Langsung ke konten utama

Secangkir Puisi Pukul Dua Pagi

Lalu kau datang lagi. Selalu pada jam-jam paling sepi, ketika malam terasa begitu tua dan kota hanyalah bisik napas para pendosa. Kau datang tidak dengan tangan hampa, melainkan dengan secangkir puisi yang mengepulkan aroma hujan dan rindu yang dipanggang terlalu lama. Kau sodorkan cangkir itu kepadaku, bibirmu membentuk sebaris kata tanpa suara, dan mataku, yang telah lama menjadi murid paling patuh dari setiap gerak-gerikmu, mengerti: minumlah.

Maka kutenggak habis. Tanpa jeda, tanpa napas.

Betapa liar dan memabukkan saat secangkir puisi darimu itu meluncur melewati kerongkonganku, membakar setiap saraf dengan api aksara, mengubah pembuluh darahku menjadi sungai-sungai kecil yang mengalirkan metafora paling gelap. Seketika itu juga, dunia yang kukenal luruh. Dinding kamar mencair menjadi alinea-alinea panjang, lampu-lampu jalanan di luar jendela berkelip seperti titik dan koma yang kebingungan, dan kesadaran bukanlah lagi milikku. Ia telah kau rampas, kau ganti dengan pusing yang indah, dengan vertigo puitis yang membuatku tergelak sekaligus menangis. Aku terhuyung-huyung dalam semesta yang terbuat dari kata-katamu, tersesat di antara rima dan majas, mabuk hingga ke tulang sumsum oleh diksi yang kau pilih hanya untuk membunuhku pelan-pelan.

Di puncak kemabukan itu, kau berbisik. Kau ceritakan padaku perihal cinta yang selama ini kita anut sebagai agama. Betapa cinta, katamu, seperti tinta hitam yang tumpah dari ujung penamu, menggenang tanpa makna, sekadar noda gelap di atas hamparan ketiadaan. Tinta itu bisa menuliskan apa saja—sumpah serapah, surat utang, atau berita kematian—tapi ia tidak akan pernah menjadi cinta jika tak menemukan kertasnya yang paling suci. Kertas itu, bisikmu lagi, adalah mawar putih. Mawar yang lugu, yang kelopaknya belum pernah tersentuh dusta, yang durinya belum pernah melukai siapa-siapa.

Dan mawarku adalah aku.

Aku adalah mawar putih yang sedia dijarah keluguannya oleh tintamu yang hitam pekat. Aku adalah kesunyian yang rela diisi oleh riuh sajak-sajakmu. Setiap senti kulitku adalah halaman kosong yang gemetar menanti goresan penamu, setiap helai nafasku adalah spasi di antara kata-katamu yang paling mematikan. Kau tuliskan tragedi di kelopakku, kau abadikan gairah di daunku, dan kau tanamkan janji-janji fana di tangkaiku. Tanpa tintamu, aku hanyalah bunga putih biasa yang akan layu dan dilupakan zaman. Namun, tanpaku, tintamu hanyalah kepekatan steril yang tak akan pernah bisa mengeja kata ‘keindahan’. Kita adalah paradoks yang saling melengkapi, sebuah kejahatan puitis yang teramat sempurna.

Lalu waktu berhenti. Atau mungkin ia tak pernah benar-benar ada. Jam di dinding—yang jarumnya telah lama karatan oleh air mata—seolah tersentak. Dentangnya bukan lagi penanda jam, melainkan lonceng kematian yang samar. Sebab di sinilah, di puncak malam dan di dasar kemabukan, kita menyadari takdir kita yang paling purba.

Betapa kita Adam dan Hawa yang diusir dari surga, bukan karena buah terlarang, melainkan karena kita telah mencicipi puisi yang lebih memabukkan dari anggur abadi. Kita adalah dua makhluk fana yang mencoba mencuri api dari para dewa, lalu terbakar oleh api ciptaan kita sendiri. Kita adalah cerita yang ditulis untuk tidak memiliki akhir bahagia. Dan malam ini, tepat pada satu dentang ganjil yang menandakan pukul dua, hukuman itu tiba.

Bukan malaikat maut yang datang. Bukan pedang berapi yang menebas. Melainkan rindu. Rindu yang telah kita pupuk bersama, yang telah kita sirami dengan puisi dan air mata, kini tumbuh menjadi raksasa. Ia menjadi buta, tak lagi bisa membedakan antara pelukan dan cekikan. Ia ingin mengeja hatinya sendiri, namun jemarinya yang gagap justru melingkari leher kita. Ia mencekik kita, bukan dengan amarah, melainkan dengan cinta yang begitu meluap hingga tak menyisakan ruang untuk bernapas. Kita tak melawan. Bagaimana bisa kita melawan sesuatu yang lahir dari rahim kita sendiri?

Kita mati di pukul dua. Adam dan Hawa yang dicekik oleh rindu yang buta. Mati dalam keadaan mabuk, dalam pelukan paling puitis. Yang tersisa di ruangan ini hanyalah aroma puisi yang belum sepenuhnya menguap, dan di atas lantai yang dingin, secangkir kosong tergeletak di samping noda tinta hitam yang telah mengering di atas kelopak mawar putih yang layu.

Komentar