Pada akhirnya, engkau tiba di sana. Di puncak menara gading yang kau bangun dari keringat dan air mata, atau mungkin di atas singgasana yang terbuat dari serpihan mimpi-mimpi yang berhasil kau kumpulkan. Udara di atas sini terasa lebih tipis, bukan? Suara-suara riuh dari jalanan yang dulu memekakkan telinga kini terdengar seperti desau angin yang jauh. Semua tampak kecil dari ketinggian ini. Gedung-gedung seperti balok mainan, dan manusia tak lebih dari semut-semut yang sibuk dalam koreografi tak berarti.
Engkau mungkin menatap cakrawala, merasakan kehangatan matahari di wajahmu yang kini tak lagi kusam oleh debu jalanan. Engkau mungkin tersenyum, senyum tipis yang menyimpan ribuan cerita. Namun, sebelum senyum itu menjadi pongah, sebelum dadamu membusung oleh angin kesuksesan, pejamkan matamu sejenak. Dengarkan. Bukan desau angin, bukan pula keheningan yang agung. Dengarkan gemeretak kerikil di bawah sandal jepitmu yang usang, bertahun-tahun lalu. Dengarkan deru napasmu yang memburu saat menaiki tanjakan pertama yang membuat lututmu gemetar.
Sebab, menjadi apapun engkau nanti—seorang direktur, seorang seniman ternama, seorang pemikir yang kutipannya terpajang di mana-mana—jangan pernah lupa pada jalan-jalan itu. Jalanan aspal yang retak seribu, tempat matahari membakar telapak kakimu. Gang-gang sempit berbau pesing yang menjadi jalan pintasmu menghindari kejamnya waktu. Jalan setapak berlumpur setelah hujan, yang membuatmu terpeleset dan menertawakan nasibmu sendiri. Jalan-jalan itu bukan sekadar lintasan mati dari titik A ke titik B. Ia adalah museum hidup dari setiap langkahmu. Setiap retakan aspalnya adalah arsip dari keraguanmu, setiap tikungannya adalah saksi dari pilihan-pilihan kecil yang membentuk dirimu hari ini. Jangan lupakan mereka. Sebab melupakan jalanan itu sama artinya dengan mencabut dirimu dari akarmu sendiri, menjadikanmu layang-layang putus yang terbang tanpa arah, pongah sesaat sebelum jatuh terhempas.
Dan di sepanjang jalanan itu, ada wajah-wajah. Ingatkah engkau? Wajah seorang ibu tua di warung tepi jalan, yang memberimu segelas teh panas dan menolak bayaranmu sembari berkata, "Sudah, Nak, buat bekal di jalan." Ingatkah engkau pada sahabatmu yang membelah sepotong roti terakhirnya untukmu, di malam ketika perutmu melilit karena lapar? Ingatkah pada orang asing di terminal yang menunjukkan arah yang benar ketika engkau tersesat, wajahnya tak jelas dalam ingatanmu, namun kebaikannya terpatri abadi?
Mereka adalah pemberi seteguk air di tengah gurun perjalananmu. Mungkin mereka tak pernah tahu di mana engkau sekarang. Mungkin nama mereka bahkan sudah kau lupa. Tapi jangan pernah lupakan apa yang mereka berikan. Bukan airnya, bukan tehnya, bukan rotinya. Tapi sepercik kemanusiaan yang meyakinkanmu bahwa dunia tidak seluruhnya serigala. Bahwa di tengah rimba beton yang buas, masih ada setetes embun. Menjadi apapun engkau di puncak sana, ingatlah bahwa bangunanmu tidak berdiri hanya di atas fondasi ambisimu. Ia juga ditopang oleh pilar-pilar kebaikan kecil dari orang-orang yang pernah melintas dalam hidupmu. Tanpa seteguk air dari mereka, mungkin engkau sudah lama mati kehausan.
Lalu, angkat wajahmu lebih tinggi, melampaui matahari, melampaui langit biru. Rasakan getaran halus di sanubarimu. Itu adalah gema dari sebuah Nama yang tak pernah meninggalkanmu, bahkan ketika engkau merasa paling sendirian. Allah. Dialah Sutradara Agung dari skenario perjalanan ini. Dialah yang menggerakkan kaki ibu tua itu untuk menyeduh teh. Dialah yang membisikkan ke dalam hati sahabatmu untuk berbagi. Dialah yang meniupkan kekuatan pada setiap langkahmu ketika engkau nyaris menyerah. Puncak yang kau pijak hari ini bukanlah monumen kehebatanmu. Ia adalah panggung di mana engkau menjadi bukti atas Kemurahan-Nya. Kesuksesanmu bukanlah lagumu sendiri, melainkan sebuah bait dalam simfoni agung-Nya. Lupa pada-Nya adalah bentuk pengkhianatan paling sunyi, membutakan mata dari cahaya yang sejak awal menuntunmu dalam gelap.
Dan jika hari ini… jika hari ini engkau membaca tulisan ini bukan dari puncak, melainkan dari sebuah lereng yang terjal, dari sebuah lembah yang curam, di mana kakimu masih berdarah dan napasmu masih tersengal. Jika hari ini hidupmu masih berupa jalanan berbatu yang tak berujung, jangan pernah berhenti. Jangan pernah mengutuk jalanan ini. Sebab setiap kerikil tajam yang melukai telapak kakimu, setiap tanjakan yang membuatmu ingin menangis, semua itu sedang diukir menjadi relief paling penting dalam epik hidupmu. Cerita tentang puncak tidak akan pernah agung tanpa narasi tentang lembah yang kelam. Teruslah berjalan. Karena jalan terjal inilah yang kelak akan menjadi alinea pembuka paling memesona dalam kisah yang akan kau ceritakan pada dunia, suatu hari nanti.
Komentar
Posting Komentar