Maka, sampailah kita pada halaman terakhir, bukan? Atau setidaknya, pada jeda sebelum sebuah buku ditutup, sebelum debu waktu mulai hinggap pada sampulnya. Di sini, di batas antara riuh rendah kata yang telah terucap dan sunyi yang akan datang, selalu ada semacam keengganan. Keengganan untuk melepaskan, untuk mengatakan bahwa semua telah usai. Karena cerita, seperti halnya kehidupan di sebuah kampus yang berdenyut di jantung kota kecil, tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti babak, berganti aktor, berganti penonton.
Dan mereka, kedua belas itu—atau sebelas, atau sepuluh,
tergantung dari sudut mana kau memandang, tergantung siapa yang menghitung
detak jantung yang tersisa—adalah sebuah lakon tersendiri. Sebuah anomali yang
lahir dari rahim keresahan, sebuah ikatan yang terjalin dari benang-benang
kusut pertikaian awal. Siapa yang bisa meramal bahwa dari ketidaksepakatan,
dari kutub-kutub yang saling menolak, justru akan lahir sebuah konstelasi yang
begitu ganjil sekaligus begitu lekat? Nama yang mereka sematkan pada diri
sendiri, sebuah ironi yang getir sekaligus membanggakan, adalah topeng
sekaligus wajah. Sebuah ejekan pada kewarasan, atau mungkin, sebuah pengakuan
bahwa kewarasan sejati kadang ditemukan di tepi jurang kegilaan yang dibagi
bersama.
Di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah, kampus
yang namanya sendiri mengandung doa dan harapan akan rahmat, mereka menemukan
panggung kecil mereka. Bukan panggung utama yang disorot lampu gemerlap,
melainkan sudut-sudut yang lebih remang: warung kopi dengan aroma sangrai yang
pekat, basecamp himpunan yang menjadi saksi bisu ribuan kata dan keluh kesah,
laboratorium psikologi yang dingin tempat ambisi dan kegagalan cinta
bersemayam, atau bahkan hanya kos-kosan sempit yang menjadi ruang pengakuan dan
persekongkolan. Dinding-dinding itu, jika bisa bicara, mungkin akan menuturkan
kisah yang lebih kaya dari notulensi rapat paling detail sekalipun.
Setiap jiwa dalam lingkaran itu adalah sebuah semesta
tersendiri, dengan orbit dan gravitasinya masing-masing. Ada ia yang meracik
solusi sepahit espresso namun sejernih air mata pencerahan, mengurai benang
kusut masalah dengan ketenangan seorang filsuf jalanan. Ada gladiator akademik yang selalu unggul di medan
angka dan teori, namun selalu tersungkur di arena asmara yang tak terpetakan.
Ada sang perencana ulung, arsitek strategi yang otaknya adalah labirin
kemungkinan, sekaligus badut cerdas yang tawanya menyimpan lapisan-lapisan
makna tersembunyi. Ada pula Don Quixote yang melawan kincir angin pragmatisme
dengan tombak idealisme kolot, merindukan dunia hitam-putih di tengah spektrum
abu-abu yang menyesakkan.
Lalu, tersebutlah
ia yang namanya adalah hati, sang pendengar sejati yang diamnya lebih lantang
dari seribu argumen, menjadi ruang aman bagi jiwa-jiwa yang resah. Ada sang
kuli, perwujudan etos kerja yang tak kenal lelah, tulang punggung setiap
kepanitiaan yang memastikan roda organisasi tetap berputar. Di antara mereka,
ada pula sang pencatat sejarah, dengan jiwa sebersih kertas baru dan kacamata
merah jambu, terperangkap antara loyalitas pada aturan dan ikatan pada
lingkaran hati. Ada perempuan dengan sejuta talenta, sang duta yang tawanya
adalah ledakan keceriaan, namun di baliknya tersimpan luka yang tak pernah ia
biarkan terlihat. Ada sang bendahara yang terkenal kikir, penjaga amanah
keuangan yang ulung, namun miskin dalam urusan asmara, memimpikan kebebasan di
atas roda dua yang hanya ada dalam angan. Ada pula sang pengatur acara yang
tangannya dingin mampu mengubah kekacauan ide menjadi harmoni pertunjukan yang
elegan, energinya seolah tak pernah habis mengalir dari satu proyek ke proyek
lainnya.
Dan tentu saja,
ada dua kutub yang melengkapi lingkaran itu. Sang penyeimbang dengan pikiran
positifnya, jembatan antara idealisme yang membakar dan pragmatisme yang
membumi, jangkar yang menjaga kapal persahabatan tetap stabil di tengah badai.
Akhirnya, ada ia yang telah pergi, sang pemimpin yang karismanya pernah menjadi
pusat perdebatan sekaligus katalisator terbentuknya ikatan mereka. Kepergiannya
meninggalkan lubang menganga, sebuah kehilangan yang justru memperkuat
kehadiran bayangannya, mengubah "lawan" menjadi memori kolektif yang
paling berharga. Ia menjadi anggota kedua belas yang tak kasat mata, yang
semangatnya terus bersemayam di setiap sudut yang pernah mereka singgahi
bersama.
