Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Rindu yang Menjadi Abu

Rindulah, katamu, sampai kapan pun kau mau. Sebuah kalimat yang terdengar seperti izin, sekaligus kutukan. Kau memberiku kebebasan untuk memelihara sesuatu yang tak pernah benar-benar kumiliki. Maka, kuputuskan untuk merindukanmu. Sepenuhnya, sesederhana pagi menyambut matahari tanpa bertanya apakah ia akan terbit esok hari. Pada mulanya, rindu adalah tamu yang datang dengan riuh. Ia mengetuk pintu di tengah malam, menyelinap dalam mimpi, dan meninggalkan jejaknya pada embun di jendela saat fajar tiba. Namamu menjadi mantra yang dirapal dalam diam, di sela helaan napas, di antara denting sendok dan cangkir kopi. Rindu adalah warna yang paling terang, melukis hari-hari kelabu dengan bayang-bayang wajahmu. Ia adalah lagu yang tak pernah selesai, nadanya terus berdengung bahkan ketika dunia sedang hening-heningnya. Aku berbincang dengannya, dengan rindu ini. Kutanyakan kabarnya hari ini, apakah ia masih betah tinggal di dalam diriku. Ia hanya tersenyum, lalu menunjuk ke arah jantungku, se...

Puisi yang Menggenang di Jemari Kenangan

Dahulu, aku adalah seorang pemburu yang ganjil. Aku tidak memburu hewan di belantara atau harta karun di dasar lautan; aku memburu wujud. Sebuah wujud dari apa yang paling fana sekaligus paling abadi: puisi. Dengan kelancangan seorang pemimpi, aku sering bertanya pada kehampaan malam atau pada keriuhan siang, kalau puisi itu punya rupa, akan seperti apakah ia? Pertanyaan itu menjadi semacam mantra, obsesi yang mendorongku untuk menafsirkan segala yang agung di alam raya sebagai kandidat potensial. Mungkin, pikirku suatu kali, puisi adalah matahari. Terik, membakar, memberi kehidupan dengan kemurahan hatinya yang tak pandang bulu, namun juga bisa membunuh dengan keperkasaannya yang tak tertandingi. Puisi adalah sumber segala energi, pusat dari sebuah galaksi perasaan. Tapi tidak, sangkaan itu keliru. Matahari terlalu pongah, terlalu berjarak. Ia menyinari semua orang tanpa kecuali, sementara puisi yang kucari terasa lebih personal, lebih intim, seolah ia hanya berbisik untuk satu teling...

Catatan di Puncak Perjalanan

Pada akhirnya, engkau tiba di sana. Di puncak menara gading yang kau bangun dari keringat dan air mata, atau mungkin di atas singgasana yang terbuat dari serpihan mimpi-mimpi yang berhasil kau kumpulkan. Udara di atas sini terasa lebih tipis, bukan? Suara-suara riuh dari jalanan yang dulu memekakkan telinga kini terdengar seperti desau angin yang jauh. Semua tampak kecil dari ketinggian ini. Gedung-gedung seperti balok mainan, dan manusia tak lebih dari semut-semut yang sibuk dalam koreografi tak berarti. Engkau mungkin menatap cakrawala, merasakan kehangatan matahari di wajahmu yang kini tak lagi kusam oleh debu jalanan. Engkau mungkin tersenyum, senyum tipis yang menyimpan ribuan cerita. Namun, sebelum senyum itu menjadi pongah, sebelum dadamu membusung oleh angin kesuksesan, pejamkan matamu sejenak. Dengarkan. Bukan desau angin, bukan pula keheningan yang agung. Dengarkan gemeretak kerikil di bawah sandal jepitmu yang usang, bertahun-tahun lalu. Dengarkan deru napasmu yang memburu s...

Juni, Hujan, dan Rindu yang Minta Dituangkan

Setiap tahun, selalu ada Juni yang datang menyelinap, bukan sebagai penanda waktu belaka, melainkan sebagai sebuah ritus sunyi untuk mengenang. Juni adalah ziarah ke dalam diri, ke sebuah ruang di mana rindu sengaja ditanam untuk kemudian mekar sekali waktu. Dan bagi saya, Juni selalu tentang jejak hujan yang membayang di jendela dan gema sajak-sajak Bapak, Pak Sapardi. Ada semacam persekongkolan syahdu antara bulan ini, gerimis yang turun, dan setiap diksi yang pernah Bapak rangkai menjadi abadi. Sebuah persekongkolan yang memaksa saya untuk kembali bertanya: rindu macam apa lagi yang harus saya tanggung kali ini? Sebab, setidaknya dalam setahun sekali, ada rindu yang tumbuh dengan begitu sederhana, begitu murni, tanpa pretensi apa pun. Ia hanya kangen. Sebuah kata yang telanjang, yang lugu, yang tidak meminta apa-apa selain untuk diucapkan. Ia tidak serumit cinta yang menuntut balas, tidak sepelik duka yang meminta lupa. Ia hanya kangen, yang tidak boleh tak terucapkan. Namun, entah ...

