Postingan

Doa Sederhana di Hari Lahirmu

Untuk kekasih ku, Nadha Khoirina, di bawah langit yang sama. Di kota yang terus bergegas ini, di mana waktu mengalir seperti sungai yang tak pernah bersedia untuk tidur, ada satu hari di mana aku selalu ingin menghentikan segalanya sejenak. Hari ini, udara berembus dengan cara yang berbeda. Ada semacam rahasia yang dibisikkan angin kepada dedaunan yang gemetar di ujung ranting, tentang sebuah perayaan yang tak kasat mata namun menggetarkan dada. Nadha, hari ini harap demi harap dilangitkan kembali, merobek awan-awan yang paling murung, dan semoga demi semoga diucapkan dengan lantang oleh semua penduduk bumi yang menyayangimu. Seolah-olah, hari ini, seluruh semesta sedang berkonspirasi untuk mengukir senyum di wajahmu. Aku sering merenung, di antara miliaran cerita manusia yang berlalu-lalang di bumi yang lelah ini, bagaimana mungkin garis nasib kita bisa bersinggungan? Jawabannya selalu sama: engkau terlahir sebagai manusia yang ceritanya dirangkai dengan sangat hebat, dengan begitu te...

Kemarau Membakar Sisa Ingatan

Udara siang ini terasa seperti embusan napas dari rahang tungku raksasa. Angin tidak lagi membawa aroma tanah basah seperti beberapa minggu lalu, melainkan debu kering yang menggores kerongkongan. Peralihan musim ini datang terlalu cepat, terlalu buas. Orang-orang di kedai kopi mulai membicarakan ramalan cuaca dengan nada cemas, tentang fenomena ekstrem yang akan memanggang kota ini berbulan-bulan ke depan. Namun, bagiku, kekeringan yang paling nyata bukanlah retakan tanah di pekarangan rumah, melainkan kekosongan yang tertinggal di cangkir kopi seberang mejaku. Cangkir itu kosong, seperti usahaku menahanmu. Matahari merayap naik, memanggang aspal jalanan di luar jendela. Sinarnya yang menyilaukan seolah menelanjangi sisa-sisa pertahananku. Aku teringat sore itu, sore ketika langit masih berbaik hati menurunkan gerimis tipis, namun di dalam ruangan kita, badai justru tengah mengamuk. Aku telah meletakkan segala logika di atas meja, menyusunnya rapi seperti kepingan puzzle, berharap kau...

Di Balik Nyala Marah

Hujan terakhir telah lama menguap, meninggalkan jejak petrikor yang kini digantikan oleh aroma debu kering dan daun-daun yang meranggas pasrah. Udara tidak lagi sekadar hangat; ia bergetar, merambatkan hawa yang memanggang kulit hingga ke pori-pori terdalam. Langit di luar jendela kehilangan biru lembutnya, berubah menjadi kanvas pucat yang menyilaukan. Orang-orang berbisik cemas tentang kemarau kali ini, sebuah musim gersang raksasa yang diramalkan akan menelan sisa-sisa kelembapan bumi dengan buasnya. Peralihan ini terjadi begitu cepat, seolah alam tidak memberikan kita waktu untuk sekadar mengatur napas. Dan di tengah udara yang terasa seperti mengurung kita dalam tungku raksasa ini, pertengkaran kita kembali pecah. Suaraku membelah keheningan ruang tamu yang pengap. Nada bicaraku tinggi, tajam, dan barangkali terdengar begitu menyayat. Aku melihat rahangmu mengeras, matamu memancarkan kelelahan yang sama dengan bumi yang sedang dipanggang matahari di luar sana. Kau pasti berpikir b...

