Kabupaten ini selalu punya cara untuk meluruhkan keberanian, namun tengah malam—saat jarum jam seolah bergerak lebih lambat dari detak jantung—adalah ruang suci bagi pengakuan. Di hadapanku, sebuah cangkir porselen putih yang tak lagi mengepulkan uap duduk dengan anggun. Di pinggirannya, ada noda kemerahan yang tertinggal. Sebuah jejak bibir. Sebuah interupsi kecil pada kemurnian keramik yang, jika aku teliti dengan seksama, adalah sebuah peta menuju ingatan yang paling berbahaya.
Kalau menuju tengah malam begini, aku merasa memiliki kewajiban moral untuk menerangkan bagaimana noda itu bisa mendarat di sana. Ia bukan sekadar sisa gincu yang lupa terhapus. Ia adalah titik simpul dari sebuah percakapan yang berkelok-kelok, melintasi trauma masa kecil hingga harapan-harapan konyol tentang masa depan. Entah pada sisa obrolan yang mana—apakah saat kita membahas keganjilan plot novel klasik atau saat kau bercerita tentang ketakutanmu akan perpisahan—kecupan itu menjadi tanda baca yang menutup sebuah kalimat panjang.
Aku memandangmu, dan dalam cahaya lampu temaram yang seolah sengaja berkonspirasi dengan suasana, aku merekam segala 'binar dan rupa'. Dua sosok tubuh kita yang duduk berhadapan ini seolah-olah menjadi artefak yang harus diselamatkan. Aku menyimpan lekuk senyummu dan kerutan di dahimu ke dalam laci ingatan yang paling dalam. Mengapa? Karena di luar sana, dunia sedang menyiapkan 'perang' bagi kita. Entah itu perang melawan rutinitas yang mematikan, perang melawan ekspektasi orang lain, atau perang melawan waktu yang gemar mencuri kebahagiaan. Aku berharap kita tak hilang sebelum semua badai itu reda.
Ada semacam ketakutan yang elegan saat kita mencintai seseorang dengan begitu dalam. Kita menjadi sadar bahwa kita rapuh. Namun, lewat tulisan ini, aku sedang membangun benteng. Agar kelak, ketika entitas lain—apakah itu rasa curiga, rasa bosan, atau rasa penasaran dari orang-orang luar yang gemar menghakimi—datang menyerang, aku tak perlu lagi merasa ragu. Tak akan pernah terbesit rasa salah untuk mengaku secara gamblang bahwa iya, aku milikmu, dan kau adalah duniaku yang paling riuh sekaligus paling sunyi.
Pengakuan ini adalah bentuk tanggung jawab. Sebab, bagiku, jatuh cinta tidak pernah menjadi sebuah kecelakaan yang tanpa alasan. Jatuh cinta selalu punya sebab yang logis, meski dirasakan secara magis. Aku jatuh karena caramu memandang dunia, karena caramu menata diksi di antara helaan napas, dan karena noda bibir di pinggiran cangkir itu adalah bukti bahwa kita pernah ada dalam satu frekuensi yang tak terjamah oleh siapapun.
Ketika malam mulai merayap menuju dini hari, saat udara menjadi lebih gigil dan suara kendaraan di kejauhan mulai menghilang, aku sudi menguraikan tiap tulisan yang kupamerkan ini padamu. Aku ingin kau membacanya perlahan, seperti caramu menyesap kopi pahit di sore hari. Aku ingin sewaktu kau menyentuh barisan kata ini, tidak ada lagi kalimat tanya yang kau layangkan. Kau tak perlu lagi bertanya apakah aku akan tinggal, atau apakah perasaan ini hanya sekadar mampir sebelum fajar.
Satu-satunya hal yang akan kau pahami adalah wujud pengakuan yang kini sepenuhnya aku kuasai. Aku bukan lagi pria yang gagap dalam menyatakan rindu. Aku telah menjadi kurator dari segala rasa yang kualami bersamamu. Karena bagiku, membaurkanmu pada jajaran diksi merupakan hal yang paling kusukai di dunia ini. Tulisan adalah caraku mengabadikanmu. Tulisan adalah caraku memastikan bahwa meskipun raga kita suatu saat nanti luruh dimakan usia, binar mata dan noda di cangkir itu tetap abadi dalam teks yang takkan pernah mati.
Lantas, bila kau punya waktu senggang setelah membaca ini, maukah kau duduk kembali di hadapanku? Biarkan aku kembali menerangkan, dengan lebih seksama lagi, bagaimana tengah malam selalu menjadi saksi bahwa kita adalah dua manusia yang keras kepala dalam mencintai, bahkan di ambang perang sekalipun.
Sebab di antara binar dan rupa, hanya kejujuran yang mampu menyelamatkan kita dari kehampaan. Dan aku, telah memilih untuk jujur dalam setiap tarikan napasku, dan dalam setiap tumpahan tinta yang membentuk namamu.
Komentar
Posting Komentar