Sejak kapan tepatnya kesunyian ini berbisik lebih nyaring di antara riuh rendah percakapan? Apakah bermula dari kabar yang seperti petir di siang bolong, mengguncang fondasi kebersamaan yang baru saja dirajut? Atau mungkin benihnya telah lama tertanam, tumbuh diam-diam di sela-sela rapat organisasi yang penuh intrik, di balik tawa-tawa yang kadang terasa hambar, di antara idealisme yang berbenturan dengan kenyataan yang getir?
Pada sebuah petak waktu
yang terlipat di antara hiruk-pikuk kota Tulungagung—kota yang menyimpan
riwayat para wali dan geliat kopi yang tak pernah mati—berdiri megah, atau
setidaknya begitulah citra yang ingin dibangun, Universitas Islam Negeri Sayyid
Ali Rahmatullah. Di sanalah, di antara dinding-dinding yang mungkin telah
menyerap ribuan doa dan keluh kesah mahasiswa, sebuah kisah berdenyut. Kisah
ini bukan tentang pahlawan agung atau revolusi besar, melainkan tentang
sekumpulan jiwa yang, karena satu dan lain hal, memilih untuk saling
mengikatkan diri dalam sebuah lingkaran yang mereka sebut, dengan ironi yang
getir sekaligus bangga, "12 Psikopat Kecil".
Nama itu sendiri adalah
sebuah paradoks, sebuah ejekan pada kewarasan yang mereka anut bersama dalam
menghadapi absurditas dunia kampus, khususnya dalam rahim organisasi
kemahasiswaan bernama Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Psikologi Islam.
Ya, Psikologi Islam. Sebuah disiplin yang mencoba merajut benang antara
pemahaman jiwa ala Barat dengan kearifan spiritual Timur. Namun, seperti halnya
semua institusi yang dihidupi manusia, ia tak luput dari intrik, konflik
kepentingan, dan tentu saja, percik-percik idealisme yang kadang naif, kadang
menyala-nyala.
Semua bermula dari sebuah
periode kepengurusan HMPS. Udara kampus kala itu terasa lebih berat, bukan
hanya karena tugas-tugas kuliah yang menumpuk atau kenyataan yang menghantui di
ujung lorong, melainkan karena dinamika internal organisasi yang memanas. Ada
Surur, sang orator ulung dengan karisma yang mampu membius massa, dan Hafi, si
pemikir tenang dengan aura positif yang meneduhkan. Takdir, atau mungkin
manuver politik tingkat mahasiswa, membawa keduanya ke puncak kepemimpinan HMPS
sebagai Ketua dan Wakil Ketua. Sebuah duet yang di atas kertas tampak ideal,
namun bagi sepuluh pasang mata lainnya, ini adalah sebuah anomali, sebuah
ketidakadilan, atau setidaknya sesuatu yang mengusik zona nyaman dan ekspektasi
mereka.
Sepuluh orang ini, yang
kelak menjadi inti dari "12 Psikopat Kecil" (dengan Surur dan Hafi
sebagai dua kutub yang melengkapi), awalnya adalah individu-individu yang
terpisah, masing-masing dengan keresahannya sendiri terhadap konstelasi kepemimpinan
baru tersebut. Ada yang merasa terkhianati, ada yang merasa aspirasinya tak
terwakili, ada yang sekadar tak suka dengan gaya kepemimpinan yang terpilih.
Keresahan bersama inilah yang, seperti magnet tak kasat mata, menarik mereka ke
dalam pusaran yang sama. Dari rapat-rapat informal yang penuh gerutu,
diskusi-diskusi panjang di warung kopi hingga larut malam, hingga saling lempar
argumen yang tak jarang berujung pada tawa getir, benih-benih persahabatan itu
mulai bertunas. Ironis, bukan? Sebuah penolakan yang justru melahirkan
penerimaan dalam bentuk yang lain. Mari kita kenali mereka, satu per satu,
serpihan-serpihan jiwa yang membentuk mozaik aneh namun indah ini.
