Setiap tahun, selalu ada Juni yang datang menyelinap, bukan sebagai penanda waktu belaka, melainkan sebagai sebuah ritus sunyi untuk mengenang. Juni adalah ziarah ke dalam diri, ke sebuah ruang di mana rindu sengaja ditanam untuk kemudian mekar sekali waktu. Dan bagi saya, Juni selalu tentang jejak hujan yang membayang di jendela dan gema sajak-sajak Bapak, Pak Sapardi. Ada semacam persekongkolan syahdu antara bulan ini, gerimis yang turun, dan setiap diksi yang pernah Bapak rangkai menjadi abadi. Sebuah persekongkolan yang memaksa saya untuk kembali bertanya: rindu macam apa lagi yang harus saya tanggung kali ini?
Sebab, setidaknya dalam setahun sekali, ada rindu yang tumbuh dengan begitu sederhana, begitu murni, tanpa pretensi apa pun. Ia hanya kangen. Sebuah kata yang telanjang, yang lugu, yang tidak meminta apa-apa selain untuk diucapkan. Ia tidak serumit cinta yang menuntut balas, tidak sepelik duka yang meminta lupa. Ia hanya kangen, yang tidak boleh tak terucapkan. Namun, entah kenapa, setiap kali Juni tiba dengan hujannya, rindu yang sederhana itu seolah ikut terbungkus dalam ketabahan yang Bapak ajarkan. Ia menjadi rintik yang menyamar, yang menyentuh bumi dengan sopan, yang menyuburkan akar-akar rahasia tanpa pernah berteriak. Ia menjadi bijak, terlalu bijak, hingga saya nyaris lupa bagaimana cara mengatakannya dengan gamblang.
Jadi Pak, izinkan saya kali ini lancang bertanya pada angin yang membawa pesan hujan. Bolehkah hujan di bulan ini tak lagi tabah seperti biasanya? Bolehkah ia menderas, tumpah ruah, dan membawa serta segala kangen yang selama ini saya endapkan di dasar palung hati? Saya merasa lelah, Pak. Lelah meminjam ketabahan hujan yang Bapak tulis itu. Ketabahan yang arif, yang membiarkan dirinya jatuh berkali-kali tanpa pernah mengeluh, yang membasahi jendela tanpa pernah memaksa masuk. Saya ingin hujan yang kali ini menggedor-gedor, yang memaksa saya membuka jendela dan membiarkan tempiasnya membasahi wajah, membasahi puisi-puisi yang saya tulis diam-diam di buku catatan.
Sebab selama ini, saya tak bisa lagi menahan hujan di mata. Hujan yang saya sembunyikan rapat-rapat, yang hanya saya izinkan jatuh ketika tak ada siapa pun yang melihat. Hujan yang setiap tetesnya saya punguti, lalu saya sulap menjadi kata-kata, berharap ia bisa mewakili rasa. Namun apa daya, kata-kata itu hanya menjadi penjara baru. Puisi-puisi itu, yang seharusnya menjadi pembebasan, justru menjelma menjadi brankas tempat saya menyimpan segala rahasia. Setiap bait adalah gembok, setiap rima adalah kata sandi. Hujan di mata, yang seharusnya menjadi sungai, hanya menjadi milik rahasia. Ia tak pernah benar-benar mengalir, tak pernah benar-benar sampai ke muaranya.
Saya memandang ke luar, ke jejak-jejak hujan yang mulai mengering di aspal jalanan. Jejak itu, seperti juga kenangan, kadang terlihat jelas, kadang menguap begitu saja disapu angin. Hujan di bulan Juni adalah tentang jejak-jejak itu. Jejak langkah seseorang, jejak percakapan yang tak selesai, jejak senyum yang membeku dalam bingkai waktu. Dan rindu ini, rindu yang mekar bersama Juni, adalah keinginan untuk menyusuri kembali jejak-jejak itu, sekalipun saya tahu di ujungnya tak ada siapa-siapa lagi yang menunggu. Saya hanya ingin berjalan di atasnya, merasakan kembali dinginnya, basahnya, dan sunyinya.
Maka, sekali lagi, Pak. Biarlah hujan bulan ini tak bijak. Biarlah ia egois, memikirkan dirinya sendiri, menumpahkan segala bebannya ke bumi. Dan biarlah saya pun begitu. Biarlah rindu yang sederhana ini tak lagi saya kurung dalam sajak. Biarlah ia terucap, entah pada siapa, entah akan sampai atau tidak. Biarlah ia menjadi suara, bukan lagi sekadar rahasia. Mungkin dengan begitu, hujan di mata saya akhirnya akan reda, menyisakan langit yang lebih lapang untuk Juni-Juni berikutnya. Mungkin dengan begitu, saya akhirnya paham, bahwa ada rindu yang tak perlu ditabahkan, melainkan hanya perlu dituangkan.
Komentar
Posting Komentar