Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Peron Sunyi, Wajah-Wajah yang Pergi

Hidup adalah sebuah peron stasiun yang tak pernah tidur. Selalu ada kereta yang datang, selalu ada kereta yang pergi. Kau berdiri di sana, di antara deru dan decit roda besi, di antara pengumuman dari pengeras suara yang parau. Kau menatap wajah-wajah. Ribuan wajah. Jutaan wajah. Dan kau tahu, jauh di dalam sumsum tulangmu, ini semua tentang seleksi. Sebuah proses eliminasi tanpa juri dan tanpa panggung. Kadang, kau yang terseleksi. Disingkirkan. Dilupakan. Namamu pernah menjadi lagu yang dinyanyikan setiap pagi. Kini, bahkan nadanya pun tak diingat lagi. Wajahmu pernah menjadi satu-satunya pemandangan yang ingin dilihatnya saat membuka mata. Kini, wajahmu hanya selembar foto usang di dasar laci, tertimbun struk belanjaan dan tiket bioskop yang telah pudar warnanya. Mungkin sudah dibuang. Kau tak akan pernah tahu. Kau menjadi hantu di koridor ingatan seseorang. Gema tawa yang sesekali terdengar, tapi sumbernya tak lagi bisa dilacak. Kau adalah paragraf yang dihapus dari sebuah cerita, ...

Di Persimpangan Jalan Abu-abu

Di bilik jiwa yang paling sunyi, tak ada riuh yang menghakimi perasaan. Gembira, lara, benci, rindu—semua telanjang tanpa nama, mengalir laksana sungai bawah tanah sebelum dunia datang dengan kamus dan neracanya. Dunia selalu menuntut pilihan. Hitam atau putih? Kiri atau kanan? Malaikat atau iblis? Seolah-olah hidup adalah selembar kertas ujian dengan dua kolom jawaban, dan kita dipaksa melingkari salah satunya, padahal hati merasakan ribuan spektrum warna di antaranya. Maka, di sanalah manusia berdiri: terkekang di persimpangan jalan yang tak mengizinkannya berpihak. Kaki yang satu ingin melangkah ke altar suci para malaikat, dengan janji kebaikan abadi yang menenangkan. Namun, kaki yang lain terpikat pada bisikan iblis, pada pesona kekuasaan dan kepuasan fana yang begitu nyata dan mendesak. Manusia tidak memilih menjadi abu-abu; ia adalah abu-abu. Ia adalah kanvas tempat pertarungan itu terjadi, bukan hakimnya. Terjebak dalam paradoks, terantai oleh kodratnya sendiri untuk mengingin...

Perisai di Riuh Gelanggang

Riuh rendah terompet perang itu membahana, membelah udara yang pengap oleh debu dan anyir darah, dan di antara derap ribuan kuda yang memacu laksana gemuruh guntur, para ksatria itu melesat. Panji-panji mereka berkibar, warna-warni yang congkak di bawah tatapan matahari yang pucat, sementara gemerincing zirah baja menjadi musik pengiring bagi sebuah opera kematian yang dipentaskan setiap hari. Mereka adalah para penakluk, para pencari nama, para pemahat takdir yang percaya bahwa sejarah hanya akan ditulis oleh ujung pedang mereka yang tajam. ​Dan aku? Di tengah hiruk pikuk ambisi dan gelegar dendam itu, aku hanya berdiri. Kakiku menjejak tanah yang sama bergetarnya, mataku menatap pusaran baja dan daging yang sama liarnya, tetapi tanganku hanya menggenggam satu benda: sebilah perisai usang. ​Bukan perisai pemberian dewa, bukan pusaka warisan raja. Permukaannya tidak berkilau memantulkan wajah lawan untuk membuatnya gentar. Sebaliknya, ia kusam, penuh goresan yang saling bersilangan l...