Ini Tentang Sebuah Nama

Ada sebuah waktu sebelum namamu. Sebuah masa yang kini terasa asing, seperti lanskap dari sebuah mimpi yang samar-samar kuingat namun tak lagi bisa kuraba detailnya. Aku berjalan di sana, barangkali, sebagai sekelebat bayangan yang memburu sesuatu yang bahkan ia tak tahu apa namanya. Hari-hari adalah rentetan peristiwa tanpa jangkar; pagi bergulir menjadi malam dalam ritme yang monoton, dan riuh dunia di luar sana hanyalah kebisingan latar yang tak pernah benar-benar menyentuhku. Aku adalah aku, sebuah definisi yang terasa cukup, hingga aku menyadari betapa kosongnya kecukupan itu. Lalu, namamu datang. Ia tidak menggedor pintu atau berteriak dari kejauhan. Ia meresap, serupa kabut tipis yang menyusup melalui celah jendela kalbu, mengendap di relung yang paling senyap. Sejak saat itu, sejak namamu menjadi mantra yang kudengungkan dalam diam, aku tak lagi serupa dengan diriku yang lampau. Sebuah revolusi sunyi terjadi di dalam diriku. Dunia yang tadinya datar tiba-tiba memiliki kontur, w...

Secangkir Puisi Pukul Dua Pagi

Lalu kau datang lagi. Selalu pada jam-jam paling sepi, ketika malam terasa begitu tua dan kota hanyalah bisik napas para pendosa. Kau datang tidak dengan tangan hampa, melainkan dengan secangkir puisi yang mengepulkan aroma hujan dan rindu yang dipanggang terlalu lama. Kau sodorkan cangkir itu kepadaku, bibirmu membentuk sebaris kata tanpa suara, dan mataku, yang telah lama menjadi murid paling patuh dari setiap gerak-gerikmu, mengerti: minumlah. Maka kutenggak habis. Tanpa jeda, tanpa napas. Betapa liar dan memabukkan saat secangkir puisi darimu itu meluncur melewati kerongkonganku, membakar setiap saraf dengan api aksara, mengubah pembuluh darahku menjadi sungai-sungai kecil yang mengalirkan metafora paling gelap. Seketika itu juga, dunia yang kukenal luruh. Dinding kamar mencair menjadi alinea-alinea panjang, lampu-lampu jalanan di luar jendela berkelip seperti titik dan koma yang kebingungan, dan kesadaran bukanlah lagi milikku. Ia telah kau rampas, kau ganti dengan pusing yang ind...

Musik-musik Yang Tercipta Dari Mu

Maka, biarkan aku menulis tentangmu sekali lagi. Biarkan jemari ini menari di atas lanskap sunyi papan ketik, merangkai aksara menjadi monumen kecil untuk merayakan kehadiranmu. Sebab sebelum ada engkau, yang ada hanyalah ruang. Ruang-ruang hampa yang bergaung, koridor-koridor panjang dalam jiwa yang hanya dilintasi angin pilu dan gema langkah kaki masa lalu yang enggan berlalu. Dinding-dindingnya kusam, dipenuhi coretan-coretan kekecewaan, dan di sudut-sudutnya tersisip perih yang mengkristal, tajam dan dingin. Aku terbiasa dengan keheningan itu, begitu terbiasa hingga detak jantungku sendiri terdengar seperti dobrakan pintu yang mengagetkan. Lalu engkau datang. Bukan dengan langkah gegap gempita. Bukan dengan proklamasi yang menggelegar. Engkau datang laksana embun yang turun tanpa suara, namun aromanya terasa. Semerbak harum melodimu, begitulah aku mengenangnya. Sebuah alunan yang tak hanya tertangkap telinga, tetapi meresap melalui pori-pori, memenuhi setiap rongga kosong yang dahu...

