Rindulah, katamu, sampai kapan pun kau mau. Sebuah kalimat yang terdengar seperti izin, sekaligus kutukan. Kau memberiku kebebasan untuk memelihara sesuatu yang tak pernah benar-benar kumiliki. Maka, kuputuskan untuk merindukanmu. Sepenuhnya, sesederhana pagi menyambut matahari tanpa bertanya apakah ia akan terbit esok hari. Pada mulanya, rindu adalah tamu yang datang dengan riuh. Ia mengetuk pintu di tengah malam, menyelinap dalam mimpi, dan meninggalkan jejaknya pada embun di jendela saat fajar tiba. Namamu menjadi mantra yang dirapal dalam diam, di sela helaan napas, di antara denting sendok dan cangkir kopi. Rindu adalah warna yang paling terang, melukis hari-hari kelabu dengan bayang-bayang wajahmu. Ia adalah lagu yang tak pernah selesai, nadanya terus berdengung bahkan ketika dunia sedang hening-heningnya. Aku berbincang dengannya, dengan rindu ini. Kutanyakan kabarnya hari ini, apakah ia masih betah tinggal di dalam diriku. Ia hanya tersenyum, lalu menunjuk ke arah jantungku, se...
"Hanya Sebuah Tulisan Dari Sudut Pandang Yang Terlewatkan"