Apel Merah di Atas Meja yang Terbelah

Maka dunia pun sepakat, di atas meja kayu yang sama, di bawah langit yang sama, dengan mata yang sama-sama memandang: apel itu merah. Sebuah kebenaran yang tak perlu dipertanyakan, sebuah fakta yang terbentang begitu saja di hadapan mata telanjang. Merah seperti senja yang pasrah, merah seperti darah yang tumpah dalam dongeng-dongeng kepahlawanan. Semua orang melihatnya, semua orang mengakuinya. Inilah jangkar pertama kita pada realitas, sebuah kesepakatan komunal yang nyaman. Apel itu merah, dan dalam kebenaran sederhana itu, kita merasa aman. Kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah persekutuan mata yang tak pernah salah. ​Identitas kita dirajut dari benang-benang merah itu. “Aku adalah orang yang tahu bahwa apel itu merah.” Dan karena semua orang di sekelilingku juga berkata demikian, maka duniaku kokoh, duniaku utuh. Kita membangun percakapan, lagu, bahkan mungkin peradaban di atas kepastian warna merah apel di atas meja. Kita bertukar pandang dan mengangguk...

Sebuah Pesta untuk Kematianku

Jika aku mati nanti, jangan kauberi aku sunyi. Jangan kauantarkan jasadku dengan langkah-langkah tertib yang berbisik. Jangan kaupasang wajah muram di tepi liang lahat, seolah-olah duka adalah satu-satunya mata uang yang laku untuk membayar utang perpisahan. Aku menolaknya. Aku menolak semua kesopanan yang getir itu. Sebab hidupku adalah sebuah kamar kosong yang dipenuhi gema. Dinding-dindingnya menyerap setiap kata yang tak pernah terucap, setiap tawa yang kutahan di tenggorokan, setiap keinginan untuk berlari ke tengah keramaian namun kaki terpaku oleh rantai tak kasatmata. Kesepian adalah teman lamaku. Ia tetangga yang paling setia, yang tak pernah absen mengetuk pintu bahkan ketika aku tak memintanya datang. Ia duduk di seberang meja makanku, menatapku dengan mata hampa, berbagi keheningan yang memekakkan. Maka, untuk sekali ini saja, untuk perayaan terakhir atas namaku, aku ingin pengkhianatan total terhadap keheningan. Aku ingin kematianku menjadi sebuah skandal. Sebuah gangguan ...

Di Bawah Ketapang, Luka Itu Bernama Cinta

Tanah ini menyimpan gema. Gema yang tak akan pernah bisa kau hapus, sekalipun kau bangun istana beton di atasnya, kau aspal jalan-jalan memorinya. Gema itu adalah langkah kaki Saidjah yang berlari gelisah di pematang sawah Banten, gema itu adalah bisik Adinda di bawah rindang ketapang, tempat janji diikat dengan kuntum melati dan hitungan bulan. ​Dengarlah. Tanah ini bicara. Ia bicara tentang kerbau. Bukan sekadar hewan penarik bajak, bukan. Kerbau bagi Saidjah adalah masa depan. Kerbau adalah Adinda dalam wujud mahar yang berjalan, harapan yang merumput, dan janji pernikahan yang bernapas. Tiga tahun, Saidjah merawatnya, mengelusnya, membisikkan nama Adinda pada tanduknya yang lengkung. Kerbau itu adalah jembatan menuju pelaminan.  ​Lalu, tangan kekuasaan datang. Tangan dengan lencana berkilau, namun berlumur lumpur keserakahan. Tangan Demang, tangan Bupati, tangan Asisten Residen—tangan-tangan yang seharusnya melindungi, justru menjadi perpanjangan dari mesin penghisap kolonial. ...

