Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Benteng Sunyi di Kepala

Mungkin inilah takdirnya. Mungkin selamanya aku akan dikutuk untuk menjadi sendirian di alam pikiranku. Terpenjara di dalam sebuah benteng tanpa jendela, istana tanpa pintu, yang anehnya, oleh para filsuf dari Plato hingga Sartre, justru disebut sebagai tempat teraman. Tempat satu-satunya untuk menjadi bebas, sebebas-bebasnya. Sebuah ironi yang bergaung dalam sunyi. Kebebasan yang lahir dari keterasingan mutlak. Alam pikiran. Ia bukan sekadar ruang kosong di balik tempurung kepala. Ia adalah sebuah kota yang tak pernah tidur, sebuah belantara yang rimbun dengan ingatan, sebuah samudra yang dalamnya tak terduga. Dengan atau tanpa konsep yang kita sadari, ia menawarkan lapisan-lapisan kesadaran yang membentang seperti geologi waktu. Ada lapisan permukaan, tempat kita berbincang tentang cuaca dan harga-harga, tempat logika sehari-hari menjadi raja. Di bawahnya, ada lapisan keraguan, harapan, dan ketakutan—kabut emosi yang mewarnai setiap keputusan. Terus menyelam lebih dalam, kita temukan...

Naskah Tentang Dusta yang Manis

Barangkali, memang beginilah takdir kata-kata: menjadi tempat persembunyian. Dan barangkali, bahagia hanyalah dusta paling manis yang pernah diciptakan manusia melalui kata-kata itu. Ia tidak tinggal di denyut nadi atau detak jantung; ia mengendap di pelupuk imajinasi, menjadi endapan bisu di antara aksara yang tak pernah sepenuhnya jujur. Di hadapan halaman putih yang membentang—sebuah semesta tanpa memori—aku adalah tuhan kecil yang berkuasa. Di atas kertas, aku bebas menciptakan pagi yang tidak getir, meracik secangkir kopi yang hangatnya tidak pura-pura, dan melukis matahari yang sinarnya sanggup menyentuh hati yang tidak pernah ditinggalkan. Semua itu adalah karangan. Sebuah fiksi yang telanjang, namun dengan lancang kuberi nama kenyataan. Maka kutulis tentang bahagia. Bukan karena kurasa, melainkan karena ia adalah satu-satunya perlawanan yang kumiliki terhadap sunyi. Apa yang kusebut sebagai "bahagia" dalam sajak-sajakku, sesungguhnya adalah permenungan panjang tentang...

Catatan Rahasia Tentang Cinta yang Menjadi Kita

Kekasihku, Pernahkah kau bertanya-tanya, mengapa dari semua waktu yang terhampar dalam sehari, kita selalu memilih senja sebagai altar bagi perasaan kita? Mungkin kau tak pernah menanyakannya, sebab kau, sama sepertiku, hanya merasakannya. Kau dan aku, kita adalah dua musafir yang selalu menemukan jalan pulang pada pendar jingga yang sama, pada keheningan yang fasih berbicara lebih dari ribuan kata. Di senja yang merajut kisah asmara, cinta kita adalah perenungan terhadap keindahan yang tak terlukiskan, sebuah puisi tanpa kata yang mempesona di balik samar cahaya. Aku mencoba menuliskannya untukmu, lagi dan lagi, namun setiap aksara yang kutorehkan terasa seperti penghinaan terhadap kesempurnaannya. Bagaimana mungkin tinta merangkum cara langit memerah malu saat matahari mencium cakrawala? Bagaimana mungkin ejaan menangkap gradasi ungu yang perlahan menyelinap di antara awan-awan kelabu, seperti rindu yang menyusup tanpa permisi ke dalam kalbu? Maka aku berhenti menulis. Aku hanya meng...

Romansa Percikan Cahaya

Orang-orang bilang, jangan meromantisasi hidup. Hidup itu keras, kata mereka, penuh taring dan keringat yang asin. Hidup adalah tagihan yang harus dibayar, kereta yang harus dikejar, dan mimpi yang remuk sebelum sempat mekar. Mereka benar. Tentu saja mereka benar. Tapi apakah hanya itu? Apakah hidup hanya sebatas transaksi dan perjuangan? Lalu bagaimana kita akan menamai pagi? Ketika embun, dengan kelembutan yang tak terucap, memeluk helai-helai daun seolah itu adalah pertemuan terakhir mereka sebelum sang mentari datang menjemput. Itu bukan sekadar fisika, bukan sekadar kondensasi. Itu adalah surat cinta semalam suntuk dari langit kepada bumi, ditulis dalam aksara bening yang hanya bisa dibaca oleh keheningan. Sebuah janji bahwa bahkan setelah kegelapan terpekat sekalipun, akan selalu ada kesejukan yang membasuh. Bukankah itu sebuah romansa? Lihatlah mentari. Ia terbit tanpa pernah bertanya siapa yang layak atau tidak layak menerima hangatnya. Sinarnya adalah pelukan yang tak pandang ...