Pertama, Flaviktori. Ah,
Flavik. Dia adalah sang barista, bukan hanya dalam profesi sampingannya di
sebuah kedai kopi yang bertemakan industrialis yang menjadi markas tak resmi
mereka, tetapi juga dalam perannya di lingkaran ini. Tangannya lihai meracik
kopi, dan lidahnya lebih lihai lagi meracik solusi. Kopi buatannya, entah itu
espresso pahit atau latte dengan ukiran busa yang rumit, seolah menjadi katalis
bagi kejernihan pikiran. Ia adalah sumber solusi, tempat di mana
masalah-masalah pelik seringkali menemukan jalan keluarnya, atau setidaknya
perspektif baru yang menenangkan. Flavik adalah antitesis dari Nidhom. Jika
Nidhom adalah api yang membakar strategi, Flavik adalah air yang menyejukkan,
menawarkan jalan tengah dengan kearifan yang melampaui usianya. Ia pendengar
yang baik, namun tak sepasif Qolbi. Flavik akan menyela dengan pertanyaan
tajam, memaksa lawan bicaranya untuk menelanjangi asumsi-asumsinya sendiri. Di
balik celemek baristanya, tersembunyi seorang filsuf jalanan, seorang psikolog
praktis yang belajar dari ampas kopi dan keluh kesah pelanggan.
Lalu ada Ropiki, sang
realis garis keras. Baginya, dunia adalah panggung pertarungan di mana hanya
yang paling siap dan paling cerdas yang akan bertahan. Ambisinya di bidang
akademik dan karier menjulang setinggi menara masjid kampus. Indeks prestasi
harus sempurna, organisasi harus dikuasai, koneksi harus dibangun. Ia adalah
perwujudan dari mahasiswa teladan versi brosur universitas. Namun, di balik
fasad kesuksesan akademis dan organisatoris itu, Ropiki adalah seorang
pecundang ulung dalam urusan percintaan. Setiap kali ia mencoba mendekati
seorang perempuan, logikanya yang tajam dan strateginya yang terukur seolah
tumpul seketika. Cintanya selalu kandas, seringkali dengan cara yang komedi-tragis,
menjadi bahan tertawaan sekaligus simpati bagi teman-temannya.
Kontras dengan Flavik,
namun seringkali bersinergi dalam kekacauan, adalah Nidhom. Dia adalah sang
mastermind, perencana strategi ulung, dan sekaligus joker dalam lingkaran ini.
Otaknya seperti labirin yang penuh dengan skenario dan kemungkinan. Jika ada
masalah yang membutuhkan solusi licik atau jalan pintas yang tak terpikirkan,
Nidhom adalah orangnya. Ia bisa merancang sebuah acara HMPS dari nol dengan
detail yang memukau, sekaligus merencanakan sebuah "serangan fajar"
untuk mengacaukan rapat divisi lain yang dianggapnya menyebalkan. Namun, di
balik semua kelihaiannya itu, Nidhom adalah sosok yang penuh humor, seringkali
humor gelap yang hanya dipahami oleh lingkaran mereka. Ia adalah badut yang cerdas, yang tawanya
menyimpan lapisan-lapisan makna. Ia bisa menjadi provokator ulung, memancing
perdebatan sengit hanya untuk melihat bagaimana teman-temannya bereaksi, lalu
mengakhirinya dengan sebuah lelucon yang meredakan ketegangan. Flavik
melihatnya sebagai sebuah tantangan intelektual; solusi Flavik yang tenang
seringkali lahir dari kekacauan yang diciptakan atau dianalisis oleh Nidhom.
Kemudian, ada Jeri, sang
idealis kolot. Dialah idealis kolot, sang Don Quixote yang melawan kincir angin
bernama kompromi dan pragmatisme. Baginya, dunia seharusnya berjalan sesuai
dengan pakem-pakem moral dan etika yang ia yakini. Ia seringkali frustrasi
dengan realitas yang bengkok, dengan kompromi-kompromi yang dianggapnya
mengkhianati nilai. Jeri adalah pengingat nurani bagi lingkaran itu, meskipun
idealismenya kadang terasa kaku dan tidak praktis di mata teman teman yang lain.
Namun jeri memandang dunia dengan kacamata hitam-putih, dan teman-temannya,
dengan segala warna-warni kepribadian mereka, adalah anomali yang ia coba
pahami dan terima. Ia bicara dengan gairah
yang membara, mengutip prinsip-prinsip luhur yang kadang hanya ia sendiri yang
pahami sepenuhnya. Keresahannya adalah keresahan seorang nabi yang tak
didengarkan di padang gurun modern. Ia anti-kompromi, keras kepala, dan
seringkali membuat situasi menjadi lebih rumit karena keteguhannya pada yang
"benar" menurut versinya.
