Dahulu, aku adalah seorang pemburu yang ganjil. Aku tidak memburu hewan di belantara atau harta karun di dasar lautan; aku memburu wujud. Sebuah wujud dari apa yang paling fana sekaligus paling abadi: puisi. Dengan kelancangan seorang pemimpi, aku sering bertanya pada kehampaan malam atau pada keriuhan siang, kalau puisi itu punya rupa, akan seperti apakah ia? Pertanyaan itu menjadi semacam mantra, obsesi yang mendorongku untuk menafsirkan segala yang agung di alam raya sebagai kandidat potensial.
Mungkin, pikirku suatu kali, puisi adalah matahari. Terik, membakar, memberi kehidupan dengan kemurahan hatinya yang tak pandang bulu, namun juga bisa membunuh dengan keperkasaannya yang tak tertandingi. Puisi adalah sumber segala energi, pusat dari sebuah galaksi perasaan. Tapi tidak, sangkaan itu keliru. Matahari terlalu pongah, terlalu berjarak. Ia menyinari semua orang tanpa kecuali, sementara puisi yang kucari terasa lebih personal, lebih intim, seolah ia hanya berbisik untuk satu telinga saja.
Lalu, bagaimana dengan bulan? Pucat, puitis, dan penuh misteri. Ia meminjam cahaya dari sang surya, sama seperti penyair yang meminjam kata-kata dari kamus semesta untuk dirangkai menjadi miliknya sendiri. Bulan menemani kesendirian, menjadi saksi bisu bagi mereka yang resah dan tak bisa lelap. Mungkin puisi berwujud rembulan, pikirku lagi. Namun, lagi-lagi aku ragu. Bulan terlalu dingin, terlalu pasif. Ia hanya memantulkan, tidak menciptakan cahayanya sendiri. Puisi yang kurasakan dalam denyut nadiku adalah sebuah kekuatan aktif, sebuah letupan yang berasal dari dalam.
Aku terus mencari. Aku mendaki gunung, berdiri di puncaknya yang sunyi, merasakan angin yang mengiris kulit, dan memandang dunia yang terhampar kecil di bawah. Inikah puisi? Keagungan yang membuat manusia merasa begitu kerdil, begitu tak berarti? Atau jangan-jangan ia adalah laut? Dengan ombaknya yang tak pernah lelah mendebur pantai, menyimpan rahasia kelam di palungnya yang paling dalam, namun juga menawarkan keindahan yang memukau di permukaannya yang biru. Gunung terlalu diam, laut terlalu riuh. Keduanya adalah entitas-entitas besar yang ada di luar diriku. Pencarianku terasa sia-sia; aku mencari sesuatu yang seharusnya kurasakan di dalam, dengan menunjuk pada hal-hal yang ada di luar. Sebuah kekeliruan metodologis yang fatal.
Hingga bertahun kemudian, di sebuah sore yang tak pernah menjanjikan apa-apa, pencarian itu berhenti. Bukan karena aku menyerah, tetapi karena jawaban itu yang menemukanku. Aku menatap matamu. Aku tak tahu persis apa warna matamu saat itu, atau detail-detail remeh lainnya yang mungkin penting bagi seorang pelukis. Yang aku tahu, dari sepasang bola mata itu, sesuatu memancar. Sesuatu yang tak bisa kutangkap dengan indra penglihatan biasa, namun bisa kurasakan menembus hingga ke sel-sel darah.
Itu dia. Puisi.
Ia memancar deras dari matamu, masuk tanpa permisi ke dalam tubuhku, mengalir bersama napas, dan menetap di sebuah ruang kosong yang selama ini tak kusadari keberadaannya. Ia tidak terik seperti matahari, tidak dingin seperti bulan. Ia hangat; kehangatan yang menjalar perlahan, melumpuhkan segala bentuk perlawanan. Sejak saat itu, aku tak perlu lagi mendongak ke langit atau menatap ke cakrawala. Aku hanya perlu menatapmu. Engkau telah menjadi kamus sekaligus ensiklopedia dari segala definisi puisi yang tak pernah bisa kutemukan di buku mana pun.
Dan seperti yang kau duga, pada akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan yang menertawakan seluruh perburuanku di masa lalu. Aku sadar, puisi tak pernah punya rupa. Ia tak akan pernah bisa dibingkai dalam wujud matahari, bulan, bintang, gunung, ataupun laut. Semua itu hanyalah metafora yang terlalu sederhana untuk sesuatu yang begitu kompleks.
Puisi adalah rasa.
Sebuah rasa yang menggenang, mula-mula sedikit, lalu semakin banyak hingga memenuhi waduk jiwa. Ketika waduk itu tak lagi sanggup menampung, ia meluap. Dan luapan itu tak lagi bisa dikendalikan, tumpah ruah melalui jemari yang gemetar di atas aksara, melalui bibir yang bergetar saat mengucapkan sebuah nama. Ya, ia meluap di jemari kenangan.
Dan kenangan itu, entah bagaimana, selalu bernama engkau. Engkau adalah puisi itu sendiri; bukan dalam wujud, melainkan dalam esensi. Engkau adalah alasan mengapa genangan itu ada, dan engkau jugalah muara ke mana segala luapan itu akan kembali. Pencarianku telah berakhir, bukan karena aku menemukan apa yang kucari, melainkan karena aku telah lebur di dalamnya. Di dalam kenangan yang bernama engkau.
Komentar
Posting Komentar