Sajak yang Sedang Memahamimu

Kenangan, agaknya, selalu dipeluk oleh lengan yang teramat panjang. Lengan itu tak kasatmata, merentang dari masa lalu yang paling senyap, melintasi hari ini yang riuh oleh ketiadaanmu, dan menjulur entah sampai kapan. Lengan itu memelukku—atau barangkali mencekikku, aku tak pernah benar-benar yakin—dan dari sela-sela jarinya yang renggang, ia menabur beberapa serpihan tentang dirimu. Serpihan itu jatuh seperti abu kremasi yang paling puitis: sepotong kisah yang kau ceritakan di bawah lampu jalan yang kuning, sebentuk senyummu yang terbit sepersekian detik lebih cepat dari mentari, lalu lenyap. Aku memungutinya satu per satu, menyusunnya menjadi mozaik wajahmu di dasar batinku yang paling palung. Dan waktu berjalan bukan sebagai garis lurus, melainkan sebagai warna yang luruh di cakrawala. Lihatlah, langit telah berganti menjadi ungu. Warna para duda dan janda, warna para pecinta yang kehilangan. Di kamarku, kelambu yang lunglai memeluk jendela hangat, seolah ia adalah satu-satunya kek...

Memoar dalam Ruang Hening

Dan akhirnya, beginilah aku sekarang: kian dilumat oleh kehampaan tanpa pamrih, memilih lirih mendekap di ruang yang ku sebut kesepian. Ini bukan kekalahan, barangkali. Ini semacam gencatan senjata dengan riuh di kepala. Sebuah pilihan sadar untuk berhenti berlari dari bayang-bayang yang toh selalu lebih cepat satu langkah. Di sini, di dalam kungkungan empat dinding yang sama bisunya dengan gawaku, aku mulai belajar mengukur suhu sebelum kedinginan rindu. Sebuah termometer imajiner yang mengukur getar di urat nadi setiap kali namamu—atau sesuatu yang menyerupainya—melintas tanpa permisi. Gawai hening. Notifikasi yang dulu berdentang seperti lonceng pasar malam kini diam membatu. Tak ada lagi rentetan kata-kata tanpa spasi yang kau kirim tengah malam, tak ada emote lucu atau stiker-stiker bocil yang menjadi bahasa sandi kita. Keheningan digital ini lebih memekakkan daripada sirene ambulans. Kuota internet yang tersisa, yang dulu ludes untuk panggilan video kabur, kini habis oleh film-fi...

Surat Terbuka Kepada Ketiadaan

Pak, apa kabar di sana? Pertanyaan bodoh, aku tahu. Langit mana yang harus kutatapan untuk menanti jawaban? Angin mana yang mesti kudengarkan untuk menangkap bisikmu? Ah, sudahlah. Di sini, waktu berjalan dengan biadab, Pak. Ia merayap, lalu berlari, meninggalkan kami dengan jejak memar di ingatan. Tanggal itu, 19 November 2014, adalah sebuah jangkar yang kau tebarkan di dasar samudra hidup kami. Hari itu kau memutuskan untuk pergi. Pergi begitu saja. Tanpa pamit yang layak, tanpa pesan terakhir yang bisa kami dekap saat rindu datang menikam. Aku sebelas tahun waktu itu. Lelaki kecil yang tiba-tiba dipaksa mengerti arti kehilangan, padahal yang ia tahu hanyalah cara melempar bola dan mengeja nama-nama pahlawan. Adik perempuanku, enam tahun, dengan tatapan beningnya yang tak mengerti mengapa rumah mendadak senyap. Dan si bungsu, dua tahun, batita yang mungkin hanya mengingatmu sebagai aroma samar yang pernah singgah lalu lenyap selamanya. Kau tahu, Pak, aku seringkali ingin memaki? Aku ...

