Pak, apa kabar di sana? Pertanyaan bodoh, aku tahu. Langit mana yang harus kutatapan untuk menanti jawaban? Angin mana yang mesti kudengarkan untuk menangkap bisikmu? Ah, sudahlah. Di sini, waktu berjalan dengan biadab, Pak. Ia merayap, lalu berlari, meninggalkan kami dengan jejak memar di ingatan. Tanggal itu, 19 November 2014, adalah sebuah jangkar yang kau tebarkan di dasar samudra hidup kami. Hari itu kau memutuskan untuk pergi. Pergi begitu saja. Tanpa pamit yang layak, tanpa pesan terakhir yang bisa kami dekap saat rindu datang menikam. Aku sebelas tahun waktu itu. Lelaki kecil yang tiba-tiba dipaksa mengerti arti kehilangan, padahal yang ia tahu hanyalah cara melempar bola dan mengeja nama-nama pahlawan. Adik perempuanku, enam tahun, dengan tatapan beningnya yang tak mengerti mengapa rumah mendadak senyap. Dan si bungsu, dua tahun, batita yang mungkin hanya mengingatmu sebagai aroma samar yang pernah singgah lalu lenyap selamanya. Kau tahu, Pak, aku seringkali ingin memaki? Aku ...