Langsung ke konten utama

Ruang Kedap di Balik Kata Baik-Baik Saja

Ada sebuah ruang di dalam dadaku yang dinding-dindingnya terbuat dari peredam suara paling mutakhir. Di sana, teriakan bisa pecah menjadi butiran debu tanpa pernah sampai ke telinga orang-orang di meja makan, atau bahkan mereka yang berbagi bantal denganku. Aku adalah arsitek dari sebuah bangunan bernama "Aku Baik-Baik Saja"—sebuah fasad yang kususun bata demi bata, dari semen ketabahan dan cat warna netral yang menipu mata dunia.

Kerap kali aku bertanya-tanya, sejak kapan aku kehilangan kemampuanku untuk memetakan rasa sakit? Jika seseorang bertanya, "Di mana letak perihnya?", aku akan mendadak gagap. Seperti membaca peta kuno yang tintanya sudah luntur oleh hujan, aku tak tahu apakah bebannya ada di pundak, di ulu hati, atau justru di rongga kepala yang tak henti berdenyut. Aku hanya tahu bahwa hatiku sesak, seolah-olah seluruh oksigen di dunia ini mendadak enggan mampir ke paru-paruku.

Dunia mengenalku sebagai sosok yang tenang. Mungkin terlalu tenang. Saat hinaan datang meluncur seperti anak panah, aku tidak membalas dengan busur yang sama. Aku hanya diam. Bukan karena aku suci atau pemaaf, melainkan karena aku terlalu bingung untuk melakukan hal lain. Ada sebuah kebuntuan yang mencekik saat masalah besar datang menghantam; sebuah labirin tanpa pintu keluar yang membuatku merasa lebih baik meringkuk di pojok kamar daripada mencari bantuan. Di kamar itu, dalam remang yang jujur, aku adalah seorang aktor yang melepaskan kostumnya, namun tetap tak mampu menangis dengan suara keras.

Aku adalah orang yang pandai mengeluh lelah, tapi tak pernah mengizinkan satu tetes air mata pun jatuh di depan publik. Bagiku, menangis di hadapan orang lain adalah sebuah kerentanan yang tak mampu kutanggung risikonya. Aku lebih memilih merayakan tangisanku sendirian, sebuah upacara rahasia tanpa undangan, tanpa karangan bunga, hanya ada aku dan jemariku sendiri yang sibuk mengusap pipi sebelum jejaknya sempat mengering.

Ada satu keanehan dalam diriku: aku tidak pernah pergi meskipun merasa dibuang. Bahkan ketika kata-kata orang lain menusuk hingga ke jantung, membuat hatiku seolah diremas oleh tangan raksasa, aku tetap di sana. Bertahan dalam pengabaian, menelan ludah yang terasa sepahit empedu, meski keinginan untuk menghilang—benar-benar lenyap dari permukaan bumi—berdentum keras di dalam kepala. Aku selalu mencoba menjadi yang terbaik, memberikan versi diriku yang paling paripurna, hanya untuk kemudian dipatahkan lagi oleh perkara-perkara sepele maupun badai yang besar. Ribuan kali aku mencoba bangkit, dan ribuan kali pula aku menyaksikan diriku sendiri runtuh.

Aku hanya bisa bicara secara jujur kepada segelintir manusia—mereka yang memiliki frekuensi yang sama, yang paham tanpa perlu aku mendefinisikan rasa sakitku dengan kamus kedokteran atau filsafat. Kepada mereka, aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku lebih banyak diam.

Pada akhirnya, hidupku adalah tentang bagaimana menyembunyikan retakan di balik dinding yang nampak kokoh. Aku tidak butuh dunia ikut merayakan duka yang kumiliki. Biarlah kesedihan ini menjadi milikku sepenuhnya, sebuah rahasia yang tersimpan rapat dalam laci paling bawah di hatiku. Karena bagiku, menjadi kuat bukan berarti tidak hancur, melainkan pandai merangkai kembali pecahan-pecahan diri sendirian, lalu keluar pintu dengan senyum yang sudah disetrika rapi, sambil berbisik pelan pada dunia: "Ya, aku baik-baik saja."

Komentar