Seekor Kecoak di Dalam Kepala

Pada sebuah pagi, tanpa alasan yang jelas, engkau terbangun dari tidur yang gelisah dan mendapati dirimu terasa asing. Bukan, engkau tidak berubah menjadi serangga raksasa seperti Gregor Samsa dalam dongeng kelam Franz Kafka. Tubuhmu masih sama. Wajah di cermin masih wajah yang itu-itu saja. Namun, ada yang bergeser. Ada yang retak. Di dalam tempurung kepalamu, engkau merasa telah menjadi seekor kecoak. Asing, terpencil, dan tak lagi mengenali peran yang selama ini kau mainkan dengan begitu patuh. ​Perjalanan manusia, konon, adalah sebuah ziarah panjang. Sebuah narasi agung dari buaian hingga liang lahad, diisi dengan tawa dan tangis, kemenangan dan kekalahan. Kita diajari untuk percaya pada alur yang lurus: sekolah, bekerja, menikah, punya anak, lalu mati dengan tenang. Sebuah skenario yang rapi. Tapi Kafka, melalui Gregor Samsa, membisikkan kebenaran yang lebih getir: perjalanan ini sering kali adalah sebuah komedi absurd yang ditulis oleh seorang penulis gila. ​Gregor Samsa adalah...

Opera Beton Badut Kayu

Ada segelas badai. Mengamuk. Bukan di samudra, bukan di langit pekat yang siap menumpahkan amarahnya. Badai itu terkunci rapat. Dalam selaput tipis karet berwarna merah jambu. Sebuah balon. Balon itu dipegang badut. Tangannya yang bersarung putih menggenggamnya erat, seolah menggenggam nasibnya sendiri. Atau nasib dunia. Siapa yang bisa membedakannya? Ia tertawa. Tentu saja ia tertawa. Mulutnya dilukis begitu. Garis merah membentuk sabit permanen yang tak bisa ditawar-tawar. Ia tak pasang raut cemberut. Itu bukan tugasnya. Tugasnya adalah menelan badai itu utuh-utuh, menyimpannya di balik iga, lalu menyajikan senyum palsu sebagai hidangan utama. Ia coba menghibur. Lengan bajunya yang kebesaran melambai-lambai, sepatunya yang seperti kapal karam berdecit-decit di atas panggung kehidupan yang licin. Tapi di balik setiap gerak jenaka, ada getar yang lain. Ia coba kabur. Kabur dari badai di tangannya, kabur dari topeng di wajahnya, kabur dari dirinya sendiri yang sudah tak ia kenali. Di su...

Surat yang Tak Pernah Sampai untuk Bapak

Selepas Bapak pergi—bukan dalam sebuah perjalanan yang menjanjikan kepulangan, melainkan perjalanan sunyi menuju keabadian—dunia kami seakan-akan kehilangan warna. Langit tetap biru, tetapi biru yang pucat. Hujan tetap turun, tetapi setiap tetesnya serasa menggores luka. Rumah menjadi ruang tunggu yang tak berkesudahan, diisi oleh gema langkah kaki yang tak akan pernah kembali dan bayang-bayang di kursi kosong tempat ia biasa membaca koran pagi. Dan Ibu. Aku melihatnya menjadi perempuan baja di siang hari. Tangannya yang dulu lembut kini mengeras, beradu dengan apa saja yang bisa ditukar dengan sebungkus nasi dan buku-buku kami yang harus tetap terbuka. Ia adalah nahkoda di sebuah kapal ringkih yang dihantam badai setiap hari. Senyumnya adalah layar terkembang yang dipaksakan, agar kami, anak-anaknya, tidak melihat betapa dalamnya jurang ketakutan di matanya. Ia adalah panglima perang yang bertempur sendirian di medan laga bernama kehidupan. Namun, malam hari adalah cerita yang lain. M...

Mantra Kala Macet dan Puisi yang Menjelma Kura-kura

Maka, biarkanlah puisi bekerja selayak dedengkot. Selayaknya jagoan tua yang tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi, tanpa perlu diundang. Ia tak menggedor pintu di siang bolong, tak pula berteriak di tengah riuh pasar. Ia menyelinap, mengusik tidur pulasmu atau menyela lamunanmu di antara rapat-rapat dewan direksi yang membosankan. Sebab ia, seperti yang selalu orang bilang, adalah mantra. Dan mantra tidak bekerja seperti titah seorang raja yang minta dipatuhi saat itu juga. Mantra adalah bisikan yang sengaja ditinggalkan di telinga, untuk kemudian kau temukan gemanya nanti. Kapan nanti itu? Nanti adalah ketika klakson-klakson di jalanan protokol menjelma paduan suara paling sumbang pada Sabtu malam. Ketika lampu merah terasa lebih lama dari penantian sebuah janji. Di tengah deru kencang angin-angin kemacetan itulah, di dalam kaleng berjalanmu yang terkunci rapat, sebaris kata yang pernah kau baca sambil lalu tiba-tiba melompat ke depan, menuntut perhatian. Aku, kau nyaman dala...

