Ada sebuah waktu sebelum namamu. Sebuah masa yang kini terasa asing, seperti lanskap dari sebuah mimpi yang samar-samar kuingat namun tak lagi bisa kuraba detailnya. Aku berjalan di sana, barangkali, sebagai sekelebat bayangan yang memburu sesuatu yang bahkan ia tak tahu apa namanya. Hari-hari adalah rentetan peristiwa tanpa jangkar; pagi bergulir menjadi malam dalam ritme yang monoton, dan riuh dunia di luar sana hanyalah kebisingan latar yang tak pernah benar-benar menyentuhku. Aku adalah aku, sebuah definisi yang terasa cukup, hingga aku menyadari betapa kosongnya kecukupan itu.
Lalu, namamu datang. Ia tidak menggedor pintu atau berteriak dari kejauhan. Ia meresap, serupa kabut tipis yang menyusup melalui celah jendela kalbu, mengendap di relung yang paling senyap. Sejak saat itu, sejak namamu menjadi mantra yang kudengungkan dalam diam, aku tak lagi serupa dengan diriku yang lampau. Sebuah revolusi sunyi terjadi di dalam diriku. Dunia yang tadinya datar tiba-tiba memiliki kontur, warna-warna yang sebelumnya pudar kini menyala dengan intensitas yang melukai sekaligus menyembuhkan mata. Namamu menjadi titik awal, sebuah koordinat baru tempat aku menata ulang seluruh peta batinku.
Maka, betapa menentramkan, ketika aku akhirnya dapat menyinggahi dirimu, wahai pemilik nama. Engkau adalah geografi yang hidup, tempat aku bisa merebahkan lelah dari perjalanan tanpa tujuan yang selama ini kulakukan. Bersamamu, segala hingar bingar kota, segala tuntutan zaman yang tak pernah berhenti mengejar, seakan luruh menjadi debu tak berarti. Riuh dunia yang memekakkan itu mereda, diganti oleh kelapangan yang tak sanggup diwakilkan oleh kata biasa. Ia adalah hening yang berbicara, sebuah ruang lapang di tengah sesaknya eksistensi, tempat jiwaku bisa bernapas tanpa perlu berpura-pura menjadi apa pun selain dirinya sendiri. Engkau adalah jeda di antara napas-napasku yang tergesa.
Dan aku segera mengerti, mencintaimu bukanlah perihal menemukan separuh jiwa yang hilang, seperti yang sering didengungkan dongeng-dongeng purba. Tidak. Mencintaimu adalah perihal merengkuh tanpa syarat sebuah semesta yang utuh. Ini bukan sebatas menyukai bagian indah yang mudah dielu-elukan; senyummu yang serupa fajar, atau tawamu yang laksana melodi langka. Itu mudah. Siapa pun bisa jatuh cinta pada sebuah perayaan. Namun, aku memilih untuk menyelam lebih dalam, ke palung di mana kerapuhanmu bersembunyi, ke lembah di mana getir masa lalu mengendap, ke sudut-sudut sepi yang kau jaga rapat-rapat dari sorot mata dunia.
Aku ingin hadir di seluruhmu. Aku ingin menjadi saksi bagi kilau matamu saat harapan berpendar, tetapi juga menjadi tempatmu bersandar ketika cahaya itu meredup menjadi sepi. Aku ingin ikut menari dalam riang hatimu yang meluap-luap, tetapi juga bersedia duduk di sisimu dalam diam, menemani luka yang mungkin tak pernah bisa kau ceritakan sepenuhnya. Bagiku, engkau bukanlah sebuah patung pualam yang harus dijaga dari goresan. Engkau adalah kehidupan itu sendiri, dengan segala cahaya dan bayangannya, dan aku ingin berada di setiap spektrumnya.
Karena padamu, aku tidak lagi mencari kesempurnaan. Pencarian itu melelahkan dan sia-sia, sebuah ilusi yang hanya akan berujung pada kekecewaan. Aku berhenti mencari. Sebaliknya, aku mulai menjaga. Aku hanya ingin menjaga segala yang melekat padamu, segala yang membentukmu menjadi engkau yang ini. Yang elok maupun yang retak. Retakan pada keramik kuno justru yang membisikkan cerita perjalanannya, bukan? Begitu pula dirimu. Setiap goresan di hatimu adalah aksara yang menuliskan riwayatmu, dan aku ingin belajar membacanya, memahaminya, dan menjaganya agar tak hancur berkeping-keping oleh terpaan yang lebih keras.
Maka, biarlah. Biarlah dunia di luar sana terus berputar dalam poros kegilaannya. Biarlah ia berulang kali mengguncang dengan ketidakpastian, dengan badai dan gempa yang tak terduga. Aku tidak lagi gentar. Selama aku bisa menemukan jalan pulang kepadamu, aku tahu aku akan baik-baik saja. Di tengah segala yang mungkin runtuh, aku masih ingin berada di sisimu, menautkan seluruhku pada seluruhmu. Bukan sebagai dua manusia yang saling menopang karena sama-sama rapuh, melainkan sebagai dua semesta yang memilih beririsan, berbagi gravitasi, dan menari bersama dalam kekacauan—atau justru dalam keindahan—yang agung ini. Sejak namamu di relungku, aku telah menjadi lebih dari sekadar aku, dan engkau adalah alasannya.
Komentar
Posting Komentar