Orang Asing yang Paling Setia

​Malam. Aspal. Sepotong kota yang menggigil dalam tidurnya. Aku pernah berjalan sendirian di bawah lampu jalan yang redup, cahaya kuningnya seperti madu yang tumpah dan membeku di atas keheningan. Dan di sanalah ia: bayanganku sendiri, terentang di depanku, hitam pekat di atas abu-abu trotoar. Ia bukan sekadar pantulan gelap dari tubuhku. Malam itu, ia tampak seperti orang asing yang paling setia. ​Ia tak punya wajah, tak punya suara, tak punya kehendak. Tapi ia mengikuti. Setiap langkah kakiku adalah perintah baginya. Ketika aku berhenti, ia berhenti. Ketika aku ragu-ragu, ia membeku dalam keraguan yang sama. Sebuah duplikat bisu yang sempurna. Saat itulah aku mengerti, rindu seringkali tidak hadir dalam wujud wajah yang jelas di pelupuk mata, atau suara yang memanggil namamu dari kejauhan. Tidak. Rindu hadir seperti itu: sebuah kehadiran samar yang mengikuti tanpa bisa disentuh, sebuah kepastian yang tak berbentuk. ​Bayangan itu adalah bukti bahwa aku ada, di sini, di bawah tatapan l...

Surat di Ujung Penantian

Bu, ini aku. Anakmu yang masih saja berlari di tempat. Maaf. Kata itu terasa begitu kecil dan aus, tak sepadan dengan keluasan sabarmu yang membentang seluas langit malam. Aku mengucapkannya lagi, lirih, seperti bisik angin yang tersesat di antara gedung-gedung kota yang menjulang angkuh. Maaf, Bu, aku belum juga bisa mengulurkan lebih banyak bahagia ke dalam genggaman tanganmu yang keriputnya adalah peta dari setiap perjalananku. Lihatlah, Bu. Dunia berputar begitu cepat. Waktu adalah kereta ekspres yang tak pernah berhenti di peronku. Aku melihat mereka—teman-temanku, orang lain—telah punya sayap. Mereka terbang, menembus awan, menaklukkan cakrawala dengan kepak yang riuh dan penuh percaya diri. Sedang aku? Aku masih di sini. Dengan sepatu yang sama, di atas aspal yang sama, menatap jejak kaki yang berputar-putar di titik yang itu-itu saja. Maaf, karena aku masih mengeja langkah, sementara yang lain sudah menulis bab-bab kemenangan dalam buku hidupnya. Perjalanan ini, Bu, ternyata te...

Yang Abadi dalam Aksara

​Dengarlah, di antara jeda napas dan denting jam yang tak pernah lelah, aku sedang menulis. Bukan sekadar menulis. Aku sedang memahatmu dengan aksara, meniupkan napas pada setiap kata yang kelak akan menjadi dirimu di semesta yang lain. Semesta yang terbuat dari tinta dan kertas, dari kedip kursor di layar yang sunyi. Di sinilah, di dalam dunia yang kubangun dari ketiadaan ini, aku ingin memperkenalkanmu pada siapa pun yang tersesat di dalamnya. ​Aku ingin mereka mengenalimu. Bukan sebagai hantu dari masa laluku, bukan pula sebagai imaji yang lahir dari angan-angan seorang penulis yang kesepian. Tidak. Aku ingin memperkenalkanmu sebagai tokoh yang paling nyata, yang darahnya mengalir dalam setiap tanda baca, yang detak jantungnya menjadi ritme dari setiap paragraf. Kau akan hadir di sana, berjalan di antara kalimat-kalimat panjang yang mendeskripsikan senja, atau mungkin hanya duduk terdiam dalam satu kalimat pendek yang penuh makna. Kau akan menjadi memori di dalam hati manusia pembac...

Sebuah Nama di Ruang Dada

Matamu menyala. Dan malam seketika bukanlah lagi milik kelam, bukan lagi sekadar rentang waktu yang diukur oleh detak arloji yang lelah. Tidak. Malam adalah semesta yang baru lahir dari dua binar itu, tempat bintang-bintang di langit yang tadinya angkuh dan teratur, kini memilih untuk berserakan dalam kacau yang puitis. Mereka menabur cahaya bulan yang pucat, lalu seperti penonton yang tahu diri kapan pertunjukan usai, bulan pun pamit pulang. Lalu kau juga. Pulang. Tinggal ku sendirian. Dan di sanalah kehilangan itu menemukan wujudnya. Bukan sebagai hantu, bukan sebagai bayangan. Ia menjadi udara yang ku hirup, menjadi aspal yang ku pijak, menjadi sunyi itu sendiri. Sunyi yang aneh. Sunyi yang memiliki suara, yang menusuk sisa-sisa suara lain yang pernah ada: derap langkahmu, tawa kecilmu, helaan napasmu yang memburu. Semua ditikamnya tanpa ampun hingga yang tersisa hanyalah dengung panjang di dalam kepala. Dengung yang terus-menerus bertanya satu hal, satu pertanyaan paling fana dan p...

