Langsung ke konten utama

Postingan

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Lampu meja berkekuatan empat puluh watt itu memendarkan cahaya kuning temaram, menyiram sudut kamar yang senyap. Di luar, gerimis tipis menyapu kaca jendela, menyisakan jejak-jejak air yang meluncur lambat seperti air mata yang enggan jatuh. Di ruangan ini, waktu seolah melambat, patuh pada ketukan jarum jam dinding yang berdetak malas. Kau duduk di sana, menyandarkan punggung pada tumpukan bantal beludru hangat. Rambutmu yang sedikit berantakan dibiarkan jatuh bebas di bahu. Di pangkuanmu, bukan novel roman picisan yang jamak ditemukan di meja rias, melainkan tumpukan kertas berserakan dan beberapa buku tebal beraroma kertas tua—aroma khas yang selalu mengingatkan kita pada perpustakaan sunyi di sudut kota yang menyimpan rahasia dunia. Malam yang merayap menuju sepertiga akhir ini semestinya tidak direduksi menjadi sekadar ruang sunyi untuk menutup mata. Jam-jam hening seperti ini adalah waktu yang terlalu sakral jika hanya dihabiskan untuk melamunkan kesunyian. Ia semestinya diisi ol...
Postingan terbaru

Doa Kecil untuk Mu

Gerimis selalu punya cara tersendiri untuk melarutkan warna langit menjadi abu-abu yang intim. Di balik jendela kaca yang berembun, aku memperhatikan cangkir kopimu yang masih menyisakan lingkaran hitam tipis di dasarnya—jejak dari pagimu yang terburu-buru. Di titik-titik sunyi seperti inilah, ketika riuh dunia mereda dan yang tersisa hanyalah detak jam dinding yang monoton, aku menemukan diriku kembali melakukan ritual yang barangkali terdengar ganjil bagi orang luar: aku melangitkan doa-doa kecil untukmu. Bukan doa tentang keabadian yang muluk-muluk, bukan pula permohonan agar nama kita dipahat di atas bintang-bintang yang kelak akan mati. Langit sudah terlalu penuh dengan proposal manusia yang ambisius. Maka, aku memilih untuk menyelundupkan permohonan-permohonan sederhana, yang saking remehnya, mungkin akan membuat para malaikat tersenyum geli saat mencatatnya. Pertama-tama, aku selalu memohon dengan sungguh-sungguh: semoga kelingking kakimu yang manis itu dijauhkan dari tragedi be...

Malam yang Turun Tanpa Suara

Pintu kayu itu berderit pelan, menyisakan bunyi klik yang solid saat kunci kupisahkan dari slotnya. Di luar sana, Tulungagung, Malang, Surabaya—atau kota mana pun yang memilih untuk mengutuk dirinya sendiri agar tak pernah tidur—masih menyisakan dengung klakson, derit aspal, dan sisa-sisa amarah yang menggantung di udara tipis. Hari ini bising. Terlalu bising untuk dimengerti. Pikiran-pikiran manusia yang saling bertubrukan di gerbong kereta, ego yang berebut ruang di koridor kantor, hingga kecemasan yang mendesis di layar ponsel pintar. Semua itu bagai partikel debu yang berebut masuk ke dalam paru-paru. Namun, di dalam ruangan berukuran empat kali empat ini, segalanya mendadak melambat. Tuhan, terima kasih karena tetap membiarkanku pulang dengan utuh setelah hari-hari yang kadang terlalu bising untuk dimengerti. Kata "utuh" malam ini terasa begitu mahal. Menjadi utuh bukan sekadar lengan dan kaki yang masih lengkap menempel pada tubuh, melainkan jiwa yang tidak tercecer di ...