Aku Menemukan Mu

Dunia adalah serangkaian kebetulan yang tak terduga, bukan? Sebuah arus waktu yang menarik orang-orang ke pusaran yang sama, lalu melemparkannya lagi ke arah yang berbeda. Namun, ada satu hari, di antara riuh rendah percakapan dan dengung pendingin ruangan yang lelah, waktu seolah berhenti berputar hanya untuk kita. Saat itulah mata kita bertabrakan. Bukan sekadar bertemu, melainkan bertabrakan. Sebuah benturan sunyi yang getarannya terasa sampai ke dasar jiwa. Sejak saat itu, kita sama-sama meyakini sesuatu. Tak ada salah satu dari kita yang merasa menemukan. Tidak. Kata itu terasa timpang, seolah menyiratkan ada pencari dan ada yang pasrah diam. Sebab sesungguhnya, ya… kita saling menemukan. Kau melihat kertap-kertap cahaya dalam diriku yang telah lama kupikir padam, dan aku melihat semesta di matamu yang selama ini kau sembunyikan dari dunia. Kita adalah dua potongan puzzle yang tak pernah tahu jika saling mencari, sampai takdir membenturkan kita dalam sebuah gambar yang utuh. Lalu,...

Tarian Absurd di Atas Bandul Penderitaan

Mungkin semua bermula dari secangkir kopi di pagi buta. Aroma pahitnya yang menguar, hangatnya yang menjalar di telapak tangan, dan sunyi yang sejenak terasa begitu penuh makna. Itulah ia, sepotong kebahagiaan. Atau mungkin saat hujan pertama turun setelah kemarau panjang, ketika aroma tanah basah—petrikor—menggeliat naik, membangkitkan nostalgia akan sesuatu yang bahkan tak pernah kita alami. Kita tersenyum. Kita merasa bahagia. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil, rapuh, dan fana, yang bertebaran di sepanjang jalan hidup laksana kunang-kunang di pekat malam. ​Namun, cukupkah itu? Tentu saja tidak. Manusia adalah makhluk yang ganjil, dirajam oleh sebuah kutukan purba: ketidakpuasan. Secangkir kopi pagi hanya menjadi pengantar untuk mendambakan percakapan yang lebih hangat. Aroma hujan hanya menjadi latar bagi kerinduan akan sebuah pelukan. Kebahagiaan kecil itu, betapapun indahnya, hanyalah sebuah stasiun pemberhentian sementara dalam sebuah ziarah tanpa akhir. Selalu ada cakrawala lain yan...

Kekayaan Orang-Orang Kalah

Mari kita coba, sekali ini saja, membalik meja judi yang kita sebut kehidupan. Meja yang penuh dengan taruhan harapan, cip-cip kebahagiaan yang gampang sekali tercecer, dan kartu-kartu takdir yang dibagikan secara bangsat. Bagaimana kalau kita balik sudut pandang? Bahwa semua yang kita ratapi—kesedihan yang mengiris tipis-tipis kewarasan, kesusahan yang melubangi saku dan jiwa, ketiadaan yang membuat kita merasa seperti hantu di tengah pesta—sebenarnya adalah harta karun itu sendiri. Sebuah kekayaan yang tak bisa dijarah, tak bisa diinflasi, sebab ia adalah kekayaan yang lahir dari peniadaan.  Ya, peniadaan diri. Konsep yang terdengar seperti omong kosong para pertapa di kuping manusia modern yang sibuk membangun citra diri di layar-layar pipih beresolusi tinggi. Peniadaan diri adalah sesuatu yang sebenarnya kita perlu gapai untuk menguliti segala kepalsuan dan menyentuh apa yang substansi. Dunia berteriak: jadilah seseorang! Punya ini, raih itu, taklukkan anu! Tapi mungkin, justru...

Tanda, Kata, dan Napas yang Bernyawa

Dunia adalah teks pertama. Jauh sebelum aksara dipahat di batu atau ditorehkan di atas papirus, manusia telah menjadi pembaca. Pembaca yang gugup sekaligus takzim di hadapan alam raya. Awan yang menggumpal hitam di ufuk adalah kalimat ancaman tentang badai yang bakal datang. Jejak kaki di tanah basah adalah sebait cerita tentang siapa yang lewat dan ke mana ia menuju. Gemerisik daun kering di tengah malam adalah tanda seru, peringatan akan kehadiran yang lain. Kemampuan purba inilah, kemampuan mengeja tanda dan menerjemahkan fenomena, yang membuat manusia mampu bertahan. Survival adalah soal literasi. Ia adalah taruhan pertama antara hidup dan mati. ​Maka ketika kita bicara tentang membaca, kita tidak sedang membicarakan sebuah hobi untuk mengisi waktu senggang di antara secangkir kopi dan senja yang muram. Tidak. Membaca adalah napas. Ia adalah gerak hidup yang tak boleh berhenti, sebab berhenti membaca berarti berhenti memahami, dan berhenti memahami adalah langkah pertama menuju kek...

