Langsung ke konten utama

Permulaan Keabadian Asmara

Kekasih,

Dalam bilik paling rahasia di tubuh kita, sepasang merpati telah lama bersarang. Mereka tidak mengepakkan sayap dari bulu dan tulang, tidak juga mematuk jagung di pekarangan. Sayap-sayap mereka adalah getar sunyi yang tak kasat mata, denyut yang merambat dari jemariku menuju jantungmu. Ya, dalam tubuh kita merpati mengirim asmara melewati gawaimu. Benda pipih dari logam dan kaca itu, yang dingin jika disentuh, entah bagaimana menjadi sangkar paling hangat bagi pesan-pesan yang lahir dari kertak sunyi di kepalaku. Setiap huruf yang kuketik adalah kepak sayap, setiap tanda kirim adalah pelepasan merpati itu ke angkasa digital, melintasi rimba sinyal yang riuh, hanya untuk hinggap dengan selamat di berandamu. Di layar gawaimu.

Dan beberapa suratku telah kau baca. Surat-surat yang tak lagi ditulis di atas kertas rapuh beraroma cendana, melainkan di atas kanvas cahaya berpendar. Di sana, kata-kata tak menunggu keringnya tinta, ia hidup seketika. Kau membacanya. Selalu. Mungkin sambil menyeruput kopi pagimu yang mulai mendingin, atau di sela-sela helaan napas lelah setelah seharian bergulat dengan dunia. Kita merangkai obrolan kecil tentang kuliah; tentang dosen yang fasihnya seperti dewa atau membosankannya seperti pidato pejabat. Tentang musik yang mengalun dari pengeras suara murahan di sudut kantin, yang entah mengapa terdengar begitu syahdu hanya karena kita mendengarkannya dalam waktu yang bersamaan, di tempat yang berjauhan. Tentang rapat-rapat organisasi yang memuakkan namun juga menempa, tentang bagaimana dunia ideal di kepala kita selalu saja terbentur oleh kenyataan yang dungu.

Obrolan-obrolan kecil itu, Kekasih, adalah jembatan gantung yang kita bangun dari serat-serat keseharian. Rapuh, namun cukup kuat untuk kita seberangi setiap hari. Dan dari jembatan itu, tak jarang juga obrolan kita meraba kelak apa yang terjadi di masa depan. Kita menjadi sepasang peramal buta, mencoba membaca garis takdir di telapak tangan masing-masing melalui layar yang menyala. Kau bertanya tentang kota mana yang akan kita tinggali. Aku bercerita tentang rumah dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke timur. Kita menyusun mimpi-mimpi sederhana; bukan istana megah atau takhta kuasa, hanya sebuah ruang di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri, bersama. Percakapan itu melayang, tak pasti, namun meninggalkan jejak harapan yang berkilauan seperti embun di pucuk daun.

Maka dengarlah, Kekasih. Aku tak pernah takut untuk mencintaimu berkali-kali. Setiap pagi saat membuka mata, aku memilih untuk jatuh cinta lagi padamu. Setiap malam saat menutupnya, aku bersyukur atas cinta yang sama. Ketakutan adalah milik mereka yang menghitung untung-rugi, yang menimbang-nimbang pengorbanan. Cintaku padamu bukanlah transaksi, ia adalah perayaan. Ia adalah napas. Bagaimana mungkin aku takut untuk bernapas? Sebab sejak dahulu di muka langit baik bumi telah ku kenalkan dirimu dalam bait paling sunyi, jauh sebelum merpati digital ini belajar terbang. Aku mengenalkanmu pada angin saat ia membisikkan lagu purba, pada tanah saat ia menumbuhkan kuntum pertama, pada bintang-bintang saat mereka masih belajar berkelip di pekat semesta.

Dan di kesunyianku, saat aku hanya berdua dengan aksara, kadang anak diksi maupun rahim kata bertanya tentang siapa wanita itu dan mengapa kau memperhatikannya sedemikian rupa. Mereka cemburu, Kekasih. Kata-kata yang biasa kuperah untuk melukis senja atau mengutuk tiran, kini seluruhnya ingin kugunakan hanya untuk mengeja namamu. Mereka bertanya, siapakah gerangan perempuan yang mampu membuat jeda menjadi lebih bermakna daripada kalimat itu sendiri? Siapakah ia yang senyumnya lebih puitis dari sajak paling liris? Lalu ku bisikkan kepada rahim kata seraya menjawab, dengan kelembutan seorang ayah pada anaknya, ”Ssst. Perhatikan saja dia. Pahami lekuk tawanya, resapi kedalaman tatapannya. Ini hanya awal mula, permulaan keabadian asmara.”

Dan malam ini, di antara ribuan kilometer yang memisahkan raga, aku melihatmu. Kekasih, ku singgahi lagi senyummu yang terlukis Dalam pekarangan bulan. Kau di sana, mungkin menatap langit yang sama, di bawah bulan yang cahayanya memandikan atap rumahmu. Senyummu terlukis di sana, di antara kawah-kawah sunyi sang satelit, menjadi satu-satunya relief yang ingin kupandangi selamanya. Aku melihatnya, dan aku tahu, di dalam diri kita masing-masing, sesuatu tengah bertumbuh dengan liar dan indah. Bunga-bunga telah merimba, Kekasih. Perasaan yang dulu hanya setitik benih, kini telah menjadi belantara rimbun yang akarnya saling memaut di kedalaman jiwa kita. Ia rimbun, namun ia juga butuh dirawat.

Maka, mari lekas segera sirami bersama benih dalam hati kita. Sirami dengan kepercayaan saat kemarau keraguan tiba. Pupuki dengan pengertian saat hama kesalahpahaman menyerang. Pangkas ranting-ranting egoisme yang menghalangi cahaya untuk masuk. Karena pada sebuah malam yang kaulupakan barangkali, di sela obrolan kita tentang masa depan, telah ku bisikkan di telingamu bahwa, sebaik-baiknya tumbuh adalah merawat bersama. Sebab cinta bukanlah penemuan, ia adalah penciptaan. Ia tidak ditemukan dalam wujud jadi, ia dibentuk, dipahat, dan dirawat setiap hari, oleh dua pasang tangan yang berjanji untuk tidak akan saling melepaskan. Tangan kita, Kekasih. Tangan kita.

Komentar