Sebuah
pertanyaan, barangkali, tak perlu selalu jawaban. Ia bisa menjadi ruang itu
sendiri. Seperti senja yang menggantung di atas atap Gedung Fakultas
Ushuluddin, Adab, dan Dakwah di kampus UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Warna jingganya sore sama saja seperti senja di tempat lain, tapi udara yang
diembuskannya terasa berbeda. Ada bau kertas fotokopian yang belum kering benar,
bercampur dengan aroma kretek yang terbakar lambat di sela jemari, dan tawa.
Selalu ada tawa yang pecah dari sebuah ruangan di ujung koridor. Ruangan yang
pintunya lebih sering terbuka daripada tertutup. Basecamp Himpunan Mahasiswa
Program Studi Psikologi Islam.
Orang-orang datang dan pergi.
Wajah-wajah baru datang dengan mata berbinar, penuh harap dan segudang teori
dari buku pengantar psikologi. Wajah-wajah lama menyambut dengan senyum lelah,
kantung mata yang menghitam karena rapat semalam suntuk, namun dengan tatapan
yang seolah berkata: "Selamat datang, ini neraka sekaligus surga
pertamamu."
Dan di tengah riuh rendah itu, di
antara tumpukan proposal kegiatan dan spanduk bekas acara, sebuah melodi samar
seolah selalu mengalun. Mungkin dari ponsel butut seorang anggota, mungkin
hanya getarannya yang tersisa di dinding-dinding kusam itu. Sebuah lagu lama.
Lagu dari zaman ketika para ayah mereka masih berambut gondrong dan bercelana
cutbray.
Hanya bilik bambu,
tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa
lukisan
Beratap jerami,
beralaskan tanah
Basecamp
itu. Mari kita sebut ia begitu. Ia bukan bilik bambu, tentu saja. Dindingnya bata merah
yang dicat kuning, meski di beberapa bagian catnya sudah mengelupas seperti
kulit ular yang berganti rupa, memperlihatkan semen abu-abu di baliknya. Tak
ada hiasan mahakarya atau lukisan cat minyak dari pelukis ternama. Yang ada
hanya poster-poster seminar yang warnanya mulai pudar, sisa-sisa properti dari
acara makrab tahun lalu, dan sebuah papan tulis putih yang selalu penuh dengan
coretan-coretan acak: diagram konsep acara, daftar nama panitia, hingga
gambar-gambar iseng yang lahir dari kebosanan di sela rapat.
Atapnya bukan jerami, melainkan plafon
eternit dengan noda-noda rembesan air hujan musim lalu, membentuk peta
kepulauan yang tak akan pernah ditemukan di atlas mana pun. Dan lantainya,
lantai keramik putih yang entah kapan terakhir kali melihat warna aslinya.
Selalu ada jejak sepatu, remah-remah biskuit, dan terkadang, tumpahan kopi yang
dibiarkan mengering menjadi prasasti dari sebuah malam yang panjang.
Inilah tempatnya. Sederhana. Jauh dari
kemewahan. Jauh dari citra sebuah lembaga akademis yang steril dan megah.
Namun, di antara kesederhanaan yang nyaris telanjang itu, ada sebuah proklamasi
yang diucapkan tanpa suara, sebuah kepemilikan yang dirasakan hingga ke sumsum
tulang.
Namun semua ini
punya kita
Memang semua ini
milik kita, sendiri
Kata "kita" menjadi mantra.
Bukan "aku" atau "kamu". Bukan milik ketua himpunan, bukan
milik para demisioner yang sesekali datang untuk bernostalgia. Ia adalah milik
bersama. Milik mahasiswa tingkat pertama yang masih malu-malu bertanya, hingga
milik mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang dengan bab empat skripsinya
tapi masih menyempatkan diri untuk sekadar menumpang mengisi daya ponsel sambil
mengomentari rencana program kerja juniornya.
Milik kita. Dua kata itu menjadi
jangkar. Di tengah lautan teori-teori besar—Freud, Jung, Al-Ghazali, Ibnu
Qayyim—di tengah kebingungan eksistensial menjadi mahasiswa, di sinilah mereka
menemukan sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa disentuh, dirasakan, bahkan
dimaki ketika rapat tak kunjung usai. Proposal yang ditolak dosen, dana yang
tak kunjung cair, konflik antar panitia yang lebih rumit dari teori disonansi
kognitif. Semua itu adalah masalah "kita". Dan dalam kepemilikan
kolektif atas masalah itulah, kehangatan justru lahir. Seperti api unggun yang
dinyalakan dari ranting-ranting kering kekecewaan.