Suara Parau di Pagi yang Sentimen

Maka pagi datang bukan sebagai janji, melainkan sebagai vonis. Kadar dingin yang erat itu merayap, bukan lagi memeluk, tapi mencekik pelan-pelan. Dari sudut kota yang paling sunyi, atau mungkin dari sudut jiwa yang paling riuh, terdengar ia: dalam yang serak suara parau jelma homonim di tubuh penuh akan candu. Ia adalah suara yang tak pernah benar-benar terucap, getarannya hanya terasa di pangkal tenggorokan, sebuah penjelmaan dari kata-kata yang memiliki bunyi sama namun makna berbeda. Seperti kata ‘bisa’ yang berarti racun sekaligus kemampuan. Tubuh ini, kota ini, adalah homonim yang berjalan: ia bisa hidup, sekaligus ia adalah racun yang mematikan secara perlahan. Langit masih meso, barangkali sebuah istilah yang lahir dari kelelahan mengkategorikan warna. Bukan lagi biru, bukan kelabu, tapi sebuah bentangan di tengah-tengah, sebuah spasi kosong yang sedang sibuk mengukur embun cokelat. Embun tak lagi bening di atas daun talas di halaman belakang rumah. Ia telah terpolusi oleh jelag...

Tolong, Tetaplah Hidup

Tolong, tetaplah hidup. Aku tahu, kalimat itu terdengar murah. Terlalu sederhana untuk beban yang terasa seperti langit runtuh menimpa pundakmu seorang diri. Kata-kata hanyalah angin, bukan? Tak mampu mengangkat satu ons pun dari berat yang kau pikul. Tapi dengarkan. Sekali ini saja. Tolong, tetaplah hidup. Sebab ada senja yang belum pernah kau lihat. Bukan senja-senja lain yang pernah melintas di matamu sambil lalu, sekadar penanda hari yang akan berakhir. Bukan. Ini senja yang lain. Senja di mana warna jingga yang menyala—seperti luka yang baru terbuka—beradu sengit dengan biru yang pekat dan dalam, biru yang menelan. Keduanya tidak berdamai dalam gradasi yang manis. Mereka berkelahi di cakrawala, menciptakan sebuah drama hening yang berlangsung hanya beberapa menit. Sebuah keindahan yang brutal. Di langit itu, ada janji bahwa bahkan dua warna yang paling bertentangan pun bisa menciptakan sesuatu yang layak ditunggu, sesuatu yang membuatmu menahan napas. Dunia tidak peduli. Langit ti...

Neraka Bernama Sesama

Hujan baru saja reda di luar jendela kafe ini, meninggalkan aroma petrichor yang seharusnya menenangkan. Seharusnya. Tapi yang tersisa hanyalah udara lengket dan pantulan lampu neon warna-warni pada genangan air di aspal. Aku duduk di sini, dengan secangkir kopi yang mulai dingin—seperti antusiasmeku pada dunia. Di sekelilingku, riuh. Tawa, denting sendok, dan serpihan percakapan yang beterbangan seperti laron mengerubungi cahaya. Mereka semua ada di sini. Manusia. Dan setelah sekian lama, setelah melewati ribuan senja dan pagi yang sia-sia, akhirnya aku memahami. Aku memahaminya dengan kejernihan yang menyakitkan. Manusia tak hanya sekadar makhluk sosial, sebuah frasa manis yang dijejalkan buku-buku pelajaran sekolah dasar. Tidak. Manusia adalah neraka bagi sesama. Seorang filsuf Prancis berjanggut pernah menuliskannya dengan ringkas: L'enfer, c'est les autres. Neraka adalah orang lain. Jean-Paul Sartre tak sedang membual. Ia hanya memotret kenyataan dengan kamera paling jujur...

