Pak, apa kabar di sana? Pertanyaan bodoh, aku tahu. Langit mana yang harus kutatapan untuk menanti jawaban? Angin mana yang mesti kudengarkan untuk menangkap bisikmu? Ah, sudahlah. Di sini, waktu berjalan dengan biadab, Pak. Ia merayap, lalu berlari, meninggalkan kami dengan jejak memar di ingatan.
Tanggal itu, 19 November 2014, adalah sebuah jangkar yang kau tebarkan di dasar samudra hidup kami. Hari itu kau memutuskan untuk pergi. Pergi begitu saja. Tanpa pamit yang layak, tanpa pesan terakhir yang bisa kami dekap saat rindu datang menikam. Aku sebelas tahun waktu itu. Lelaki kecil yang tiba-tiba dipaksa mengerti arti kehilangan, padahal yang ia tahu hanyalah cara melempar bola dan mengeja nama-nama pahlawan. Adik perempuanku, enam tahun, dengan tatapan beningnya yang tak mengerti mengapa rumah mendadak senyap. Dan si bungsu, dua tahun, batita yang mungkin hanya mengingatmu sebagai aroma samar yang pernah singgah lalu lenyap selamanya.
Kau tahu, Pak, aku seringkali ingin memaki?
Aku ingin mengutuk hari itu, mengutuk takdir, dan mungkin, ya, mungkin aku ingin mengutukmu. Kenapa kau pergi? Kenapa kau begitu tega meninggalkan kami di tengah badai? Aku tumbuh besar dengan rasa iri yang bebal, Pak. Aku melihat teman-temanku, bahu mereka ditepuk oleh tangan-tangan gagah bapaknya. Aku mendengar tawa mereka yang renyah, beradu dengan suara bariton seorang ayah yang melemparkan lelucon basi. Aku melihat mereka bergurau, bertengkar kecil, lalu berdamai dalam sebuah pelukan canggung khas lelaki. Dan aku? Aku hanya bisa menelan ludah, memendam sebuah lubang hitam di dada yang bernama "andai saja". Andai saja kau di sini.
Maka, maafkan aku jika aku membencimu sesaat. Aku benci karena kau membuat kami lupa. Kami sudah lupa, Pak. Sumpah, kami sudah lupa bagaimana timbre suaramu saat memanggil nama kami. Apakah berat? Apakah serak di pagi hari? Apakah meninggi saat marah? Kami tidak tahu. Wajah terakhirmu di benakku kini hanyalah sebuah sketsa usang, lukisan cat minyak yang luntur ditimpa hujan air mata dan gerusan waktu. Hangat dekapanmu? Ah, itu kemewahan yang tak sanggup lagi kami ingat. Kami hanya bisa mereka-reka, meminjam kehangatan dari selimut atau secangkir teh panas di pagi buta. Kau telah menjadi fiksi dalam cerita hidup kami sendiri.
Tapi di tengah makian ini, di antara segala sumpah serapah yang ingin kuhamburkan ke langit kosong, ada satu hal yang mesti kau tahu. Ibu. Wanita yang kau tinggalkan dengan tiga beban di pundaknya itu. Ia tidak rubuh, Pak.
Ia jatuh, tentu saja. Berkali-kali. Kami melihatnya menangis diam-diam di sudut dapur saat mengira kami sudah terlelap. Kami merasakan getar di tangannya saat ia menghitung sisa uang belanja. Ia jatuh, lalu ia bangun lagi. Punggungnya yang ringkih menjelma menjadi baja. Tangannya yang lembut belajar menjadi palu godam yang menghancurkan segala rintangan. Ibu menjadi bapak sekaligus ibu. Menjadi nakhoda kapal oleng yang kau tinggalkan di tengah lautan. Ia menambal layar yang robek dengan benang kesabaran, menguras air yang masuk ke geladak dengan tempurung tekadnya. Ia yang memastikan kami tetap punya nasi untuk dimakan, seragam untuk dipakai, dan buku untuk dibaca. Ia yang mengantarku hingga gerbang kuliah, mengantar adikku hingga gerbang SMA, dan menuntun si bungsu hingga ia kini duduk di bangku SMP.
Kami tumbuh di dalam rahim perjuangannya, ditempa oleh api pengorbanannya.
Jadi, Pak, untuk semua itu, aku harus berterima kasih padamu.
Ya, kau tidak salah dengar. Terima kasih. Terima kasih telah pergi. Terima kasih telah meninggalkan kami. Karena dalam ketiadaanmu, kami menemukan kekuatan yang tak pernah kami duga. Dalam lubang yang kau tinggalkan, kami belajar saling mengisi, saling berpegangan tangan lebih erat. Kepergianmu memaksa Ibu menjadi pahlawan super, dan memaksa kami untuk dewasa sebelum waktunya. Kami menjadi tiga serangkai yang lebih solid dari beton, dengan Ibu sebagai perekatnya.
Kami tidak akan menjadi kami yang sekarang jika kau masih ada. Mungkin kami akan menjadi anak-anak manja yang berlindung di balik bayanganmu. Mungkin kami tidak akan pernah tahu seberapa kuatnya Ibu. Mungkin kami tidak akan pernah mengerti arti perjuangan yang sesungguhnya.
Ketiadaanmu adalah pelajaran paling pahit, sekaligus paling berharga. Jadi, tidurlah yang tenang di sana. Jangan khawatirkan kami. Kami baik-baik saja. Kami ditempa oleh ketiadaanmu. Dan untuk itu, sekali lagi, terima kasih telah meninggalkan kami.
Komentar
Posting Komentar