Langsung ke konten utama

Bahasa yang Kau Rakit dalam Teduh

Terdengar berlebihan? Memang. Barangkali bagi telinga yang terbiasa dengan retorika besar atau deklarasi cinta yang meledak-ledak di bawah lampu kota, apa yang kurasakan ini tampak seperti hiperbola yang dipaksakan. Namun, di hadapan secangkir kopi yang mendingin dan kenangan yang mendadak pualam, aku tidak ingin lagi menyangkal hari itu. Aku mengakui: aku jatuh. Dan aku jatuh bukan karena guncangan hebat, melainkan karena sebuah tarikan gravitasi yang halus, konsisten, dan nyaris tak bersuara.

Aku menyebutnya sebagai bahasa cintamu. Biarkan aku menamainya begitu, meski mungkin kamus mana pun akan kesulitan merumuskan definisinya secara akurat. Sebab, bagaimana mungkin kita memberi nama pada sesuatu yang tidak berwujud kata-kata, melainkan mewujud dalam gerak-gerik yang begitu organik hingga hampir luput dari pandangan mata yang tergesa-gesa? Segalanya yang kamu suguhkan adalah perjamuan dari tindakan-tindakan kecil yang nyata.

Dalam dunia yang sering kali menuntut kita untuk menjadi luar biasa, kau justru memilih untuk menjadi ada. Sesederhana itu. Kau memulai segala ritual ini dengan memastikan aku baik-baik saja—sebuah pertanyaan yang sering kali dianggap basa-basi oleh orang lain, namun di mulutmu, ia terdengar seperti sebuah doa perlindungan. Kau menyediakan telinga, bukan sekadar sebagai organ pendengaran, melainkan sebagai sebuah ruang kosong yang luas bagi segala racauanku. Kau mendengarkan ketakutanku tentang masa depan, keluhanku tentang kemacetan yang tak masuk akal, hingga teori-teori konyolku tentang mengapa awan berbentuk seperti gajah. Kau tidak memotong, kau tidak menghakimi; kau hanya duduk di sana, menyerap segala residu emosiku seolah-olah itu adalah narasi paling penting di abad ini.

Lalu ada caramu memintaku untuk selalu makan dengan baik. Itu bukan sekadar perintah nutrisi. Bagiku, itu adalah caramu mengatakan bahwa tubuhku berharga, bahwa eksistensiku penting bagi keberlangsungan duniamu. Kau adalah orang yang paling gigih membiarkanku percaya diri. Saat aku merasa seperti remah roti yang tak berarti di tengah kerumunan, kau memandangku seolah aku adalah pusat semesta. Bukan dengan pujian yang melambung tinggi ke langit, tapi dengan sorot mata yang tenang, yang berkata bahwa aku cukup, bahkan saat aku merasa sangat kurang.

Namun, jika harus memilih satu ingatan yang paling mengunci hatiku, itu adalah saat kita duduk di sebuah kedai kecil yang remang. Aku sedang asyik berbicara, tangan-tanganku bergerak lincah mengikuti alur cerita, dan tanpa sengaja aku meletakkan gelas minumanku di pinggir meja yang rawan. Tanpa memutus kontak mata, tanpa menghentikan aliran percakapan kita, tanganmu bergerak perlahan, menggeser gelasku lebih ke tengah.

Hanya itu. Sebuah gerakan sepanjang lima sentimeter.

Tapi di mataku, gerakan itu adalah sebuah simfoni. Kau menjaga apa yang tidak kusadari sedang dalam bahaya. Kau mengamankan duniaku tanpa perlu aku memintanya. Di situlah aku menyadari bahwa aku rupanya telah jatuh sepenuhnya pada teduhmu. Kau bukan matahari yang membakar, kau adalah bayang-bayang pohon besar di tengah hari yang terik. Kau adalah ketenangan yang kucari setelah lelah berperang dengan kebisingan dunia.

Terima kasih, ya, sudah pernah membuatku untuk mengenal apa yang kusebut sebagai bahasa cinta tadi. Sebuah bahasa yang tidak butuh subjek, predikat, dan objek yang kaku, melainkan hanya butuh ketulusan yang cair. Terima kasih karena membuatku kembali merasakan hangat kata-kata, bahkan saat kata-kata itu tidak diucapkan. Sebab, melalui tindakanmu, kata-kata yang tadinya dingin dan mati di dalam buku-buku lama, mendadak berdenyut kembali dalam nadiku.

Aku tahu, sering kali kau melabeli dirimu sendiri dengan bentuk-bentuk tidak percaya. Kau mungkin melihat ke dalam cermin dan hanya menemukan retakan, kekurangan, atau noda yang kau anggap sebagai kegagalan. Kau sering menghukum dirimu sendiri dengan standar yang terlalu tinggi, menganggap bahwa kau tidak cukup layak untuk menerima kebahagiaan yang kau berikan pada orang lain.

Tapi izinkan aku menjadi saksi yang paling jujur bagimu. Bagiku, kau adalah manusia paling berharga. Bukan karena kau sempurna—karena kesempurnaan adalah konsep yang membosankan dan dingin—tapi karena kau nyata. Karena kau memiliki keberanian untuk menjadi lembut di dunia yang keras ini. Kau adalah bukti bahwa kepahlawanan tidak selalu datang dengan jubah dan sorak-sorai; kadang, ia datang dalam bentuk tangan yang menggeser gelas ke tengah meja agar ia tidak pecah.

Mengenalmu adalah seperti membaca sebuah novel yang tidak ingin kuselesaikan halamannya. Aku ingin terus berada di sana, di antara baris-baris tindakanmu, di dalam paragraf-paragraf perhatianmu. Terima kasih sudah memberiku ruang untuk kembali bernapas dengan lega. Terima kasih karena telah menjadi "teduh" yang membuatku tak lagi takut pada terik.

Terima kasih, ya? Kalimat tanya ini bukan karena aku ragu, tapi karena aku ingin kau mengiyakannya di dalam hatimu sendiri. Bahwa kau memang berharga, dan bahwa semua bahasa cintamu itu telah sampai ke tujuannya dengan sangat, sangat baik.

Komentar