Langsung ke konten utama

Tarian Absurd di Atas Bandul Penderitaan

Mungkin semua bermula dari secangkir kopi di pagi buta. Aroma pahitnya yang menguar, hangatnya yang menjalar di telapak tangan, dan sunyi yang sejenak terasa begitu penuh makna. Itulah ia, sepotong kebahagiaan. Atau mungkin saat hujan pertama turun setelah kemarau panjang, ketika aroma tanah basah—petrikor—menggeliat naik, membangkitkan nostalgia akan sesuatu yang bahkan tak pernah kita alami. Kita tersenyum. Kita merasa bahagia. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil, rapuh, dan fana, yang bertebaran di sepanjang jalan hidup laksana kunang-kunang di pekat malam.

​Namun, cukupkah itu? Tentu saja tidak. Manusia adalah makhluk yang ganjil, dirajam oleh sebuah kutukan purba: ketidakpuasan. Secangkir kopi pagi hanya menjadi pengantar untuk mendambakan percakapan yang lebih hangat. Aroma hujan hanya menjadi latar bagi kerinduan akan sebuah pelukan. Kebahagiaan kecil itu, betapapun indahnya, hanyalah sebuah stasiun pemberhentian sementara dalam sebuah ziarah tanpa akhir. Selalu ada cakrawala lain yang memanggil, puncak lain yang menjanjikan pemandangan lebih abadi, kebahagiaan lain yang—kita yakini—akan menjadi jawaban final.

​Di sinilah letak tragedi kita yang paling sunyi. Kita terus-menerus berada dalam pusaran pencarian, sebuah perburuan yang tak akan pernah usai. Kita berlari mengejar bayangan yang kita sebut "kebahagiaan sejati", sebuah fatamorgana yang terus bergeser setiap kali kita merasa nyaris menggapainya. Lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan impian, membeli rumah pertama, menikah dengan cinta sejati, melihat anak-anak tumbuh dewasa—semuanya adalah titik-titik validasi yang kita kira akan menjadi pelabuhan terakhir. Namun, setiap pencapaian hanya melahirkan kehampaan baru, sebuah jeda sunyi sebelum Kehendak dalam diri kita kembali berbisik: "Lalu, apa lagi?"

​Seorang filsuf Jerman berambut gondrong dan bermuka masam, Arthur Schopenhauer, akan menatap lakon ini dengan senyum sinis. Baginya, apa yang kita alami bukanlah sebuah perjalanan heroik menuju pencerahan, melainkan sebuah komedi absurd yang ditulis dengan tinta penderitaan. Ia menyebut motor penggerak di balik semua ini sebagai Kehendak untuk Hidup (Wille zum Leben)—sebuah dorongan buta, irasional, dan tak pernah terpuaskan yang mencengkeram setiap makhluk, dari lumut yang merayap di batu hingga manusia yang membangun peradaban.

​Kehendak ini, menurut Schopenhauer, adalah sumber dari segala penderitaan. Ia tak punya tujuan akhir selain melanggengkan dirinya sendiri, dan ia menggunakan kita sebagai pionnya. Kehendak inilah yang menanamkan hasrat, keinginan, dan ambisi dalam diri kita. Hasrat adalah definisi dari kekurangan; kita menginginkan sesuatu karena kita tidak memilikinya. Dan ketiadaan inilah yang kita rasakan sebagai penderitaan. Kita menderita karena menginginkan promosi jabatan, kita tersiksa karena merindukan seseorang, kita gelisah karena mendambakan pengakuan.

​Lalu, bagaimana jika keinginan itu terpenuhi? Bukankah itu kebahagiaan? Schopenhauer menggeleng. Tercapainya sebuah keinginan, katanya, hanyalah kelegaan sesaat. Itu bukan kebahagiaan positif, melainkan sekadar lenyapnya satu bentuk penderitaan untuk sementara waktu. Dan celakanya, kekosongan yang ditinggalkan oleh keinginan yang terpuaskan itu dengan cepat akan diisi oleh sesuatu yang jauh lebih mengerikan: kebosanan. Ennui. Kekosongan yang melumpuhkan, di mana hidup terasa hambar dan tanpa makna. 

​Maka, hidup manusia, dalam pandangan Schopenhauer, tak ubahnya sebuah bandul yang berayun tanpa henti. Ia berayun dari satu sisi, yaitu penderitaan karena keinginan yang tak terpenuhi, menuju sisi lainnya, yaitu penderitaan karena kebosanan setelah keinginan itu terpenuhi. Kebahagiaan hanyalah momen singkat, nyaris tak terasa, ketika bandul itu melewati titik tengahnya. Sebuah ilusi optik dalam gerak konstan menuju derita berikutnya.

​Kita tidak bisa bahagia bukan karena kebahagiaan itu mustahil didapat. Kita mendapatkannya setiap saat dalam fragmen-fragmen kecil yang kita abaikan. Kita tidak bisa bahagia secara permanen karena sifat dasar dari eksistensi itu sendiri adalah gerak, perubahan, dan keinginan yang terus-menerus memperbarui dirinya. Mencari kebahagiaan yang bertahan selamanya sama absurdnya dengan mencoba menghentikan ayunan bandul di tengah-tengah. Ia melawan kodratnya.

​Oleh karena itu, kita selamanya adalah para pencari. Terjebak dalam tarian abadi antara hasrat dan kebosanan, antara derita dan kehampaan. Kita mengutuk nasib ini, namun kita terus menari. Kita sadar akan absurditasnya, namun kita tetap berlari mengejar kunang-kunang berikutnya. Mungkin, Schopenhauer benar. Mungkin semua ini adalah penderitaan. Tapi mungkin juga, dalam kesadaran akan penderitaan itulah, terletak satu-satunya keindahan yang paling jujur dari menjadi manusia. Dan dalam tarian absurd itulah, ironisnya, kita merasa paling hidup.

Komentar