Rindulah, katamu, sampai kapan pun kau mau. Sebuah kalimat yang terdengar seperti izin, sekaligus kutukan. Kau memberiku kebebasan untuk memelihara sesuatu yang tak pernah benar-benar kumiliki. Maka, kuputuskan untuk merindukanmu. Sepenuhnya, sesederhana pagi menyambut matahari tanpa bertanya apakah ia akan terbit esok hari.
Pada mulanya, rindu adalah tamu yang datang dengan riuh. Ia mengetuk pintu di tengah malam, menyelinap dalam mimpi, dan meninggalkan jejaknya pada embun di jendela saat fajar tiba. Namamu menjadi mantra yang dirapal dalam diam, di sela helaan napas, di antara denting sendok dan cangkir kopi. Rindu adalah warna yang paling terang, melukis hari-hari kelabu dengan bayang-bayang wajahmu. Ia adalah lagu yang tak pernah selesai, nadanya terus berdengung bahkan ketika dunia sedang hening-heningnya. Aku berbincang dengannya, dengan rindu ini. Kutanyakan kabarnya hari ini, apakah ia masih betah tinggal di dalam diriku. Ia hanya tersenyum, lalu menunjuk ke arah jantungku, seolah berkata bahwa ia telah menemukan rumah yang paling nyaman.
Waktu, penonton yang paling sabar, hanya memerhatikan. Ia berjalan perlahan, menyeret jarum jam dengan langkah yang tak pernah tergesa-gesa. Bulan berganti, musim bergeser. Hujan di bulan Juni tak lagi terasa istimewa, sebab setiap hari adalah gerimis yang sama di dalam dada. Rindu yang tadinya tamu, perlahan menjadi penghuni tetap. Ia tak lagi riuh. Ia menjadi bagian dari perabot jiwa, diam di sudut ruangan, berdebu, namun selalu ada. Aku terbiasa dengan kehadirannya. Kami tidak lagi banyak bicara. Aku sibuk dengan kertasku, ia sibuk dengan keabadiannya. Kadang, aku lupa bahwa ia ada, sampai sebuah lagu lama tak sengaja diputar, atau aroma parfum yang mirip tercium di keramaian. Saat itu, ia akan bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk debu di pundakku, seolah mengingatkan, "Aku masih di sini."
Namun, tidak ada yang abadi, bahkan rindu sekalipun. Bukan waktu yang membunuhnya, melainkan sesuatu yang tumbuh dari dalam, dari kelelahan yang menumpuk. Letih. Ia datang bukan sebagai badai, melainkan sebagai akar yang merambat pelan, menggerogoti tanah tempat rindu itu tumbuh subur. Letih adalah kesadaran bahwa secangkir kopi tetaplah secangkir kopi, sepahit atau semanis apa pun ia dibuat, ia tak akan pernah bisa menyimpan percakapan kita. Letih adalah pemahaman bahwa jalanan yang dulu kita lewati tetaplah jalanan yang sama, kini hanya hamparan aspal bisu yang tak lagi mengingat derap langkah kita.
Proses itu begitu halus, nyaris tak terasa. Letih mulai mengikis esensi dari kata "rindu". Bayang-bayangmu yang dulu tajam, kini memburam di tepiannya. Namamu yang dulu mantra, kini hanyalah rangkaian aksara tanpa daya magis. Kenangan tak lagi berputar seperti film, melainkan hanya menjadi foto-foto kusam yang terselip di antara halaman buku yang jarang kubuka. Merindukanmu tidak lagi terasa seperti sebuah kebutuhan, melainkan sebuah kebiasaan yang mulai kehilangan maknanya, seperti menyeduh teh tanpa benar-benar ingin meminumnya.
Hingga akhirnya tiba hari itu. Hari di mana aku terbangun dan tidak lagi mencarimu di sela-sela tirai jendela. Hari di mana aku mendengar lagu kita, dan yang terasa hanyalah alunan melodinya, bukan lagi tusukan memori di ulu hati. Rindu itu telah lelah. Ia telah menempuh perjalanan yang begitu jauh di dalam diriku, hingga akhirnya ia sampai pada titik di mana ia ingin beristirahat selamanya. Ia tidak pergi dengan pamit. Ia hanya luruh, seperti daun kering yang melepaskan diri dari rantingnya tanpa perlawanan, jatuh ke tanah dan menjadi bagian darinya.
Yang tersisa bukanlah kebencian, bukan pula kelegaan yang riuh. Hanya sebuah ruang kosong yang lapang. Rindu itu telah terbakar habis oleh apinya sendiri, dan kini ia menjadi abu. Abu yang dingin, yang tak lagi menyimpan panas. Abu yang menandakan bahwa pernah ada api yang berkobar hebat, namun kini telah selesai dengan tugasnya.
Dan aku? Aku membiarkan abu itu beterbangan ditiup angin pagi. Rindu itu tidak lagi menjadi beban. Ia telah menjadi bagian dari udara yang kuhirup, tanpa perlu lagi kusesali. Sebab, seperti katamu, aku telah merindu sampai letih mengikis seluruh definisinya. Dan ternyata, di balik letih itu, ada sunyi yang mendamaikan.
Komentar
Posting Komentar