Maka buku pun ditutup. Halaman terakhir telah dilampaui. Ada semacam kepuasan yang ganjil, seakan sebuah wilayah telah ditaklukkan, sebuah puncak telah didaki. Sampulnya kita elus, mungkin, lalu kita tegakkan di rak, menjadi monumen kecil dari sebuah perjalanan intelektual. Selesai. Satu lagi piala dalam etalase pikiran. Tapi benarkah perjalanan itu selesai di sana? Benarkah tanda kemenangan itu adalah ketika tak ada lagi halaman tersisa untuk dibalik? Saya kira tidak. Saya kira kita telah salah memahami esensi dari petualangan paling personal ini. Bagian terpenting dari membaca buku bukan saat kita merampungkannya hingga halaman terakhir, bukan pada napas lega karena sebuah kewajiban telah lunas. Bukan. Momen krusial itu tidak ditandai oleh bunyi sampul yang tertutup, melainkan oleh sebuah ledakan sunyi di dalam diri. Sebuah momen hening yang memekakkan, saat muncul satu kesadaran utuh: bahwa kita masih bodoh. Ya, bodoh. Bukan dalam artian hina, melainkan dalam maknanya yang paling mu...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"