Langsung ke konten utama

Aku Menemukan Mu

Dunia adalah serangkaian kebetulan yang tak terduga, bukan? Sebuah arus waktu yang menarik orang-orang ke pusaran yang sama, lalu melemparkannya lagi ke arah yang berbeda. Namun, ada satu hari, di antara riuh rendah percakapan dan dengung pendingin ruangan yang lelah, waktu seolah berhenti berputar hanya untuk kita. Saat itulah mata kita bertabrakan. Bukan sekadar bertemu, melainkan bertabrakan. Sebuah benturan sunyi yang getarannya terasa sampai ke dasar jiwa.

Sejak saat itu, kita sama-sama meyakini sesuatu. Tak ada salah satu dari kita yang merasa menemukan. Tidak. Kata itu terasa timpang, seolah menyiratkan ada pencari dan ada yang pasrah diam. Sebab sesungguhnya, ya… kita saling menemukan. Kau melihat kertap-kertap cahaya dalam diriku yang telah lama kupikir padam, dan aku melihat semesta di matamu yang selama ini kau sembunyikan dari dunia. Kita adalah dua potongan puzzle yang tak pernah tahu jika saling mencari, sampai takdir membenturkan kita dalam sebuah gambar yang utuh.

Lalu, hari-hari berikutnya menjadi sebuah ritual. Kita mulai rutin menekuni hati satu sama lain. Sebuah pekerjaan yang lebih rumit dari arkeologi mana pun. Kau, dengan kesabaran seorang filsuf, mulai mengeja perasaanku yang sering kali sulit terbaca bahkan oleh diriku sendiri. Kau melihat makna di balik diamku, mendengar kata di antara jeda napasku. Perasaanku yang serupa aksara kuno, kau baca helai demi helai tanpa pernah mengeluh.

Sedang aku, dengan ketabahan seorang pengurai simpul, mencoba membebaskan pikiranmu. Aku tahu, ada bagian dari dirimu yang masih disandera masa lalu. Bayang-bayang yang sesekali datang dan membuat sorot matamu meredup. Maka aku duduk di sana, mendengarkan, mengurai setiap benang kusut kenanganmu dengan jemari pengertian. Aku tak pernah memaksamu berlari, hanya menemanimu berjalan, selangkah demi selangkah, menjauhi penjara tak terlihat itu. Kita adalah dua penyembuh yang saling merawat luka tanpa perlu mengucap mantra.

Dalam proses itulah, aku menyadari sesuatu yang fundamental. Kau adalah rumah. Bukan sekadar tempat singgah, bukan pula bangunan megah. Kau adalah definisi rumah yang paling hakiki: sebuah ruang aman di mana aku bisa menjadi diriku seutuhnya. Tempat di mana segala lelah dan cemas menemukan muaranya.

Dan rumah itu, kau sempurnakan dengan pelukan. Ah, pelukanmu. Bagaimana aku harus mendeskripsikannya? Ia punya hangat yang se-nyaman itu. Hangat yang merambat perlahan, mengusir dingin yang dibawa oleh kejamnya hari. Se-menenangkan itu. Dekapmu adalah benteng yang membuat bisingnya dunia terdengar seperti desau angin yang jauh. Se-meruntuhkan capek di leherku itu. Semua beban yang kupanggul seharian, semua ketegangan yang mengikat otot-ototku, luruh seketika begitu aku membenamkan wajah di bahumu. Pelukanmu adalah sihir paling nyata yang pernah kurasakan.

Kau itu… baik. Sebuah kata sederhana yang sering kali kehilangan maknanya, tapi tidak saat aku mengucapkannya untukmu. Kebaikanmu tulus, mengalir seperti air, tanpa pamrih. Kau suka tersenyum dengan percaya diri yang luar biasa, seolah kau tahu senyummu punya kekuatan untuk menerbitkan matahari di tengah mendung. Kau menggemaskan, tentu saja. Ada tingkah-tingkah kecilmu yang membuatku ingin mengurungmu dalam stoples waktu agar momen itu tak pernah berlalu.

Wajahmu teduh, seteduh lansekap pedesaan setelah hujan sore. Menatapmu adalah sebuah meditasi. Namun di balik keteduhan itu, kau lincah seperti rusa, bergerak dengan energi kehidupan yang menular. Lalu ada satu hal lagi, hal yang membuatmu begitu manusia, begitu nyata. Kau suka menangisi hal-hal yang kuanggap tak rasional. Sebuah adegan film, seekor anak kucing yang tersesat, atau melodi lagu yang menyayat. Kau menangis tanpa malu, dan di mataku, air matamu adalah permata. Itu menunjukkan betapa luasnya hatimu, betapa dalamnya welas asihmu. Dan kusadari, kau yang terbaik sejauh ini.

Atas dasar itu semua—atas tabrakan mata kita, atas ritual kita menekuni hati, atas rumah yang kau bangun, dan atas segala keunikanmu—sungguh, aku tak ingin berputus asa memperjuangkanmu. Mungkin kau bertanya, kenapa aku begitu yakin? Kau tahu alasannya? Dengarkan ini…

Karena bersamamu semua terasa indah. Kekosongan yang dulu kerap menyergap di malam hari, kini terisi penuh oleh bayangmu. Gundah gulana hatiku yang dulu sering datang tanpa permisi, kini hancur sirna, lebur oleh tawa dan hangat pelukmu. Maka kuucapkan janji ini dari sudut hati yang paling dalam, janji ku tak kan ku lepas wahai kau bidadariku dari surga. Kau adalah anugerah yang turun ke duniaku yang fana. Tuk selamanya.

Kuharap kau juga merasakan hal yang sama. Kuharap kau juga melihat rumah dalam diriku. Maka, ayo. Ayo kita saling menenangkan saat badai datang. Saling menjadi sauh saat ombak kehidupan mencoba menggoyahkan. Ayo kita saling cari cara agar terus berbagi kebahagiaan, sekecil apa pun itu. Sepotong cokelat, sebuah lagu yang kita suka, atau sekadar cerita tentang hari yang melelahkan. Mari kita saling memberi damai di dunia yang makin bikin stres ini. Kita ciptakan gelembung kecil kita sendiri, tempat di mana hanya ada kita dan ketenangan.

Dan semoga kita, selalu bersama. Selalu. Dan bersama.

Komentar