Sebagai penyeimbang dari
hiruk-pikuk argumen dan strategi, hadirlah Qolbi. Namanya, yang berarti hati,
seolah mencerminkan perannya. Qolbi adalah sang pendengar sejati. Ia mungkin
tidak banyak bicara, tidak menawarkan solusi gemilang seperti Flavik atau strategi
brilian seperti Nidhom, tetapi kehadirannya adalah sebuah pelukan hangat. Ia
adalah pusat gravitasi yang tenang di tengah badai kecil mereka. Qolbi tidak
banyak bicara, tidak banyak berargumen. Ia mendengarkan. Mata dan telinganya
terbuka, menyerap semua gelombang keresahan dan argumentasi yang terpancar dari
sepuluh orang lainnya. Keberadaannya yang diam adalah ruang aman bagi yang lain
untuk meluapkan emosi, untuk memikirkan ulang. Keresahannya adalah keresahan
seorang empati yang memikul beban orang lain tanpa bersuara. Diamnya lebih
lantang dari seribu kata.
Lalu Muzaki, si pekerja
keras. Baginya, hidup adalah tentang usaha
dan dedikasi. Ia mungkin tidak secerdas Ropiki dalam menyerap teori atau selihai Nidhom
dalam berstrategi, tetapi etos kerjanya tak tertandingi. Jika ada tugas yang
harus diselesaikan, Muzaki akan mengerjakannya dengan tekun, seringkali hingga
larut malam, ditemani bergelas-gelas kopi pahit. Ia adalah tulang punggung
dalam setiap kepanitiaan, orang di balik layar yang memastikan semua berjalan
lancar. Kegigihannya adalah inspirasi, sekaligus tamparan bagi mereka yang
lebih banyak berwacana daripada bekerja. Muzaki adalah bukti bahwa kerja keras
bisa mengalahkan bakat jika bakat tidak bekerja keras.
Di antara para lelaki
dengan berbagai kompleksitasnya itu, ada Rifda, sang Sekretaris Umum HMPS. ia
berada di garis depan birokrasi. Ia mencatat, mengatur, memastikan
surat-menyurat berjalan. Namun di balik ketertiban formalitas itu, ia juga
merasakan keresahan yang sama. Ia terjebak di antara perannya yang resmi dan
loyalitasnya pada kelompok sepuluh ini. Keresahannya adalah keresahan seseorang
yang mencoba menyeimbangkan dua dunia yang bertabrakan: dunia aturan dan dunia
hati. Penanya bergerak di atas kertas, menuliskan sejarah konflik ini secara
diam-diam. Jiwanya polos, hampir naif, di tengah pusaran politik kampus yang
kadang licin. Ia memandang dunia dengan kacamata berwarna merah jambu, penuh
dengan kepercayaan dan kepositifan. Keterlibatannya dalam lingkaran "12
Psikopat Kecil" awalnya adalah sebuah kebetulan, terbawa arus pertemanan
dengan beberapa anggotanya. Namun, kepolosannya justru menjadi semacam penawar
bagi sinisme yang kadang merayapi lingkaran itu. Ia adalah representasi dari
kemurnian yang coba dilindungi oleh teman-temannya, meskipun mereka sendiri
seringkali bergulat dengan sisi gelap dalam diri mereka.
Ada Sekar, perempuan
dengan sejuta talenta dan selera humor yang unik. Leluconnya seringkali berupa
"tembak-tembakan" kata, punchline yang tak terduga dan mampu membuat
perut tergelitik. Namun, di balik fasad humorisnya, Sekar adalah seorang "Mbak
Duta" di berbagai bidang. Entah itu duta kampus, duta bahasa, atau duta
antinarkoba, ia selalu berhasil menyabet gelar dan menjalankan perannya dengan
gemilang. Sekar adalah bukti bahwa kecerdasan dan humor bisa berjalan
beriringan. Kehadirannya selalu membawa keceriaan, memecah kebuntuan dengan
celetukan-celetukannya yang segar. Ia adalah penyeimbang bagi keseriusan teman
teman di circle ini.
