Ibu, aku tahu bagimu pintu kayu yang tertutup rapat itu adalah sebuah pernyataan perang. Atau mungkin, sebuah nisan bagi harapan-harapanmu yang kau semai sejak aku masih dalam kandungan. Di matamu, kamar ini hanyalah sebuah gua pengap tempatku meringkuk, menghabiskan waktu dengan ritual yang kau anggap sia-sia: makan, tidur, dan bernapas dalam kesunyian.
"Lihatlah anak-anak seumuranmu di luar sana," katamu suatu pagi, suaramu setajam sembilu yang menyayat udara dapur yang lembap. "Mereka sudah menggenggam dunia. Mereka berlari, sementara kau hanya diam mematung di dalam tempurung."
Kalimat itu, Ibu, jatuh seperti hantaman beton di pundakku. Aku ingin sekali membuka pintu, keluar, dan memelukmu. Namun, lidahku kelu. Di dalam kepalamu, aku adalah sebuah kegagalan yang statis. Aku adalah potret stagnasi di tengah dunia yang bergerak secepat kilat. Mungkin yang sering terlihat di netramu memang begitu, Bu; aku seperti tidak mengusahakan apa pun. Aku tampak seperti air tenang yang mulai berlumut karena enggan mengalir.
Namun, tahukah Ibu apa yang terjadi saat lampu-lampu di rumah kita padam dan kau telah terlelap dalam mimpi?
Di balik pintu yang kau benci itu, aku sedang bertarung dengan naga-naga yang tidak memiliki wujud. Aku menghabiskan malam-malamku dengan terjaga, hingga mataku panas dan kepalaku terasa seperti akan pecah oleh ribuan angka, rencana, dan kegagalan yang datang bertubi-tubi. Sukses, kata orang-orang, adalah sebuah puncak yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang memiliki sayap. Aku tidak memiliki sayap, Bu. Aku hanya memiliki sepasang kaki yang lecet karena terus mencoba mendaki jalan yang licin ini.
Aku sudah mengerahkan segala kemampuanku. Segala daya yang kupunya telah kuhamburkan demi mengejar kata "sukses" yang sering kau banggakan itu. Namun, sepertinya garis takdir tidak sedang ingin bersahabat denganku. Kita sering lupa, atau mungkin dunia yang memaksamu lupa, bahwa garis nasib manusia bukanlah sebuah perlombaan lari di lintasan yang sama. Ada yang lahir dengan angin di punggungnya, ada yang lahir dengan beban di dadanya.
Gagal juga bagian dari tumbuh, Bu. Bukankah pohon jati harus meranggas dan terlihat mati sebelum ia kembali perkasa? Bukankah laut harus surut sebelum ia kembali membawa gelombang? Saat ini, aku sedang dalam fase "surut" itu. Aku tidak sedang diam; aku sedang mengumpulkan tenaga untuk sebuah pasang yang entah kapan akan tiba.
Dalam gelap, aku merapalkan doa-doa kepada-Nya. Suaraku parau, bersaing dengan detak jam dinding yang seolah mengejek keterlambatanku. Aku meminta agar Tuhan memberiku sedikit saja cahaya untuk melihat langkah selanjutnya. Namun, mungkin Tuhan memang ingin aku lebih bersabar. Mungkin Dia ingin aku belajar bahwa sukses bukan sekadar tentang posisi, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan dalam ketidakpastian.
Namun, di tengah segala usaha yang sunyi itu, ada satu tanya yang terus mengusikku. Sebuah tanya yang membuat dadaku terasa sesak setiap kali aku mendengarmu membandingkanku dengan anak-anak lain.
Ibu, di antara barisan doa yang kau panjatkan di atas sajadahmu setiap subuh, adakah terselip namaku di sana? Apakah kau memohon agar aku dikuatkan, ataukah kau hanya memohon agar aku segera menjadi "seperti mereka"? Apakah namaku disebut sebagai anak yang kau cintai dalam prosesnya, atau sebagai beban yang kau keluhkan hasilnya?
Aku sangat ingin nasibku sama dengan mereka, Bu. Aku ingin melihat binar bangga di matamu saat kau bercerita kepada tetangga tentang keberhasilanku. Tapi tolong, jangan anggap diamku sebagai ketiadaan usaha. Jangan anggap kamarku sebagai tempat persembunyian dari tanggung jawab. Ini adalah medanku. Ini adalah laboratorium tempat aku meracik kegagalan demi kegagalan menjadi sesuatu yang (semoga) akan kau banggakan suatu hari nanti.
Tunggu sebentar lagi, Bu. Jangan dulu menyerah padaku. Sebab di balik pintu yang terkunci ini, ada seorang anak yang sedang berjuang mati-matian hanya untuk membuktikan bahwa dia layak menjadi anakmu.
Komentar
Posting Komentar