Merayakan Luka

Malam ini, aroma kopi hitam yang pekat bersinggungan dengan bau kertas tua di sudut meja kerjaku. Di luar, hujan jatuh dengan ritme yang malas, seolah enggan menyentuh aspal yang panas. Aku duduk di sini, menyesap pahit yang akrab, sembari menatap selembar surat penolakan yang baru saja mendarat di kotak surel. Anehnya, alih-alih sesak, aku justru merasakan sebersit kelegaan yang ganjil. Sebuah kepuasan yang mungkin bagi orang lain dianggap sebagai bentuk masokisme spiritual. Aku adalah orang yang paling senang merayakan kekalahan. Sejak lama, aku telah belajar untuk tidak takut pada pintu yang tertutup rapat atau punggung yang menjauh. Dalam setiap langkah baru yang kupijak, di balik ambisi yang menggebu, ada bagian kecil dalam diriku yang justru merapalkan doa-doa sunyi; aku memohon untuk ditolak, dicaci, bahkan dimaki. Ini bukan lantaran aku membenci diriku sendiri atau memuja kehancuran. Sama sekali bukan. Aku melakukan ini karena aku sadar bahwa dalam diri ini, terdapat kubangan l...

Sepetak Lapang Dada

Pagi itu, aroma di kedai kopi kecil di sudut kota itu terasa begitu tajam, seolah-olah setiap partikel udara ingin bercerita tentang rahasia para pengunjungnya. Saya duduk menghadap jendela yang sedikit berembun, menatap sebuah cangkir keramik berisi cairan hijau pekat yang mengepul. Matcha. Sebuah rasa yang bagi sebagian orang adalah kemewahan bumi yang jujur, namun bagi sebagian lainnya hanyalah sekadar rasa "rumput" yang gagal dipahami. Di seberang meja, seorang kawan menyesap coklat panasnya dengan takzim. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa manis yang kental itu memeluk indra perasanya. "Coklat itu rumah," katanya pelan. "Ia tidak menuntutmu untuk mengerti. Ia hanya ingin kau merasa nyaman." Saya tersenyum tipis, masih menatap matcha saya. Barangkali, di sanalah perjalanan ini dimulai. Di antara semua perjalanan panjang yang kita lalui—yang berliku, yang penuh peluh, yang seringkali membuat kita ingin menyerah di tengah jalan—istilah 'penerimaan...

Binar Rupa mu Sebelum Perang

Kabupaten ini selalu punya cara untuk meluruhkan keberanian, namun tengah malam—saat jarum jam seolah bergerak lebih lambat dari detak jantung—adalah ruang suci bagi pengakuan. Di hadapanku, sebuah cangkir porselen putih yang tak lagi mengepulkan uap duduk dengan anggun. Di pinggirannya, ada noda kemerahan yang tertinggal. Sebuah jejak bibir. Sebuah interupsi kecil pada kemurnian keramik yang, jika aku teliti dengan seksama, adalah sebuah peta menuju ingatan yang paling berbahaya. Kalau menuju tengah malam begini, aku merasa memiliki kewajiban moral untuk menerangkan bagaimana noda itu bisa mendarat di sana. Ia bukan sekadar sisa gincu yang lupa terhapus. Ia adalah titik simpul dari sebuah percakapan yang berkelok-kelok, melintasi trauma masa kecil hingga harapan-harapan konyol tentang masa depan. Entah pada sisa obrolan yang mana—apakah saat kita membahas keganjilan plot novel klasik atau saat kau bercerita tentang ketakutanmu akan perpisahan—kecupan itu menjadi tanda baca yang menutu...

Tugas Sang Surya dan Hujan

Matahari hari ini muncul dengan ketegasan yang sama seperti ribuan tahun lalu. Ia tak pernah bertanya pada awan apakah kehadirannya diinginkan, atau mengirim pesan singkat melalui angin untuk sekadar berbasa-basi. Ia hanya terbit. Memberi sinar, mengantar panas, memenuhi kontrak purbanya dengan alam semesta. Di bawah sana, di sebuah halte yang pengap atau di balik kaca mobil yang sejuk, manusia mulai mengomel. "Gila, panasnya minta ampun!" atau "Neraka bocor" Mereka menyeka keringat seolah-olah butiran peluh itu adalah bentuk ketidakadilan sejarah. Padahal, Sang Surya hanya sedang menjadi dirinya sendiri. Ia menjalankan tugasnya tanpa pretensi untuk menjadi pahlawan, pun tanpa rasa bersalah ketika dianggap sebagai beban. Lalu, di suatu waktu yang tak tertebak, giliran Hujan yang mengambil panggung. Ia turun begitu saja, mengguyur atap seng yang berisik dan tanah yang haus. Namun, sambutan yang diterimanya seringkali jauh dari kata hangat. Di sudut pasar, seorang ped...