Di sinilah Psikologi Islam berhenti
menjadi sekadar teks dalam silabus. Ia menjadi laku. Bagaimana mengelola ego (nafs
al-ammarah) ketika pendapatmu dipatahkan dalam forum? Bagaimana membangun
empati (ta'aruf dan tafahum) pada anggota lain yang sedang
tertimpa masalah pribadi? Bagaimana
menjaga amanah (amanah) ketika dipercaya memegang selembar kuitansi?
Tempat ini adalah laboratorium jiwa. Sebuah bengkel hati tempat semua orang
datang dengan "kerusakan" masing-masing dan belajar menjadi mekanik
bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Dan rumah ini, pagarnya terbuat dari
apa? Dindingnya mungkin bata merah, tapi batasnya, ruang personalnya, terbuat
dari sesuatu yang lebih organik, lebih rapuh, sekaligus lebih kuat.
Hanya alang-alang
pagar rumah kita
Tanpa anyelir,
tanpa melati
Hanya bunga bakung
tumbuh di halaman
Tak ada gerbang besi yang megah. Tak
ada aturan kaku yang ditulis di atas marmer. Pagarnya hanyalah alang-alang.
Kesepakatan tak tertulis. Rasa sungkan dan saling menghargai. Sebuah batas
imajiner antara kehidupan pribadi dan urusan organisasi yang seringkali kabur
dan saling menerobos. Alang-alang itu lentur. Ia bisa diterobos angin,
membiarkan cahaya masuk, namun tetap menandai sebuah batas wilayah. Wilayah
yang mereka sebut rumah.
Di tamannya, jangan cari anyelir atau
melati yang wangi dan tertata rapi. Tak ada. Yang ada hanyalah hanya bunga
bakung tumbuh di halaman. Itulah mereka. Para mahasiswa itu. Bukan bibit-bibit
unggul yang ditanam di pot-pot porselen. Mereka adalah bunga-bunga liar. Tumbuh
di celah-celah bebatuan, di tanah yang mungkin tak subur. Ada yang mekar dengan
warna cemerlang, ada yang tumbuh meninggi tapi tak berbunga, ada yang merayap
menutupi tanah gersang.
Setiap
individu adalah bunga bakung itu atau malah dapat kita sebut mereka adalah
rumput liar. Dengan keunikannya, dengan keliarannya. Ada si jago
desain grafis yang belajar otodidak dari YouTube. Ada si orator ulung yang
gagap jika harus berbicara tentang perasaannya sendiri. Ada si bendahara yang
pelitnya minta ampun untuk urusan proker, tapi paling dermawan jika ada
temannya yang belum makan. Ada si paling agamis yang selalu tenang di tengah
rapat paling panas sekalipun, mengutip entah ayat apa untuk mendinginkan
suasana.
Mereka tumbuh bersama, liar, tak
seragam. Dan justru dalam keliaran itulah keindahan ditemukan. HMPS Psikologi
Islam tidak mencoba mencetak mereka menjadi anyelir atau melati yang seragam.
Organisasi ini menjadi tanah gembur sekaligus angin yang meniupkan benih-benih
itu, membiarkan mereka tumbuh sesuai kodratnya. Proses bertumbuh. Itulah kata
kuncinya. Bukan hasil akhir. Bukan piala atau piagam penghargaan yang dipajang.
Melainkan proses berdarah-darah di baliknya.
Proses meyakinkan seorang narasumber
untuk datang ke seminar. Proses begadang semalaman hanya untuk memastikan sound
system berfungsi esok hari. Proses menelan kekecewaan ketika jumlah peserta
tak sesuai harapan. Proses belajar memaafkan kesalahan teman, dan yang lebih
sulit, memaafkan kesalahan diri sendiri. Inilah bunga rumput yang tumbuh dari
tanah berjerami dan berpagar alang-alang.
Namun semua itu
punya kita
Memang semua itu
milik kita, sendiri
Lagi-lagi, penegasan itu. Kepemilikan
atas keliaran. Kepemilikan atas ketidaksempurnaan. Bunga bakung itu, dengan
segala kesederhanaannya, adalah milik kita. Bukan milik kurikulum. Bukan milik
rektorat. Milik kita. Kebanggaan yang lahir bukan dari kesempurnaan, melainkan
dari perjuangan menjadi.
Lalu, waktu berjalan. Seperti air sungai yang mengalir tanpa henti di barat kota
Tulungagung. Semester
berganti semester. Wajah-wajah baru terus datang, wajah-wajah lama mulai sampai
di persimpangan jalan. Skripsi selesai. Yudisium di depan mata. Sebuah
pertanyaan baru yang lebih besar dan menakutkan mulai menggema di kepala
mereka, para bunga rumput yang telah matang.