Kemudian, Faiq, sang
bendahara yang terkenal pelit. Setiap sen uang kas HMPS, atau bahkan uang
patungan untuk sekadar membeli gorengan, akan ia hitung dengan cermat. Sifat
pelitnya ini seringkali menjadi bahan olok-olok, tetapi di balik itu, semua
orang tahu bahwa Faiq adalah penjaga amanah yang ulung. Keuangan organisasi
selalu sehat di tangannya. Namun, ada satu hal di mana Faiq tampak
"miskin": urusan asmara. Ia sangat susah mendapatkan pasangan,
mungkin karena sifat hematnya yang ekstrem atau karena standarnya yang terlalu
tinggi, tak ada yang tahu pasti. Kisah-kisah pendekatannya yang gagal
seringkali menjadi hiburan tersendiri bagi lingkaran itu, sebuah ironi
mengingat ia begitu lihai dalam mengelola "aset" berbentuk uang.
Nadha, sang pengatur
acara ulung. Jika Nidhom adalah ahli strategi di balik layar, Nadha adalah
eksekutornya di lapangan, khususnya dalam hal event management. Tangannya
dingin dalam merancang dan mengelola sebuah acara, mulai dari konsep hingga
pelaksanaan. Setiap detail ia perhatikan, setiap potensi masalah ia antisipasi.
Acara-acara HMPS di bawah koordinasinya selalu berjalan sukses dan meriah.
Nadha adalah perwujudan dari chaos coordinator yang elegan. Ia mampu mengubah
kekacauan ide menjadi sebuah harmoni pertunjukan. Energinya seolah tak pernah
habis, mengalir deras dari satu proyek ke proyek lainnya.
Dan Hafi, sang
penyeimbang dengan pikiran positifnya. Sebagai Wakil Ketua HMPS yang awalnya
menjadi salah satu pemicu terbentuknya keresahan bersama, Hafi justru menjelma
menjadi figur penting dalam dinamika lingkaran ini. Ia adalah jembatan antara
idealisme Surur (sebelum kepergiannya) dan pragmatisme anggota lainnya. Hafi
memiliki kemampuan langka untuk melihat sisi baik dari setiap situasi dan
setiap orang. Pikiran positifnya menular, seringkali mampu meredakan ketegangan
dan mengembalikan fokus pada tujuan bersama. Ia tidak banyak bicara seperti
teman teman yang lain, tetapi kata-katanya selalu berisi dan menenangkan. Hafi
adalah jangkar yang menjaga kapal persahabatan mereka tetap stabil di tengah
badai.
Terakhir, dan ini yang
paling menyayat, adalah Surur. Sang pemimpin yang telah pergi. Surur, Ketua
HMPS yang karismatik itu, yang keberadaannya bersama Hafi di pucuk pimpinan
justru menjadi katalisator terbentuknya lingkaran ini. Ia adalah pusat gravitasi,
matahari yang tanpa sadar diikuti oleh planet-planet keresahan di sekitarnya.
Namun, takdir berkata lain. Sebuah kecelakaan merenggutnya dari panggung
kehidupan, meninggalkan lubang menganga di hati kesebelas temannya dan di
seluruh civitas akademika Psikologi Islam. Kepergian
Surur adalah pukulan telak, sebuah kehilangan yang mengubah segalanya. Ia yang awalnya menjadi
"lawan" dalam dinamika internal, kini menjadi memori kolektif yang
paling berharga. Foto-fotonya masih tersimpan rapi di google drive, cerita
ceritanya yang masih sering dikutip, dan semangatnya seolah masih bersemayam di
ruang HMPS dan di basecamp. Surur adalah anggota kedua belas yang tak kasat
mata, yang kehadirannya justru terasa semakin kuat setelah ketiadaannya.
Dinamika mereka memang
unik. Berawal dari ketidaksetujuan terhadap kepemimpinan Surur dan Hafi,
sepuluh individu ini menemukan kesamaan frekuensi dalam keresahan. Rapat-rapat
gelap yang awalnya bertujuan untuk menyusun "oposisi" atau sekadar melampiaskan
unek-unek, perlahan berubah menjadi ajang saling mengenal, saling memahami, dan
akhirnya, saling membutuhkan. Mereka adalah sekumpulan "psikopat
kecil" bukan karena mereka jahat atau gila dalam artian klinis, melainkan
karena intensitas emosi mereka, cara mereka memandang dunia yang kadang
nyeleneh, dan ikatan mereka yang begitu kuat hingga terasa "tidak
normal" bagi orang luar.
