Langsung ke konten utama

Sepetak Lapang Dada

Pagi itu, aroma di kedai kopi kecil di sudut kota itu terasa begitu tajam, seolah-olah setiap partikel udara ingin bercerita tentang rahasia para pengunjungnya. Saya duduk menghadap jendela yang sedikit berembun, menatap sebuah cangkir keramik berisi cairan hijau pekat yang mengepul. Matcha. Sebuah rasa yang bagi sebagian orang adalah kemewahan bumi yang jujur, namun bagi sebagian lainnya hanyalah sekadar rasa "rumput" yang gagal dipahami.

Di seberang meja, seorang kawan menyesap coklat panasnya dengan takzim. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa manis yang kental itu memeluk indra perasanya. "Coklat itu rumah," katanya pelan. "Ia tidak menuntutmu untuk mengerti. Ia hanya ingin kau merasa nyaman."

Saya tersenyum tipis, masih menatap matcha saya. Barangkali, di sanalah perjalanan ini dimulai. Di antara semua perjalanan panjang yang kita lalui—yang berliku, yang penuh peluh, yang seringkali membuat kita ingin menyerah di tengah jalan—istilah 'penerimaan' akhirnya menjadi sebuah perkara yang tak terelakkan. Ia bukan lagi sekadar kata sifat dalam kamus, melainkan sebuah tindakan aktif, sebuah keputusan yang seringkali harus diambil dengan napas yang berat.

Menerima adalah sebuah seni yang melelahkan. Seperti halnya menerima bahwa tak semua manusia harus jatuh cinta pada pahit-getir matcha yang saya gemari. Kita tak bisa memaksa dunia untuk memiliki selera yang sama dengan kita. Namun, pelajaran yang lebih besar bukan pada perbedaan selera itu sendiri, melainkan pada bagaimana kita berhenti merasa "kurang" atau "salah" hanya karena orang lain lebih memilih kenyamanan coklat.

Dalam hidup, kita seringkali menjadi pelukis yang ambisius. Kita menggambar sketsa masa depan dengan garis-garis yang tegas, mewarnainya dengan impian-impian yang paling terang. Kita ingin merengkuh segalanya dalam satu waktu: karier yang gemilang, cinta yang utuh, dan pengakuan yang tulus. Namun, semesta memiliki ritme-nya sendiri. Kita seringkali terbentur pada kenyataan bahwa untuk segala yang kita mau, tidak mesti mampu kita rengkuh dalam satu dekapan saja.

Ada jeda yang harus diisi. Ada waktu tunggu yang kadang terasa seperti hukuman. Di sinilah kita dipaksa untuk menyiapkan secuil—atau mungkin sepetak—perasaan lapang. Sebuah ruang di dalam dada yang khusus disediakan untuk menampung bermacam ketidakberhasilan atas perihal yang telah kita perjuangkan habis-habisan.

Saya teringat pada suatu masa, ketika saya merasa telah memberikan segalanya untuk sebuah proyek yang saya yakini sebagai "puncak" dari identitas saya. Saya kurang tidur, saya mengabaikan janji temu dengan orang tersayang, dan saya membiarkan seluruh pikiran saya tersedot ke sana. Namun, hasilnya tetap nol besar. Kegagalan itu datang tanpa mengetuk pintu, membawa serta rasa malu dan kehampaan yang luar biasa.

Saat itu, saya belajar bahwa menerima bukan berarti menyerah. Menerima adalah mengakui bahwa garis-garis yang saya buat dalam sketsa itu hanyalah rencana seorang manusia.

Maka, boleh jadi di sisa perjalanan yang kini kita tempuh, ia hanya akan penuh terisi oleh satu kata: penerimaan. Bukan lagi tentang pencapaian-pencapaian baru yang mentereng, melainkan tentang bagaimana kita merespons persoalan yang tidak pernah kita perhitungkan sebelumnya.

Kita seringkali memiliki daftar panjang permintaan kepada Pemilik Seluruh Kehidupan. Kita meminta kesehatan, kita meminta kelapangan rezeki, kita meminta kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita. Namun, jarang sekali kita terpikir untuk menyertakan "kekuatan untuk menerima hal-hal yang tidak saya inginkan" dalam daftar tersebut. Kita lupa mengikutsertakan variabel kehilangan, pengkhianatan, atau perubahan rencana yang tiba-tiba ke dalam doa-doa kita.

Dan ketika hal-hal yang tidak ada dalam daftar itu datang, rasanya begitu berat. Seperti mendaki gunung dengan beban batu di punggung, sementara udara kian menipis. Kita bertanya-tanya, "Mengapa ini? Mengapa sekarang?"

Namun, bukankah di titik terendah itulah kita seringkali diingatkan tentang siapa yang benar-benar memegang kendali?

Seperti karakter dalam novel-novel sejarah yang sering saya baca, yang harus menerima bahwa zaman telah berubah dan idealisme mereka harus berhadapan dengan realitas yang pahit, kita pun demikian. Ada sebuah ketetapan yang lebih besar dari sekadar ambisi pribadi. Bukankah Ia lebih Maha Mengetahui atas segala yang dikehendaki?

Ketidakberhasilan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bentuk navigasi baru. Mungkin kita tidak diberikan matcha yang kita inginkan karena sebenarnya jiwa kita saat itu sedang membutuhkan kehangatan coklat. Atau sebaliknya, kita dipaksa mengecap pahitnya kegagalan agar kita bisa menghargai rasa manis sekecil apa pun nantinya.

Kedai kopi itu mulai ramai. Cahaya matahari sore mulai masuk, menyinari butiran debu yang menari-nari di atas meja. Saya akhirnya menyesap matcha saya yang sudah mendingin. Rasanya tetap sama: ada pahit yang tertinggal di pangkal lidah, namun ada ketenangan yang menyertainya.

Menerima adalah cara kita memeluk diri sendiri. Ia adalah kemampuan untuk berkata kepada cermin, "Kamu sudah berjuang, dan meski hasilnya tak sesuai rencana, kamu tetap berharga."

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak hal yang berhasil kita rengkuh, melainkan seberapa lapang dada kita saat harus melepaskan apa yang bukan milik kita. Di perjalanan yang tersisa ini, saya memilih untuk berjalan dengan lebih ringan. Tanpa daftar tuntutan yang terlalu kaku, namun dengan hati yang selalu siap untuk menerima apa pun yang telah diputuskan oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Sebab, di balik setiap peristiwa yang tidak sempat terpikirkan untuk kita minta, selalu ada hikmah yang hanya bisa terbaca oleh mereka yang bersedia berhenti sejenak, dan bernapas dalam sebuah penerimaan yang tulus.

Komentar