perayaan apa? Ulang tahun adalah paradoks paling sunyi. Sebuah penanda waktu yang datang dengan riuh rendah ucapan, namun di dalam dada terasa seperti ruang hampa yang menggema. Orang-orang melihatnya sebagai garis finis satu tahun dan garis start untuk tahun berikutnya. Bagiku, ia adalah cermin retak yang memantulkan segala yang tak berubah, segala yang hilang, dan segala yang tak pernah benar-benar datang. Sebelas tahun. Angka itu bukan sekadar usia di selembar kartu keluarga. Sebelas tahun adalah titik henti. Sebuah stasiun kecil di pedalaman ingatan tempat seorang anak laki-laki berdiri di pero...

Kitab yang Terbuka di Persimpangan Semesta

Manusia adalah kitab. Bukan sembarang kitab yang sampulnya kaku dan halamannya berdebu di rak-rak kesunyian. Tidak. Kau adalah kitab yang hidup, yang setiap helaan napasnya adalah desis halaman yang baru terbuka. Darahmu adalah tinta merah yang menulis tentang gairah dan luka, air matamu adalah tinta bening yang mencatat kehilangan dan haru. Sampulmu adalah kulit fana ini, mungkin sedikit lecet di sana-sini, mungkin dengan guratan yang tak kau suka, tapi di sanalah judulmu tertera—sebuah nama yang digumamkan Tuhan saat meniupkan ruh padamu. Setiap jiwa adalah sebuah epik yang tak tertandingi. Jangan pernah berpikir ceritamu kurang megah dibanding yang lain. Mungkin kitab di sebelahmu berkisah tentang takhta dan penaklukan, dengan aksara emas dan ilustrasi yang gemerlap. Mungkin kitab yang lain adalah risalah filsafat yang dalam, dengan kalimat-kalimat njelimet yang dipuja para pemikir. Tapi kitabmu? Kitabmu mungkin berkisah tentang secangkir kopi di pagi buta, tentang kesabaran merawat...

Bau Kopi dan Asap Revolusi

Asap mengepul dari cangkir-cangkir porselen retak. Hitam, pekat, tanpa ampun. Di sini, di ruang yang disesaki aroma biji sangrai dan tembakau linting, sejarah tak ditulis dengan tinta emas di atas perkamen. Sejarah diracik dari ampas dan pahit. Ia menguar bersama uap panas, meresap ke dalam dinding kayu yang kusam, menjadi saksi bisu bagi kata-kata yang jauh lebih tajam dari bayonet serdadu. Ini bukan sekadar warung. Ini bukan sekadar kopi. Dulu, ketika mesin-mesin uap memuntahkan jelaga ke langit Eropa, ketika roda-roda industri berderit melumat kemanusiaan menjadi angka-angka dalam buku kas para pemilik modal, ada ruang-ruang kecil yang menolak bungkam. Ruang-ruang pengap yang diterangi lampu minyak temaram. Orang-orang menamainya warung kopi. Tapi ia lebih dari itu. Ia adalah benteng terakhir kewarasan, rahim bagi pemberontakan. Di satu meja, duduk seorang buruh. Tangannya kasar, kapalan, menyimpan jejak dinginnya logam pabrik dan panasnya tungku peleburan. Di seberangnya, seorang p...

Tentang Cukup yang Bernama Kau

Hidup pernah begitu deras. Ia datang seperti bah, menyeret-nyeretku dalam arus yang tak kumengerti hulunya, tak kutahu muaranya, hanya pusaran-pusaran kecil bernama tenggat waktu, tagihan, dan ekspektasi orang-orang yang wajahnya tak lagi kuingat. Begitulah hidup memberi. Ia seringkali memberi terlalu banyak. Seperti sebuah cangkir yang terus diisi, meski isinya telah lama meluber, membasahi meja, lantai, dan merembes entah ke mana. Aku adalah cangkir itu. Tumpah ruah. Malam-malam menjadi panggung bagi riuh yang tak bersuara di dalam kepala. Siang hari menjadi etalase bagi riak yang tak terlihat di permukaan wajah. Segalanya terlalu banyak: terlalu banyak suara, terlalu banyak cahaya, terlalu banyak tugas, terlalu banyak keinginan, terlalu banyak ketakutan. Aku terengah-engah dalam kelimpahan itu, megap-megap di tengah lautan kemungkinan yang justru terasa seperti ancaman. Aku rindu pada jeda, pada spasi, pada titik. Tapi hidup terus saja membubuhkan koma, koma, dan koma. Tak ada henti...

