Hidup adalah sebuah peron stasiun yang tak pernah tidur. Selalu ada kereta yang datang, selalu ada kereta yang pergi. Kau berdiri di sana, di antara deru dan decit roda besi, di antara pengumuman dari pengeras suara yang parau. Kau menatap wajah-wajah. Ribuan wajah. Jutaan wajah. Dan kau tahu, jauh di dalam sumsum tulangmu, ini semua tentang seleksi. Sebuah proses eliminasi tanpa juri dan tanpa panggung. Kadang, kau yang terseleksi. Disingkirkan. Dilupakan. Namamu pernah menjadi lagu yang dinyanyikan setiap pagi. Kini, bahkan nadanya pun tak diingat lagi. Wajahmu pernah menjadi satu-satunya pemandangan yang ingin dilihatnya saat membuka mata. Kini, wajahmu hanya selembar foto usang di dasar laci, tertimbun struk belanjaan dan tiket bioskop yang telah pudar warnanya. Mungkin sudah dibuang. Kau tak akan pernah tahu. Kau menjadi hantu di koridor ingatan seseorang. Gema tawa yang sesekali terdengar, tapi sumbernya tak lagi bisa dilacak. Kau adalah paragraf yang dihapus dari sebuah cerita, ...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"