Langsung ke konten utama

Tentang Tawa, Tunggu, dan Kamu

Aku tertawa. Di hadapan layar yang memancarkan cahaya biru ke wajahku, di tengah riuh rendah notifikasi yang tak berarti, aku tertawa melihat ketololan hari ini. Dunia terasa seperti pasar malam yang terlalu gaduh, memajang serba-serbi lelucon untuk menghibur jiwa-jiwa yang lelah, yang linu setelah seharian digerus roda waktu. Kudapan dari candaan receh itu—mulai dari celetukan "waduh" yang kini menjadi semacam mazhab baru dalam merespons absurditas, hingga keanehan-keanehan acak yang dibagikan orang-orang asing—menjadi semacam balsam. Obat gosok digital untuk pegal-pegal batin. Dan di antara semua itu, di tengah tawa yang pecah sendirian di kamar yang senyap, tiada yang menyangka bahwa aku, pada detik itu, merasa lebih bahagia ketimbang saat notifikasi dengan namanya akhirnya muncul, membalas pesanku setelah tiga hari yang terasa seperti tiga abad lamanya.

Balasan darinya adalah hantu. Sebuah penampakan singkat di layar, serangkaian huruf mati yang berusaha meyakinkan bahwa ada kehidupan di seberang sana. Tapi tawa ini? Tawa ini nyata. Menggetarkan rongga dada, membuat sudut mata berair, sebuah perayaan kecil atas hidup yang tak perlu menunggu persetujuan siapa pun. Ironis, bukan? Bagaimana kebahagiaan yang paling murni justru datang dari hal-hal yang paling fana, sementara penantian akan sesuatu yang dianggap paling berharga justru membawa sembilu yang tak kunjung reda.

Akulah seorang lanang itu. Seorang lelaki biasa yang merawat mimpi-mimpi sederhana di kepalanya yang sering kali terlalu penuh. Salah satu mimpi itu adalah tentang dirimu dan jalanan malam. Aku mengharapkan satu kesempatan untuk kita berboncengan, bukan sebagai penumpang dan pengemudi, tetapi sebagai dua nada yang mencari harmoni. Di atas motorku yang tua, yang joknya mungkin tak sehangat atau seempuk sepedah motor beat yang kau rebutkan dengan adik mu, ada sebuah ruang yang sengaja aku kosongkan. Ruang itu bukan sekadar tempat untuk duduk, melainkan sebuah panggung kecil yang aku siapkan. Di pangkuan itulah, kuperkenankan untuk sehelai lagu kita nyanyikan bersama. Mungkin lagu usang dari radio butut, atau mungkin hanya dengungan tanpa lirik yang lahir dari debar jantung kita yang berkejaran dengan deru mesin. Tak perlu merdu, tak perlu sempurna. Cukup suara kita yang berpadu, terbang dibawa angin, menjadi rahasia kecil kita yang tersimpan di sepanjang aspal yang kita lalui.

Namun, mimpi tetaplah mimpi. Dan aku di sini, terjaga. Aku senantiasa menantikanmu dalam dekapanku, sebuah dekapan imajiner yang kubangun dari benang-benang rindu. Aku menunggumu di setiap fajar yang menjanjikan harapan baru, di setiap senja yang melukiskan melankolia. Aku menunggumu di antara baris-baris buku yang kubaca, mencari jejakmu dalam kisah orang lain. Tetapi, aku cukup sadar diri untuk mengerti bahwa kemungkinan dekapan itu menjadi nyata adalah harapan yang kubangun untuk diriku sendiri, dan mungkin, bukan untukmu. Harapan ini adalah rumahku, tempatku berteduh dari badai keraguan, meski mungkin bagimu, ia tak lebih dari sekadar persinggahan yang tak pernah kau tuju.

Sebab kamu adalah matahari bagiku. Klise, mungkin, tetapi tidak ada metafora lain yang lebih tepat. Kaulah pusat dari tata surya kecil di dalam batok kepalaku. Semua celotehanku, semua risauku, semua angan-anganku, mengorbit kepadamu dalam lintasan yang setia. Engkau tidak perlu melakukan apa-apa, cukup ada, dan seluruh duniaku akan bergerak mengelilingimu. Diary romansa dalam benakku ini tak lebih dari catatan seorang pengamat langit, yang setiap hari mencatat pergerakan, cahaya, dan kehangatan dari satu bintang yang sama. Kamu adalah alasan mengapa pagi terasa mungkin dan malam terasa penuh perenungan. Kamu adalah sebab dari segala puisi yang tak pernah selesai kutulis.

Maka, biarlah begini. Aku menutup diri untuk nafasmu, demi sebuah sumpah bisu yang hanya dimengerti oleh hatiku. Aku menyimpan setiap helaan nafasku, menjaganya agar tetap murni, hanya untuk satu tujuan: agar bisa kuhabiskan sisanya bersamamu, hingga maut datang sebagai pemisah yang sopan saat kita sama-sama menua. Ini bukan lagi sekadar cinta, ini adalah pilihan untuk menjadikanmu sebagai takdir. Sebuah penyerahan total di mana kehidupanku menemukan maknanya hanya jika berkelindan dengan kehidupanmu.

Lihatlah, waktu terus berjalan tanpa ampun. Detik, jam, hari, hingga tahun akan berlalu, mungkin tanpa pernah kita sadari. Namun, setiap detiknya akan menjadi berarti. Semua itu akan daku tempuh, segenap rentang waktu yang diberikan kepadaku di dunia ini, setelah beratus-ratus lagu selesai didengarkan, setelah ribuan halaman buku selesai dibalik, setelah jutaan kilometer jalan habis dijelajahi. Dan pada akhirnya, ketika semua itu usai, aku akan menyadari satu hal: bahwa semua lagu, semua buku, dan semua jalanan itu, nyatanya selalu dan selamanya terhabiskan hanya karena tentangmu.

Dan kini, aku kembali ke titik awal. Layar ponsel masih menyala, menampilkan lelucon lain yang siap mengundang tawa. Aku tertawa lagi, sedikit lebih pelan kali ini. Sebuah tawa yang menjadi tameng, menyembunyikan semesta penantian yang maha luas di baliknya.

Komentar