Risalah Sunyi Para Pembaca

Barangkali, penghuni surga paling banyak adalah mereka para pembaca buku. Ya, barangkali. Sebuah bisikan lancang yang menyelinap di antara riuh rendah doa dan ritual. Sebuah dugaan yang tidak lahir dari dalil, melainkan dari renungan atas kata pertama yang jatuh dari langit, menggetarkan gua sunyi di Jabal Nur. Iqra’. Bacalah. Bukan, “Sembahlah.” Bukan, “Berperanglah.” Bukan pula, “Dirikanlah negara.” Langit tak menurunkan ayat soal tata cara ritual yang kaku, atau daftar panjang berisi mana boleh dan mana terlarang. Perintah itu tunggal, telanjang, dan menusuk jantung peradaban: Iqra’. Seolah Tuhan hendak berkata, “Sebelum kau mengenal-Ku, kenalilah dirimu lewat aksara. Sebelum kau meniti jalan lurus, pahamilah dulu peta semesta yang terhampar dalam kata-kata.” Dan para pembaca buku itu, mereka seolah menangkap gema pertama itu dengan seluruh jiwa. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi menyimak. Mereka tidak hanya melafalkan, tetapi menjadikannya laku hidup. Di kamar-kamar sunyi mereka...

Guru yang Datang dan Pergi

​Ada tiga hal yang selalu berhasil membuat malam terasa seperti bukan lagi milik kita; seolah waktu berhenti hanya untuk mempertontonkan betapa kecilnya segala rencana di hadapan semesta. Gerhana bulan. Hujan. Dan pergantian. Ketiganya datang tanpa permisi, mengubah peta langit dan lanskap hati dalam sekejap mata, meninggalkan kita dengan perasaan campur aduk yang getir sekaligus indah. Perasaan bahwa hidup, pada akhirnya, tak pernah benar-benar bisa kita genggam. ​Gerhana bulan adalah yang pertama. Ia datang seperti sebuah opera agung di panggung langit yang mahaluas. Malam itu, semua orang mendongak. Kekasih menggenggam tangan kekasihnya, penyair menuliskan bait-baitnya, orang-orang biasa berhenti sejenak dari rutinitasnya yang fana. Bulan yang biasanya menjadi lampu kota yang setia, perlahan meredup, ditelan bayangan bumi dalam sebuah pelukan yang lambat dan dramatis. Warnanya berubah menjadi tembaga, semerah darah, semerah rindu yang paling purba. Kita terpukau. Kita merasa menjadi...

Koordinat Takdir

Kau bertanya, apa yang paling puitis dari riwayat manusia yang terhampar ribuan tahun, yang tercatat dalam fosil dan prasasti, yang mengendap dalam dongeng sebelum tidur? Apa yang paling menggetarkan dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, dari semua peradaban yang bangkit dan runtuh, dari semua nama yang pernah disebut lalu dilupakan? Maka akan kujawab begini: lihatlah bentangan waktu itu sebagai samudra tanpa tepi. Setiap detik adalah riak, setiap abad adalah gelombang pasang yang datang dan pergi. Di samudra itu, setiap manusia adalah sebutir pasir yang dilemparkan ke dalamnya, tenggelam dalam pusaran arus yang tak pernah bisa ia kendalikan. Ada yang terlempar di zaman ketika piramida baru berupa tumpukan batu pertama, bermimpi tentang keabadian firaun di bawah tatapan Ra yang membakar. Ada yang mengambang di masa ketika Majapahit adalah sebuah gagasan besar, ketika Gajah Mada bersumpah di hadapan dewa-dewi yang kini hanya berdiam di relief candi. Ada yang terdampar di masa depan ...