Altar Kecil di Tikungan Malam

Malam merayap turun, bukan dengan gegas, melainkan dengan semacam keengganan yang khusyuk, seolah ia pun tahu ada sudut-sudut kota yang tak ingin ia ganggu tidurnya. Dan di salah satu tikungan itu, di bawah pendar lampu jalan yang lebih mirip kunang-kunang lelah, sebuah gerobak berdiri seperti monumen bagi segala yang tak terucapkan. Inilah warung angkringan itu. Malam ini, aku percaya, ia bukan sekadar tempat berjual-beli nasi kucing dan sate usus. Malam ini, dan mungkin malam-malam lainnya, ia adalah sebuah altar. Altar kecil bagi kerinduan. ​Lihatlah bagaimana penjualnya bergerak. Tangannya lincah, tetapi tidak terburu-buru, saat membakar sate di atas anglo yang baranya menyala redup. Asapnya membubung, tipis dan wangi, membawa aroma arang dan bumbu yang terbakar menjadi semacam dupa yang menenangkan udara. Orang-orang duduk berimpitan di bangku kayu panjang, bahu bertemu bahu, tetapi tatapan mereka sering kali kosong, menembus kepulan uap dari gelas-gelas teh jahe panas. Seolah-ola...

Manusia yang Menolak Berhenti

Ada sebuah titik. Sebuah kamar yang udaranya pengap oleh napas yang terlalu sering dihela. Dindingnya adalah arsip penolakan yang tak kasatmata. Lantainya adalah peta dari langkah-langkah yang berputar di tempat yang sama. Di titik itu, nama tengah setiap orang adalah: Gagal. Lihatlah mereka hari ini. Yang berdiri di atas panggung, dengan cahaya lampu menyorot wajah. Yang namanya tercetak di sampul buku, di judul film, di papan nama sebuah perusahaan yang menaungi ratusan perut. Yang tangannya menggenggam piala, atau menggenggam tangan lain yang dulu terasa mustahil untuk digapai. Lihatlah mereka. Dan jangan percaya begitu saja pada kilapnya. Sebab kilap itu ditempa dalam gelap. Barangkali, dulu sekali, orang yang hari ini kau sebut CEO itu pernah duduk di lantai kamar kosnya yang sempit. Menatap mi instan terakhir untuk bekal seminggu, sementara proposal bisnisnya dilempar ke tumpukan sampah oleh investor ke sekian. Malam itu, semesta seperti berbisik di telinganya, ”Sudah, hentikan s...

Tirai Hujan, Kekayaan yang Membinasakan

Hujan. Selalu hujan saat imaji itu datang. Mungkin yang maha cinta mendatangkan imaji ini bukan tanpa sebab. Ia datang seperti bisik paling purba, merayap di sela-sela bunyi air yang menghantam seng dan membasahi tanah. Ia datang saat aku merasa segalanya telah selesai, saat gairah menjadi fosil dan harapan tak lebih dari memorabilia usang di dalam laci. Aku telah tumpul di berbagai arah. Kau tahu, rasa tumpul itu? Bukan seperti pisau yang tak lagi tajam. Bukan. Ini lebih mirip kompas yang jarumnya berputar liar tanpa pernah menunjuk utara. Arah menjadi ilusi. Timur, barat, selatan—semuanya hanya konsep geografis yang tak punya arti bagi jiwa yang kehilangan magnetnya. Aku berjalan, tetapi hanya menggeser tubuh di atas bumi. Aku melihat, tetapi retina hanya menangkap berkas cahaya tanpa makna. Aku mendengar, tetapi gendang telinga hanya merekam getaran suara tanpa pesan. Tumpul. Kata yang begitu sempurna untuk menggambarkan kekosongan yang bergaung. Yaa Rabb, Yaa Habibati. Dalam ketump...

Soal Taktik dan Mental di Simpang Jalan

Purnama datang dan pergi, seperti juga ideologi di kepala seorang kawan. Kami duduk di sebuah warung yang remang, di kota yang tak pernah benar-benar tidur, ditemani kopi yang mulai mendingin dan asap rokok yang menari-nari seperti hantu keraguan. Sekian purnama kami tak bertemu. Dulu, ia lantang meneriakkan Marx, mengklaim dirinya seorang merah sejati. Malam itu, dengan sorot mata yang berbeda, ia berbisik—sebuah pengakuan yang lebih terdengar seperti konspirasi daripada pernyataan. "Aku sekarang tertarik dengan kerja-kerja taktisnya item," katanya. Item. Hitam. Anarkisme. Udara di antara kami seketika terasa lebih padat. Aroma insureksi yang samar tercium, menggantikan aroma Marxisme-Leninisme yang dulu begitu kental menguar dari setiap kalimatnya. Dan seperti seorang interogator yang menemukan celah, rentetan pertanyaan meluncur dari mulutku, dingin dan tajam, tanpa bisa kutahan. "Gimana?" Aku mencondongkan badan. "Masih adakah kawan-kawan yang memakai dikot...