Mereka adalah produk dari
konflik, anak-anak dari ketidakpuasan. Namun, seperti bunga lotus yang tumbuh
dari lumpur, persahabatan mereka mekar justru dari situasi yang keruh. Surur
dan Hafi, yang awalnya menjadi objek kritik, akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan
dari narasi ini. Surur sebagai legenda yang dikenang, Hafi sebagai saksi hidup
yang terus berjalan bersama mereka.
Setiap sudut kampus UIN
Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung seolah menjadi saksi bisu perjalanan mereka.
Laboratorium Psikologi tempat Ropiki mengejar ambisinya, warung kopi tempat Sekar
melontarkan leluconnya, Basecamp HMPS dan Kos tempat Rifda dengan polosnya
mengetik notulensi sementara Faiq menghitung recehan, hingga kedai kopi Flavik bekerja
yang menjadi ruang pengakuan dan pencerahan. Semuanya terjalin dalam sebuah
tapestri memori yang kaya warna.
Mereka tertawa bersama,
menangis bersama (meskipun para lelaki akan menyangkalnya mati-matian),
berdebat hingga urat leher menegang, lalu berdamai dengan sebungkus rokok atau
secangkir kopi. Mereka adalah cerminan satu sama lain, tempat di mana kelebihan
dan kekurangan masing-masing anggota diterima tanpa syarat. Flavik akan
menasihati Ropiki yang patah hati, Nidhom akan merencanakan agenda jalan jalan,
Jeri akan sibuk dengan dunianya, Muzaki yang semangat untuk bekerja, sementara
Nadha akan memastikan semua rencana kumpul-kumpul berjalan sempurna.
Kepergian Surur, tentu saja, adalah babak
paling kelam. Langit Tulungagung terasa lebih muram, kopi terasa lebih pahit,
dan tawa mereka tak lagi serenyah dulu untuk beberapa waktu. Namun, justru
dalam duka itulah ikatan mereka semakin menguat. Mereka menjadi sandaran satu
sama lain, berbagi kenangan tentang Surur, tentang idealisme dan semangatnya
yang tak pernah padam. Surur menjadi hantu baik yang terus mengawasi mereka,
pengingat bahwa hidup ini singkat dan persahabatan adalah harta yang tak
ternilai.
Kini, waktu terus berjalan. Beberapa dari
mereka mungkin sudah mendekati akhir masa studi, beberapa mungkin sudah mulai
merancang masa depan di luar tembok kampus. Namun, label "12 Psikopat
Kecil" akan selalu melekat. Bukan sebagai stigma, melainkan sebagai tanda
kehormatan, sebagai pengingat akan sebuah perjalanan aneh namun indah yang
telah mereka lalui bersama. Mereka adalah bukti bahwa dari keresahan bisa lahir
persahabatan, dari konflik bisa tumbuh pengertian, dan dari kehilangan bisa muncul
kekuatan.
Di lorong-lorong HMPS Psikologi Islam UIN
Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, kisah mereka akan terus berbisik, terbawa
angin, menginspirasi atau mungkin sekadar menjadi dongeng pengantar tidur bagi
generasi mahasiswa berikutnya. Kisah tentang Flaviktori si barista bijak,
Ropiki si ambisius yang malang dalam cinta, Nidhom si joker strategis, Jeri si
idealis kolot, Qolbi si pendengar setia, Muzaki si pekerja keras, Rifda si
polos, Sekar si duta humoris, Faiq si bendahara pelit, Nadha si event organizer
handal, Hafi si penyeimbang positif, dan Surur, sang pemimpin yang telah
berpulang namun tak pernah benar-benar pergi.
Mereka adalah dua belas serpihan jiwa yang
membentuk satu kesatuan tak terpisahkan, sebuah konstelasi kecil di alam
semesta mahasiswa yang luas. Mereka adalah "12 Psikopat Kecil", dan
ini adalah balada mereka, tertulis bukan dengan tinta emas, melainkan dengan
ampas kopi, air mata, dan tawa yang membahana di antara dinding-dinding kampus hijau
tua. Sebuah pengingat bahwa kewarasan sejati mungkin justru ditemukan dalam
"kegilaan" yang kita bagi bersama orang-orang yang kita cintai. Dan di situlah, di antara
absurditas dan kehangatan, jiwa menemukan rumahnya.
Komentar
Posting Komentar