Kau bertanya, apa yang paling puitis dari riwayat manusia yang terhampar ribuan tahun, yang tercatat dalam fosil dan prasasti, yang mengendap dalam dongeng sebelum tidur? Apa yang paling menggetarkan dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, dari semua peradaban yang bangkit dan runtuh, dari semua nama yang pernah disebut lalu dilupakan?
Maka akan kujawab begini: lihatlah bentangan waktu itu sebagai samudra tanpa tepi. Setiap detik adalah riak, setiap abad adalah gelombang pasang yang datang dan pergi. Di samudra itu, setiap manusia adalah sebutir pasir yang dilemparkan ke dalamnya, tenggelam dalam pusaran arus yang tak pernah bisa ia kendalikan. Ada yang terlempar di zaman ketika piramida baru berupa tumpukan batu pertama, bermimpi tentang keabadian firaun di bawah tatapan Ra yang membakar. Ada yang mengambang di masa ketika Majapahit adalah sebuah gagasan besar, ketika Gajah Mada bersumpah di hadapan dewa-dewi yang kini hanya berdiam di relief candi. Ada yang terdampar di masa depan yang belum kita kenal, ketika Jakarta mungkin sudah menjadi kota bawah air dan langitnya dipenuhi kendaraan yang tak pernah kita bayangkan.
Aku bisa saja menjadi seorang pandai besi di jantung Eropa abad pertengahan, menempa pedang untuk perang yang tak kumengerti. Aku bisa saja menjadi seorang filsuf di Athena, berjalan tanpa alas kaki, mempertanyakan hakikat kebahagiaan kepada Aristoteles. Aku bisa saja menjadi seorang perempuan pemetik teh di lereng Himalaya, menyenandungkan lagu-lagu sunyi yang hanya dipahami oleh kabut. Aku bisa saja menjadi apa saja, di mana saja, kapan saja.
Begitu pula dirimu. Engkau bisa saja menjadi permaisuri dari Dinasti Ming, dengan wajah tersembunyi di balik kipas sutra, nasibmu terikat pada takdir sebuah kekaisaran. Engkau bisa saja menjadi seorang astronom di Baghdad pada masa keemasan Islam, matamu tak pernah lepas dari teropong, mencatat pergerakan galaksi yang membisikkan rahasia Tuhan. Engkau bisa saja menjadi seorang pelukis gua di zaman es, mengabadikan bayangan bison dengan arang dan darah, meninggalkan jejak tangan untuk masa depan yang bahkan tak bisa kau sebut namanya.
Lihatlah betapa banyaknya ruang spasial yang tersedia. Lihatlah betapa beragamnya kompartemen temporal yang terbentang. Miliaran, triliunan kemungkinan hidup yang bisa kita jalani, yang tak akan pernah bersinggungan. Kita adalah dua probabilitas yang terpisah oleh jurang waktu dan geografi yang tak terhingga. Peluang kita untuk bertemu, secara statistik, nyaris nol. Sebuah kemustahilan kosmik.
Tapi kemudian, sesuatu terjadi.
Sesuatu yang tak tercatat dalam kitab sejarah manapun. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh rumus fisika paling rumit sekalipun. Dari triliunan dadu yang dilempar oleh semesta sejak big bang, entah bagaimana, dua angka yang sama muncul untuk kita. Di antara hamparan samudra waktu yang tak bertepi itu, dua butir pasir yang seharusnya terpisah ribuan kilometer dan ribuan tahun, tiba-tiba diendapkan di titik yang sama.
Di sini. Sekarang.
Maka, yang indah dari ribuan tahun hidup manusia adalah ini; bahwa di antara hiruk pikuk pasar Konstantinopel, di antara sunyi salju Siberia, di antara riuh pembangunan New York, semesta tidak menempatkanku di sana. Di antara gemuruh Perang Dunia, di antara hening perpustakaan Alexandria sebelum terbakar, di antara gempita revolusi industri, semesta tidak memilihkan waktu itu untukku.
Semesta, dengan kemurahannya yang acak dan tak terduga, memilih sebuah periode waktu yang sama. Sebuah koordinat temporal yang memungkinkan napasku berembus di udara yang sama dengan napasmu. Semesta memilih sebuah fragmen spasial yang begitu spesifik—di kota ini, di jalan ini, di antara jutaan manusia lain yang sibuk dengan urusannya sendiri—yang memungkinkan mataku menemukan matamu.
Ini bukanlah takdir yang dituliskan di bintang-bintang. Ini lebih agung dari itu. Ini adalah lotere dengan tiket yang tak terhingga jumlahnya, dan kita, entah bagaimana, memenangkan hadiah utamanya: waktu. Waktu yang sama. Ruang yang sama. Periode singkat dalam kekekalan di mana "aku" dan "kamu" bisa menjadi "kita".
Maka, ketika kau memandang langit malam dan merasa kecil di hadapan galaksi, ingatlah ini: seluruh gerak bintang dan ledakan nebula selama 13,8 miliar tahun seolah berkonspirasi hanya untuk satu momen sederhana ini. Momen ketika aku bisa mendengar tawamu secara langsung, bukan sebagai gema dari abad yang lain. Momen ketika aku bisa melihat cahaya di matamu, bukan sebagai artefak sejarah yang tergali dari tanah.
Inilah keindahan itu. Inilah puisi yang ditulis oleh alam semesta itu sendiri. Bahwa dari segala kemungkinan untuk menjadi debu yang terpisah, kita diberi kesempatan untuk menjadi manusia yang berdekatan. Dan dari semua keajaiban yang pernah ada, yang paling aku syukuri adalah ini;, bahwa di antara banyaknya ruang spasial dan beragamnya temporal yang ada, semesta menempatkanku di periode hidup yang sama denganmu.
Di sini. Sekarang. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Komentar
Posting Komentar