Bukankah hidup
ini memang panggung ironi? Persahabatan yang lahir dari penolakan. Kekuatan
yang ditemukan dalam kehilangan. Kewarasan yang dirayakan dalam
"kegilaan" bersama. Mereka adalah produk dari konflik, anak-anak dari
ketidakpuasan. Namun, seperti bunga teratai yang mekar dari lumpur, ikatan
mereka justru tumbuh subur dari situasi yang keruh.
Kisah mereka
bukanlah epos kepahlawanan agung, melainkan balada tentang serpihan-serpihan
jiwa yang mencoba menemukan makna di tengah absurditas dunia kampus. Tentang
tawa yang membahana hingga larut malam, ditemani kepulan asap rokok dan ampas
kopi yang mengendap di dasar cangkir. Tentang perdebatan sengit hingga urat
leher menegang, yang kemudian diredakan oleh sebungkus gorengan atau lelucon
garing. Tentang air mata yang mungkin tak pernah diakui oleh para
lelaki, namun tetap jatuh dalam sunyi.
Kini, waktu terus merayap. Roda zaman tak pernah berhenti
berputar hanya karena sebuah cerita telah mencapai titik tertentu. Beberapa
dari mereka mungkin sudah di ambang gerbang kelulusan, siap melangkah ke
panggung kehidupan yang lebih luas, dengan segala ketidakpastian dan
tantangannya. Beberapa mungkin masih
akan melanjutkan lakon di kampus itu, dengan peran yang berbeda, dengan energi
yang baru. Namun, label "12 Psikopat Kecil" itu, atau apapun
sebutannya, akan selalu melekat. Bukan sebagai stigma, melainkan sebagai
prasasti, sebagai penanda sebuah perjalanan yang telah membentuk mereka,
menempa mereka, dan meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus.
Apa yang tersisa
dari semua ini? Kenangan, tentu saja. Foto-foto yang tersimpan rapi dalam
folder digital, membekukan senyum dan tawa yang pernah ada. Cerita-cerita yang
akan terus diulang, dikutip, menjadi semacam mitologi kecil yang diwariskan
dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Dan yang lebih penting, pelajaran.
Pelajaran tentang kerapuhan eksistensi manusia, tentang kekuatan sebuah ikatan,
tentang bagaimana menemukan cahaya di tengah kegelapan, tentang bagaimana
merangkul perbedaan dan mengubahnya menjadi harmoni.
Kampus UIN Sayyid
Ali Rahmatullah Tulungagung akan terus berdiri megah, atau setidaknya begitulah
citra yang ingin dibangunnya. Lorong-lorongnya akan terus dilalui oleh ribuan
mahasiswa baru, dengan mimpi dan keresahan mereka masing-masing. HMPS Psikologi
Islam akan terus melahirkan kader-kader baru, dengan dinamika dan konfliknya
sendiri. Namun, kisah kedua belas jiwa ini akan tetap berbisik di antara
dinding-dinding itu, menjadi legenda urban, dongeng pengantar tidur, atau
mungkin, sekadar pengingat bahwa di tengah segala formalitas dan tuntutan
akademis, ada ruang untuk kemanusiaan yang paling murni, yang paling rapuh,
sekaligus yang paling kuat.
Dan pena ini,
yang telah mencoba merangkai kata demi kata, menelusuri jejak langkah mereka,
kini harus berhenti. Bukan karena ceritanya telah habis, melainkan karena
setiap cerita memiliki batasnya sendiri dalam penuturan. Selebihnya, biarlah
menjadi misteri, biarlah menjadi ruang bagi imajinasi, biarlah menjadi bagian
dari keheningan yang menyimpan lebih banyak makna daripada yang bisa
diungkapkan oleh seribu kata.
Karena pada
akhirnya, setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan. Setiap babak akan
mencapai adegan terakhirnya. Namun, esensi dari apa yang telah terjadi, getaran
emosi yang pernah dirasakan, pelajaran yang telah dipetik, akan terus hidup
dalam diri mereka yang mengalaminya, dan mungkin, dalam diri kita yang telah
menyimaknya. Mereka adalah bukti bahwa dari keresahan bisa lahir persahabatan,
dari konflik bisa tumbuh pengertian, dan dari kehilangan bisa muncul kekuatan.
Dan di sanalah, di antara absurditas dan kehangatan, jiwa menemukan rumahnya.
Sebuah rumah yang mungkin tak sempurna, namun selalu menyediakan ruang untuk
kembali, setidaknya dalam ingatan.
Maka, biarlah
tirai ini diturunkan. Bukan sebagai penutup yang sesungguhnya, melainkan
sebagai jeda, sebelum lakon-lakon baru dimulai, di panggung-panggung kehidupan
yang lain. Anggap saja ini bukan sebuah titik, melainkan sebuah koma, yang
menggantung, yang memberi isyarat bahwa perjalanan masih akan berlanjut, dalam
bentuk yang berbeda, dengan irama yang tak sama, namun dengan semangat yang
mungkin, hanya mungkin, masih membawa secuil api dari kebersamaan yang pernah
mereka nyalakan bersama di kota kecil itu. Secuil api yang cukup untuk
menerangi jalan di depan, atau setidaknya, untuk menghangatkan kenangan.
Komentar
Posting Komentar