Haruskah kita
beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya?
"Kota"
itu adalah metafora. Dunia setelah wisuda. Jakarta, Malang, Surabaya,
atau kota-kota besar lainnya. Kantor-kantor berkaca dengan pendingin udara yang
menusuk tulang. Gaji dengan digit yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Panggilan "Bapak" atau "Ibu" dari bawahan. Kehidupan yang
teratur dari jam sembilan pagi hingga lima sore. Gemerlap lampu, janji-janji
kesuksesan, jenjang karier yang jelas. Dunia profesional.
Tawaran itu menggiurkan. Tentu saja.
Siapa yang tak ingin hidup nyaman? Siapa yang tak ingin membanggakan orang tua
dengan slip gaji? Godaan untuk meninggalkan rumah tembok bata warna kuning ini
begitu kuat. Meninggalkan rapat hingga larut malam yang hanya dibayar dengan
sebungkus nasi goreng patungan. Meninggalkan perdebatan tak berujung tentang
makna self-concept dalam perspektif tasawuf. Meninggalkan kehangatan
sederhana dari secangkir kopi yang dibuatkan oleh seorang sahabat.
Pertanyaan
itu menjadi pergulatan batin. Apakah semua yang telah dijalani di sini—semua
proses, semua pertumbuhan liar itu—hanya sebuah fase transisi yang harus segera
ditinggalkan demi gemerlap yang lebih nyata? Apakah rumah ini harus dibongkar
dan dilupakan?
Dan
di tengah kebimbangan itu, di antara lamunan menatap masa depan yang berkilauan
sekaligus asing, jawaban itu datang. Bukan dari akal, bukan dari kalkulasi
untung-rugi. Jawaban itu datang dari hati. Dari sebuah tempat di dalam diri
yang telah dibentuk dan ditempa di dalam basecamp yang pengap itu.
Lebih baik di sini,
rumah kita sendiri
Segala nikmat dan
anugerah Yang Kuasa
Semuanya ada di
sini
Rumah kita
Bukan. Jawabannya bukan berarti
menolak kemajuan atau menolak untuk lulus dan bekerja. Bukan penolakan terhadap
kota yang gemerlap. Melainkan sebuah kesadaran. Sebuah pencerahan. Bahwa esensi
dari "rumah" itu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh gemerlap apa
pun. Bahwa nilai-nilai yang telah terinternalisasi di sini—rasa memiliki,
kehangatan persaudaraan, keberanian untuk menjadi bunga rumput yang liar,
penghargaan terhadap proses—adalah bekal yang sesungguhnya.
"Lebih baik di sini," bukan
berarti secara fisik harus selamanya tinggal di basecamp itu. Tetapi "di
sini" sebagai sebuah kondisi mental. Sebuah keadaan hati. Di mana pun
mereka berada nantinya, di gedung pencakar langit daerah ibu kota atau di
sebuah desa terpencil membuka praktik konseling, mereka akan selalu membawa
"rumah" itu di dalam diri mereka.
Segala nikmat dan
anugerah Yang Kuasa, semuanya ada di sini.
Nikmat itu bukan materi. Anugerah itu
bukan jabatan. Nikmatnya adalah menemukan sahabat yang menjadi keluarga.
Anugerahnya adalah kesempatan untuk gagal dan belajar bangkit lagi di tempat
yang aman. Anugerahnya adalah memahami bahwa inti dari Psikologi Islam bukanlah
menghafal dalil, melainkan merasakannya dalam interaksi antarmanusia, dalam
kesabaran, dalam keikhlasan.
Semuanya ada di sini. Di dalam ingatan
tentang tawa yang pecah di tengah malam. Di dalam bekas noda kopi di lantai. Di
dalam kehangatan punggung seorang kawan yang menepukmu saat kau merasa lelah.
Di dalam keberanian untuk menjadi berbeda, menjadi bunga bakung di antara
taman-taman anyelir.
Maka, senja di pelataran Fakultas
Ushuluddin, Adab, dan Dakwah itu terus turun. Wajah-wajah baru akan terus
datang, dan wajah-wajah lama akan pergi, membawa "rumah" itu di dalam
ransel kehidupan mereka. Dan dari rumah yang disebut basecamp itu, yang
pintunya selalu terbuka, gema itu akan terus ada. Gema dari sebuah lagu usang,
gema dari sebuah kesadaran mendalam.
Ini bukan sekadar himpunan mahasiswa.
Ini bukan sekadar organisasi.
Ini adalah tempat di mana jiwa-jiwa
belajar pulang.
Rumah kita...
Komentar
Posting Komentar