Dongeng Manusia Biasa di Etalase Cahaya

Manusia biasa. Ya, manusia biasa. Adalah ia yang kausapa di pagi hari dengan wajah mengantuk, yang aroma tubuhnya adalah campuran antara sabun mandi murah dan sisa mimpi yang tak tuntas. Adalah ia yang napasnya memburu mengejar kereta atau bus kota, yang peluhnya membasahi kerah kemeja, meninggalkan peta garam sebagai prasasti sebuah perjuangan kecil yang tak akan pernah ditulis dalam buku sejarah mana pun. Inilah cerita. Cerita yang sesungguhnya. Cerita tentang makhluk yang hidup di dunia nyata. Yang terbatas. Terbatas oleh jam kerja delapan jam sehari, terkadang lebih. Terbatas oleh saldo di rekening yang menentukan menu makan siang. Terbatas oleh tenaga yang terkuras setelah seharian beradu dengan kerasnya aspal, bisingnya mesin, atau dinginnya ruang ber-AC yang membekukan inspirasi. Mereka adalah para pejalan kaki di trotoar retak, para pengendara motor yang menerobos gerimis, para ibu yang menawar harga sayur di pasar becek. Denyut nadi mereka adalah irama kota. Napas mereka adala...

Elegi untuk Pahlawan yang Tak Pernah Dilahirkan

Maka saya membuka kembali peti itu. Bukan peti kayu berukir peninggalan nenek moyang, melainkan sebuah peti kardus yang telah lelah, yang sudut-sudutnya telah menyerah pada kelembapan dan waktu. Di dalamnya, terbaring tumpukan buku catatan—jasad-jasad dari diri saya yang lain, yang pernah hidup begitu riuh di antara margin halaman bergaris. Udara kamar yang pengap seketika beraroma masa lalu: campuran debu, kertas yang mulai menguning, dan sejenis bau aneh dari lem yang sudah kehilangan daya rekatnya. Tangan saya, yang kini lebih mengenal denyut papan ketik daripada gesekan pena, membolak-balik halaman itu dengan kelembutan seorang arkeolog yang takut merusak artefak rapuh. Dan di sanalah ia. Manusia itu. Seorang anak muda yang menulis dengan tinta biru yang kadang meluber, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan seolah tak sabar mengejar sesuatu di ujung kalimat. Setiap hurufnya adalah pekikan. Setiap paragrafnya adalah manifesto. Ia bicara tentang menaklukkan dunia seolah dunia ad...

Secangkir Kopi di Tengah Dunia yang Terbakar

Katanya, saya seorang aktivis. Label itu melekat entah sejak kapan, mungkin sejak tulisan pertama saya yang terbata-bata mencoba membedah ketidakadilan, atau mungkin sejak saya ikut berdiri di kerumunan yang meneriakkan sumpah serapah pada penguasa. Katanya. Tapi kata-kata, seperti juga label, seringkali hanya menjadi bungkus kosong yang indah, menyembunyikan kekosongan yang nganga di dalamnya. Lihatlah saya sekarang. Di luar jendela, metafora itu menjadi begitu harfiah. Dunia sedang terbakar. Hutan-hutan luruh menjadi arang, pekik satwa yang hangus tak terdengar lagi, digantikan deru mesin yang meratakan tanah untuk sebuah peradaban baru yang lapar. Di layar gawai, api dalam bentuk lain berkobar-kobar: hoaks yang membakar nalar, kebencian yang menyulut perang saudara, dan foto-foto anak-anak dengan tatapan kosong di tengah puing-puing kota mereka. Api ada di mana-mana. Di parlemen yang mengesahkan undang-undang pesanan, di mata aparat yang memandang demonstran laksana hama, di keserak...