Bahasa yang Kau Rakit dalam Teduh

Terdengar berlebihan? Memang. Barangkali bagi telinga yang terbiasa dengan retorika besar atau deklarasi cinta yang meledak-ledak di bawah lampu kota, apa yang kurasakan ini tampak seperti hiperbola yang dipaksakan. Namun, di hadapan secangkir kopi yang mendingin dan kenangan yang mendadak pualam, aku tidak ingin lagi menyangkal hari itu. Aku mengakui: aku jatuh. Dan aku jatuh bukan karena guncangan hebat, melainkan karena sebuah tarikan gravitasi yang halus, konsisten, dan nyaris tak bersuara. Aku menyebutnya sebagai bahasa cintamu. Biarkan aku menamainya begitu, meski mungkin kamus mana pun akan kesulitan merumuskan definisinya secara akurat. Sebab, bagaimana mungkin kita memberi nama pada sesuatu yang tidak berwujud kata-kata, melainkan mewujud dalam gerak-gerik yang begitu organik hingga hampir luput dari pandangan mata yang tergesa-gesa? Segalanya yang kamu suguhkan adalah perjamuan dari tindakan-tindakan kecil yang nyata. Dalam dunia yang sering kali menuntut kita untuk menjadi l...

Pertemuan di Lorong Waktu

Malam merayap lambat, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan yang menggantung di udara. Di sudut ruang kerja yang hanya diterangi lampu meja yang meremang, aku merasa seolah-olah dinding kamar ini mulai meluruh, berubah menjadi lorong panjang tanpa ujung. Lorong itu bukan terbuat dari beton, melainkan dari susunan fragmen memori yang selama ini kusimpan rapat dalam laci-laci pikiran yang berdebu. Tiba-tiba, aku tidak lagi sendirian. Di ujung lorong yang temaram, aku melihat sesosok kecil sedang berjongkok, mengamati semut yang berbaris rapi di atas ubin tua. Itu adalah aku. Versi diriku yang paling purba, yang masih mengenakan seragam taman kanak-kanak dengan aroma bedak bayi yang samar. Ia menoleh, matanya besar dan berbinar, penuh dengan impian tentang dunia yang ia kira hanya terdiri dari warna-warna pelangi dan pelukan hangat ibu. Aku mendekatinya. Ada getaran aneh di dadaku saat melihat kepolosannya. Aku ingin berbisik padanya, "Terima kasih." Terima kasih karena ...

Surat di Balik Pintu Kamar yang Terkunci

Ibu, aku tahu bagimu pintu kayu yang tertutup rapat itu adalah sebuah pernyataan perang. Atau mungkin, sebuah nisan bagi harapan-harapanmu yang kau semai sejak aku masih dalam kandungan. Di matamu, kamar ini hanyalah sebuah gua pengap tempatku meringkuk, menghabiskan waktu dengan ritual yang kau anggap sia-sia: makan, tidur, dan bernapas dalam kesunyian. "Lihatlah anak-anak seumuranmu di luar sana," katamu suatu pagi, suaramu setajam sembilu yang menyayat udara dapur yang lembap. "Mereka sudah menggenggam dunia. Mereka berlari, sementara kau hanya diam mematung di dalam tempurung." Kalimat itu, Ibu, jatuh seperti hantaman beton di pundakku. Aku ingin sekali membuka pintu, keluar, dan memelukmu. Namun, lidahku kelu. Di dalam kepalamu, aku adalah sebuah kegagalan yang statis. Aku adalah potret stagnasi di tengah dunia yang bergerak secepat kilat. Mungkin yang sering terlihat di netramu memang begitu, Bu; aku seperti tidak mengusahakan apa pun. Aku tampak seperti air t...