Babak Terakhir Ke-Dua Belas Psikopat Kecil

Maka, sampailah kita pada halaman terakhir, bukan? Atau setidaknya, pada jeda sebelum sebuah buku ditutup, sebelum debu waktu mulai hinggap pada sampulnya. Di sini, di batas antara riuh rendah kata yang telah terucap dan sunyi yang akan datang, selalu ada semacam keengganan. Keengganan untuk melepaskan, untuk mengatakan bahwa semua telah usai. Karena cerita, seperti halnya kehidupan di sebuah kampus yang berdenyut di jantung kota kecil, tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti babak, berganti aktor, berganti penonton. Dan mereka, kedua belas itu—atau sebelas, atau sepuluh, tergantung dari sudut mana kau memandang, tergantung siapa yang menghitung detak jantung yang tersisa—adalah sebuah lakon tersendiri. Sebuah anomali yang lahir dari rahim keresahan, sebuah ikatan yang terjalin dari benang-benang kusut pertikaian awal. Siapa yang bisa meramal bahwa dari ketidaksepakatan, dari kutub-kutub yang saling menolak, justru akan lahir sebuah konstelasi yang begitu ganjil sekaligus b...

Ke-Dua Belas Psikopat Kecil

  Sejak kapan tepatnya kesunyian ini berbisik lebih nyaring di antara riuh rendah percakapan? Apakah bermula dari kabar yang seperti petir di siang bolong, mengguncang fondasi kebersamaan yang baru saja dirajut? Atau mungkin benihnya telah lama tertanam, tumbuh diam-diam di sela-sela rapat organisasi yang penuh intrik, di balik tawa-tawa yang kadang terasa hambar, di antara idealisme yang berbenturan dengan kenyataan yang getir? Pada sebuah petak waktu yang terlipat di antara hiruk-pikuk kota Tulungagung—kota yang menyimpan riwayat para wali dan geliat kopi yang tak pernah mati—berdiri megah, atau setidaknya begitulah citra yang ingin dibangun, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah. Di sanalah, di antara dinding-dinding yang mungkin telah menyerap ribuan doa dan keluh kesah mahasiswa, sebuah kisah berdenyut. Kisah ini bukan tentang pahlawan agung atau revolusi besar, melainkan tentang sekumpulan jiwa yang, karena satu dan lain hal, memilih untuk saling mengikatkan diri ...

Tentang Tawa, Tunggu, dan Kamu

Aku tertawa. Di hadapan layar yang memancarkan cahaya biru ke wajahku, di tengah riuh rendah notifikasi yang tak berarti, aku tertawa melihat ketololan hari ini. Dunia terasa seperti pasar malam yang terlalu gaduh, memajang serba-serbi lelucon untuk menghibur jiwa-jiwa yang lelah, yang linu setelah seharian digerus roda waktu. Kudapan dari candaan receh itu—mulai dari celetukan "waduh" yang kini menjadi semacam mazhab baru dalam merespons absurditas, hingga keanehan-keanehan acak yang dibagikan orang-orang asing—menjadi semacam balsam. Obat gosok digital untuk pegal-pegal batin. Dan di antara semua itu, di tengah tawa yang pecah sendirian di kamar yang senyap, tiada yang menyangka bahwa aku, pada detik itu, merasa lebih bahagia ketimbang saat notifikasi dengan namanya akhirnya muncul, membalas pesanku setelah tiga hari yang terasa seperti tiga abad lamanya. Balasan darinya adalah hantu. Sebuah penampakan singkat di layar, serangkaian huruf mati yang berusaha meyakinkan bahwa ...

Permulaan Keabadian Asmara

Kekasih, Dalam bilik paling rahasia di tubuh kita, sepasang merpati telah lama bersarang. Mereka tidak mengepakkan sayap dari bulu dan tulang, tidak juga mematuk jagung di pekarangan. Sayap-sayap mereka adalah getar sunyi yang tak kasat mata, denyut yang merambat dari jemariku menuju jantungmu. Ya, dalam tubuh kita merpati mengirim asmara melewati gawaimu. Benda pipih dari logam dan kaca itu, yang dingin jika disentuh, entah bagaimana menjadi sangkar paling hangat bagi pesan-pesan yang lahir dari kertak sunyi di kepalaku. Setiap huruf yang kuketik adalah kepak sayap, setiap tanda kirim adalah pelepasan merpati itu ke angkasa digital, melintasi rimba sinyal yang riuh, hanya untuk hinggap dengan selamat di berandamu. Di layar gawaimu. Dan beberapa suratku telah kau baca. Surat-surat yang tak lagi ditulis di atas kertas rapuh beraroma cendana, melainkan di atas kanvas cahaya berpendar. Di sana, kata-kata tak menunggu keringnya tinta, ia hidup seketika. Kau membacanya. Selalu. Mungkin samb...