Sebuah Catatan Sederhana untuk Nadha Khoirina

Dan hari ini. Empat September, ketika semesta masih menyisakan embun di pucuk-pucuk daun dan pagi baru saja merangkak dari tidurnya. Ada sebuah nama yang bergetar dalam doa, sebuah angka yang melingkar menjadi penanda waktu: dua puluh tiga. Namamu, Nadha Khoirina. Angkamu, dua puluh tiga. Bagaimana cara menuliskanmu? Pertanyaan itu selalu datang tanpa permisi, mengetuk jendela pikiran seperti gerimis yang tiba-tiba turun di tengah hari yang terik. Aku mencoba merangkainya dalam aksara, menyusunnya dalam paragraf, tapi setiap kata terasa begitu canggung dan tak memadai. Sebab, aku bukan penyair atau bahkan penulis. aku cuma manusia biasa yang kebetulan menyukai mu. Aku hanya seorang juru catat yang terpukau, yang berusaha melukiskan cakrawala senja dengan cat air murahan. Maka, kalau kau temukan tulisan ku yang indah. ya begitulah tampak mu di mata ku. Di mataku, kau adalah paragraf yang tak pernah selesai, kalimat yang selalu menemukan koma untuk terus berlanjut, sebuah narasi agung ya...

Ritual Bara dan Aroma Sejarah

Dan api pun menyala di ujungnya. Bukan sekadar api. Ia adalah percik yang membangkitkan arwah rempah dari tidur panjangnya di dalam lintingan kertas tipis. Lalu terdengar bunyi itu: kretek, kretek, kretek... lirih, intim, seolah sebutir cengkeh sedang membisikkan riwayatnya, riwayat tanah tempat ia tumbuh, tangan yang memetiknya, dan perjalanan panjang hingga ia siap dibakar untuk kemudian dikenang. Kretek bukan sekadar rokok. Jika ia hanya rokok, ia akan menjadi benda mati yang habis ditelan api tanpa meninggalkan jejak selain abu. Tapi kretek adalah jejak itu sendiri. Ia adalah dengung sejarah di tiap hisapan, gema yang membentur langit-langit ingatan, membawa serta aroma pala, kapulaga, dan entah rempah rahasia apa lagi yang diracik dalam sebuah saus warisan. Menghisapnya adalah sebuah ziarah; ziarah ke masa lalu yang barangkali tidak pernah kita alami sendiri, tetapi terasa begitu akrab, begitu dekat, seolah mengalir dalam darah. Dalam pusaran asapnya yang pertama, pekat dan wangi,...

Alibi Secangkir Kopi di Persimpangan Fana

Jasad ini adalah pertalian hidup dan mati, sebuah parodi konkret dari paradoks yang tak pernah selesai dirundingkan antara angan dan ingin. Aku adalah persimpangan itu sendiri, tempat lalu-lalang harapan yang melaju kencang menuju tubrukan tak terhindarkan dengan kenyataan. Di malam-malam yang merayap mendekati pagi, ketika kota seharusnya lelap namun justru paling telanjang dalam resahnya, aku mencoba merapal teosofi. Bukan dari kitab-kitab tebal berdebu yang ditulis para wali, melainkan dari sisa-sisa ayat Yasin yang terputus-putus di kepala, beradu dengan kepulan asap rokok dan segelas kopi hitam yang pekat oleh alibi. Kopi menjadi saksi bisu, bahwa terjaga semalaman suntuk adalah sebuah pencarian spiritual, bukan sekadar lari dari mimpi buruk yang menunggu di balik kelopak mata. Pagi menjelang, menyisakan ampas dari kopi saset Torabica Moka—jejak manis-pahit dari pergulatan semalam. Teori-teori besar, nama-nama agung dari para filsuf yang potretnya kupandangi di layar ponsel, berde...