Matahari hari ini muncul dengan ketegasan yang sama seperti ribuan tahun lalu. Ia tak pernah bertanya pada awan apakah kehadirannya diinginkan, atau mengirim pesan singkat melalui angin untuk sekadar berbasa-basi. Ia hanya terbit. Memberi sinar, mengantar panas, memenuhi kontrak purbanya dengan alam semesta.
Di bawah sana, di sebuah halte yang pengap atau di balik kaca mobil yang sejuk, manusia mulai mengomel. "Gila, panasnya minta ampun!" atau "Neraka bocor" Mereka menyeka keringat seolah-olah butiran peluh itu adalah bentuk ketidakadilan sejarah. Padahal, Sang Surya hanya sedang menjadi dirinya sendiri. Ia menjalankan tugasnya tanpa pretensi untuk menjadi pahlawan, pun tanpa rasa bersalah ketika dianggap sebagai beban.
Lalu, di suatu waktu yang tak tertebak, giliran Hujan yang mengambil panggung. Ia turun begitu saja, mengguyur atap seng yang berisik dan tanah yang haus. Namun, sambutan yang diterimanya seringkali jauh dari kata hangat. Di sudut pasar, seorang pedagang memaki karena dagangannya basah. Di kompleks perumahan, seseorang mengeluh karena jemurannya—yang ia anggap sebagai pusat rotasi dunia—tak kunjung kering. Bahkan, Hujan seringkali difitnah secara kejam. Ia dituduh sebagai dalang tunggal atas banjir yang mengepung kota, atau tanah yang longsor di perbukitan, seolah-olah ia sengaja menjatuhkan diri dengan niat jahat.
Padahal, Hujan hanya sekadar turun. Ia melaksanakan titah tanpa peduli pada umpatan atau mismanajemen manusia atas drainase dan hutan yang mereka gunduli sendiri.
Sejatinya, hidup memanglah tentang konsistensi yang sunyi seperti itu. Matahari dan Hujan mengajarkan kita tentang sebuah kefanaan yang fungsional. Mereka punya fokus hidup. Mereka punya tujuan yang tegak lurus. Tak ada ruang untuk negosiasi atau rasa ingin tahu tentang opini publik. Mereka sadar bahwa dalam setiap tindakan, selalu ada sisi baik dan buruk yang menyertai secara simultan—tergantung dari sudut mana manusia berdiri melihatnya.
Mungkin, kita perlu belajar menjadi seperti mereka. Memiliki sebuah "tugas tetap" dalam hidup. Seringkali kita terlalu sibuk memutar kepala ke kiri dan ke kanan, mengukur langkah berdasarkan setuju atau tidaknya orang lain. Kita terjebak dalam labirin validasi yang menyesakkan, hingga lupa pada denyut misi yang seharusnya kita selesaikan.
Perihal orang lain yang tidak suka, perihal mereka yang tidak sepakat atau merasa jalan kita terlalu berisik, abaikan saja. Dunia ini sudah terlalu penuh dengan penyeimbang yang kita sebut sebagai Tuhan. Biarkan Dia yang bekerja mengatur neraca keadilan antara doa-doa yang terkabul dan keluhan-keluhan yang menguap di udara.
Tugas kita hanyalah terus berjalan. Selama akal sehat masih berdenyut di bawah tempurung kepala, dan norma-norma kemanusiaan masih menjadi kompas yang sahih, maka teruskanlah. Jadilah matahari yang terus bersinar meski dihujat panas. Jadilah hujan yang terus mengguyur meski dituduh sebagai bencana.
Karena pada akhirnya, yang tersisa bukanlah seberapa banyak orang yang bertepuk tangan untuk kita, melainkan seberapa setia kita pada janji yang kita buat sendiri di hadapan cermin, sebelum hari dimulai. Teruskanlah. Langit sudah tahu ke mana ia harus menempatkan setiap cahayanya.
Komentar
Posting Komentar