Menggugat Tatapan Musim

Ada sesuatu yang ganjil dan mendesak pada udara belakangan ini. Bulan lalu angin yang biasanya membawa aroma petrikor, jejak basah dari langit yang menyentuh bumi kini berembus layaknya embusan napas dari tungku pembakaran. Sisa-sisa rintik air seolah dipaksa menguap bahkan sebelum ia sempat membasahi dedaunan. Kita sedang berada di ambang sebuah peralihan yang murka; sebuah kemarau panjang yang datang tidak dengan langkah mengendap-endap, melainkan dengan hentakan kaki raksasa yang siap memanggang apa saja. Di bawah langit yang perlahan berubah warna menjadi tembaga ini, peluh tidak hanya mengucur karena terik matahari yang memanggang ubun-ubun, tetapi juga karena rasa pengap yang lahir dari sebuah kesadaran. Sebuah kesadaran bahwa udara yang menekan dada ini nyatanya sangat mirip dengan bagaimana kita, entah sejak kapan, dipaksa bernapas dalam kehidupan yang kita jalani. Mungkin, draf naskah kehidupan kita telah ditulis bahkan ketika kita masih berupa detak yang sunyi di dalam rahim ...

Catatan Dosa Musim Kering

Sisa-sisa petrikor dari hujan terakhir bulan lalu kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh aroma tanah paron yang terpanggang dari ufuk ke ufuk. Udara tidak lagi sekadar menghangat; ia merangsek masuk melalui celah-celah jendela dan ventilasi seperti napas raksasa yang tengah murka. Angin yang sesekali berembus sama sekali tak membawa penawar, melainkan sekadar memindahkan hawa kering yang mengelupas bibir dan membuat daun-daun mangga di halaman menguning gugur sebelum waktunya. Langit di luar sana memamerkan warna biru pucat yang menyilaukan, tanpa selembar awan pun untuk berteduh. Peralihan musim ini terasa begitu brutal. Kelembapan sisa musim basah ditarik paksa oleh alam, menyisakan kerontang yang tidak hanya memanggang kulit, tetapi juga mengeringkan kewarasan. Di tengah udara yang mendidih dan mencekik ini, aku duduk mematung di sudut ruang tamu yang sengaja kugelapkan. Keringat membasahi tengkuk, namun bukan semata karena suhu ruangan. Aku sedang meratapi noda yang kutoreh...

Etalase Dusta di Musim Kerontang

Udara siang ini terasa seperti napas naga yang terengah-engah, berhembus kasar menyapu aspal kota yang mulai memuai. Hujan yang biasanya masih menitikkan rintik malu-malu meninggalkan jejak petrikor yang menenangkan kini raib diculik secara paksa. Sebagai gantinya, sebuah kemarau raksasa datang lebih awal, lebih buas, dan tanpa ampun memanggang apa saja yang bernapas di bawah langit yang pucat pasi. Tanah-tanah mulai meretak, pepohonan menunduk layu menderita dehidrasi parah, seolah alam sedang memberikan isyarat tentang sesuatu yang akan segera mengering dan mati. Namun, di balik jendela kaca gedung-gedung pencakar langit yang kedap suara dan dibekukan oleh pendingin ruangan, manusia anehnya justru sibuk membangun panggung fatamorgana. Udara di luar boleh saja mendidih hingga mengelupas kulit, tapi di dalam layar pipih di genggaman mereka, musim selalu semi. Layar-layar itu memancarkan cahaya artifisial, menyoroti etalase tempat bunga-bunga plastik bernama eksistensi dan validasi dipa...

Sisa Teduh Malam Hangus

Udara malam merambat lambat, tebal dan pekat bagaikan jelaga yang mengendap di dasar cangkir porselen tua. Musim kemarau kali ini hinggap bukan sebagai pergantian cuaca yang biasa; ia datang bagai gelombang panas tak kasat mata yang merayap dari balik horizon, memanggang permukaan bumi dengan hawa membakar yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Angin seolah mendadak mati, meninggalkan ruang-ruang kamar terkunci dalam kepungan hawa kering yang mencekik. Di luar jendela, dedaunan pohon mangga menguning pasrah sebelum runtuh menjadi debu, sementara tanah-tanah retak meratapi ketiadaan air. Namun, di dalam keheningan malam yang gerah dan mengucurkan peluh ini, saat dunia terasa begitu melelahkan, ada sebuah telaga kenangan yang mendadak menyeruak sejuk di dalam dada. Di bawah pendar redup lampu meja yang hangat, bayangan wajah-wajah itu muncul satu per satu. Mereka adalah manusia-manusia yang teramat berharga dalam lanskap hidup saya. Jika saya mencoba menghitung mereka kembali malam ini, j...