Liang Lahat Aksara untuk Rindu yang Menjadi Mayat

Pada judul yang mana kau terbitkan tentang bahasa Tuhan yang bernubuat? Pertanyaan itu datang bukan sebagai bisik, melainkan gelegar petir di siang bolong, di tengah kepala yang demam oleh pencarian. Pertanyaan itu telanjang, menuntut, dan menertawakan jemari yang siap menari di atas aksara. Judul? Judul hanyalah nisan. Sebuah penanda bagi sesuatu yang sudah selesai, yang sudah tamat. Sementara ini? Ini belum usai. Ini adalah proses menjadi bangkai. Tak tertampung kata-kata untuk memuat. Tentu saja. Bagaimana mungkin kau sangkakan samudera ke dalam sebuah cangkir? Kata-kata hanyalah buih di bibir pantai, sementara gemuruh ombak yang sesungguhnya—gemuruh bernama rindu, bernama kehilangan—berkecamuk di palung jiwa yang tak terukur dalamnya. Kata-kata adalah pengkhianat. Ia mencoba melukiskan demam, tapi ia tak pernah benar-benar menggigil. Ia mencoba menuliskan lapar, tapi ia tak pernah benar-benar merasakan keroncongan usus yang melilit. Maka aku berhenti menulis. Aku membiarkan diriku ...

Catatan Kecil Aku dan Sunyi

Di saku kemeja yang lecek ini, selembar kertas terlipat. Isinya bukan sajak cinta atau daftar belanjaan, melainkan kutipan fatalistik seorang insinyur Irlandia: Murphy’s Law. Jika sesuatu bisa salah, maka itu akan salah. Sebuah kredo bagi pesimisme, atau mungkin, realisme paling brutal. Catatan itu terasa dingin di dada, sedingin embun yang menggantung di pucuk-pucuk pinus sepanjang jalan bebukitan yang kami lalui. Kata "kami" mungkin tak lagi tepat. Seharusnya aku. Hanya aku. Mata terlempar ke bahu jalan, ke jurang yang menganga malas di antara kabut pagi. Ada semacam ketidakberdayaan yang akut dalam cara otak ini mengolah informasi. Kata-kata—entah dari pesan singkat yang kubaca berulang kali hingga menjadi buram, atau dari percakapan telepon yang bunyinya seperti datang dari dasar sumur—semua mengarah pada satu titik beku: dia sebenarnya sudah pergi. Pergi bukan dalam artian perjalanan yang meniscayakan kepulangan. Pergi adalah kata kerja yang telah selesai, sebuah titik d...

Manusia di Ujung Tafsir

Mari kita bicara tentang kebenaran. Tapi bukan, bukan kebenaran yang melayang-layang di langit, berkilauan seperti debu kosmik yang tak tersentuh. Kita bicara tentang kebenaran yang diucapkan dari mulut ke mulut, yang ditulis dari tangan ke tangan, yang diklaim di mimbar-mimbar agung. Kebenaran hasil tafsir. Lalu ada yang datang, dengan dada dibusungkan dan suara digetarkan, dan berkata: tafsir ini adalah kebenaran mutlak. Logikanya, tentu saja, absurd. Omong kosong. Kenapa? Karena tafsir, kata itu sendiri sudah berbau manusia. Keringat manusia. Darah manusia. Tafsir tidak turun dari langit dalam sebongkah batu meteor yang suci. Ia lahir dari kepala. Kepala manusia. Seseorang duduk, membaca sebuah teks—entah itu kitab suci, naskah kuno, atau sekadar gerak-gerik awan—lalu otaknya bekerja. Memori, emosi, dan seluruh katalog hidupnya ikut campur dalam sebuah proses kimiawi yang rumit. Hasilnya? Sebuah pemaknaan. Sebuah tafsir. Dan di sinilah letak masalahnya. Manusia. Subjek yang menafsir...