Matamu menyala. Dan malam seketika bukanlah lagi milik kelam, bukan lagi sekadar rentang waktu yang diukur oleh detak arloji yang lelah. Tidak. Malam adalah semesta yang baru lahir dari dua binar itu, tempat bintang-bintang di langit yang tadinya angkuh dan teratur, kini memilih untuk berserakan dalam kacau yang puitis. Mereka menabur cahaya bulan yang pucat, lalu seperti penonton yang tahu diri kapan pertunjukan usai, bulan pun pamit pulang.
Lalu kau juga. Pulang.
Tinggal ku sendirian. Dan di sanalah kehilangan itu menemukan wujudnya. Bukan sebagai hantu, bukan sebagai bayangan. Ia menjadi udara yang ku hirup, menjadi aspal yang ku pijak, menjadi sunyi itu sendiri. Sunyi yang aneh. Sunyi yang memiliki suara, yang menusuk sisa-sisa suara lain yang pernah ada: derap langkahmu, tawa kecilmu, helaan napasmu yang memburu. Semua ditikamnya tanpa ampun hingga yang tersisa hanyalah dengung panjang di dalam kepala. Dengung yang terus-menerus bertanya satu hal, satu pertanyaan paling fana dan paling mendesak di tengah semesta yang barusan runtuh.
Alamat rumahmu di mana?
Pertanyaan itu menggema, memantul pada kaca-kaca gedung pencakar langit yang berdiri congkak dan membisu. Sederet gedung tinggi hanya tinggi, tak lebih. Mereka tak punya jawaban. Mereka hanya menuding langit yang kini kosong, seolah mengejek betapa rendahnya aku, betapa rendah rinduku yang kini memilih untuk terdiam, duduk di samping jalan, menjadi bagian dari debu dan sampah perkotaan. Rindu ini tak punya alamat, maka ia hanya bisa menunggu di tepi peradaban, berharap kau lewat. Tapi yang berlalu-lalang hanyalah angin. Angin yang datang tanpa permisi, mengacak rambutku, lalu hilang begitu saja. Sama sepertimu. Datang, mengacak duniaku, lalu hilang.
Siapa yang bisa ku sapa bila kini aku hanya berdua dengan kesepian? Kesepian telah menjadi teman yang paling setia, ia duduk di sebelahku, tidak bicara, tetapi kehadirannya terasa lebih nyata dari semua keramaian yang pernah ada. Ia tidak menghibur, tetapi ia mengerti.
Tiba-tiba, dari dalam, dari tempat yang paling rapuh, hati mungilku menggoda. Ia berbisik, seolah tak peduli pada sunyi yang mengepung. “Hai,” katanya.
Aku menoleh ke dalam diriku sendiri. Aku jawab, “Hai juga.”
“Sedang apa kau sekarang?” Hati yang polos itu bertanya. Pertanyaan yang sebenarnya tidak ditujukan padaku, melainkan padamu. Sebuah pertanyaan yang melintasi jarak dan waktu, sebuah doa yang tak terucap. Ingin sekali ku lontarkan pertanyaan itu ke udara, berharap angin yang tadi lewat akan menyampaikannya padamu di mana pun kau berada. Apakah kau sedang menatap langit yang sama? Apakah kau melihat bintang yang sama-sama berserakan?
“Apakah kau tidak merasakan?” Kini aku yang bertanya pada hatiku, dengan kepolosan yang sama pedihnya. Aku bertanya padanya, tetapi aku bertanya padamu. Apakah gemuruh ini hanya terjadi di duniaku saja? Apakah semesta yang terlahir dari matamu itu hanya ada untukku, dan musnah seketika saat kau berpaling?
Hatiku terdiam sejenak, lalu berucap dengan bijak yang menyakitkan. “Aku terbiasa,” katanya.
“Aku tidak,” balasku cepat, nyaris marah. “Seharusnya kau juga tidak.”
Seharusnya kita tidak pernah terbiasa dengan kehilangan. Seharusnya kita melawan. Tapi bagaimana? Dengan apa? Maka, dengan gemas dan putus asa, ku cubit saja hatiku dengan rindu. Bukan cubitan biasa, melainkan sebuah remasan yang mengumpulkan semua ingatan tentangmu: aroma tubuhmu, lekuk senyummu, dan tentu saja, nyala matamu. Sebuah cubitan untuk mengingatkannya bahwa ia tidak boleh terbiasa, bahwa rasa sakit ini adalah bukti sahih bahwa sesuatu yang luar biasa nyata pernah terjadi.
Dan benar saja. Hatiku memberontak. Kemudian seluruh ruang dada bergejolak. Bukan lagi sekadar rasa sakit, melainkan badai. Sebuah prahara dahsyat yang dipenuhi oleh satu hal, satu kata, satu mantra yang kini menjadi penguasa tunggal di dalam diriku. Namamu. Namamu bergaung di sana, membentur rusukku, menyesakkan napasku, menjadi satu-satunya alasan mengapa jantung ini masih memompa darah. Namamu, yang tak ku tahu bagaimana cara mengirimnya pulang ke alamatmu.
Komentar
Posting Komentar