Mari kita coba, sekali ini saja, membalik meja judi yang kita sebut kehidupan. Meja yang penuh dengan taruhan harapan, cip-cip kebahagiaan yang gampang sekali tercecer, dan kartu-kartu takdir yang dibagikan secara bangsat. Bagaimana kalau kita balik sudut pandang? Bahwa semua yang kita ratapi—kesedihan yang mengiris tipis-tipis kewarasan, kesusahan yang melubangi saku dan jiwa, ketiadaan yang membuat kita merasa seperti hantu di tengah pesta—sebenarnya adalah harta karun itu sendiri. Sebuah kekayaan yang tak bisa dijarah, tak bisa diinflasi, sebab ia adalah kekayaan yang lahir dari peniadaan.
Ya, peniadaan diri. Konsep yang terdengar seperti omong kosong para pertapa di kuping manusia modern yang sibuk membangun citra diri di layar-layar pipih beresolusi tinggi. Peniadaan diri adalah sesuatu yang sebenarnya kita perlu gapai untuk menguliti segala kepalsuan dan menyentuh apa yang substansi. Dunia berteriak: jadilah seseorang! Punya ini, raih itu, taklukkan anu! Tapi mungkin, justru dalam "menjadi tiada" itulah kita menemukan "segala". Dalam kekosongan, kita tak lagi terikat oleh definisi sempit tentang siapa diri kita yang dibentuk oleh rekening bank, jabatan, atau jumlah pengikut.
Lalu, bagaimana jika kita, yang sudah lelah berlari di atas treadmill ambisi ini, tak usah lagi mencari-cari? Bagaimana kalau kita memilih diam? Bukan diam yang kalah, melainkan diam yang memilih. Berdiam diri untuk menegasikan ketumimbalan—logika transaksional bahwa setiap perbuatan harus ada balasannya, setiap kebaikan harus dibayar tunai, setiap pengorbanan harus jadi investasi. Juga, untuk menegasikan kemelekatan—cinta buta pada harta, pada status, pada orang lain, bahkan pada citra diri kita sendiri sebagai orang "baik" atau orang "menderita".
Pertanyaannya kemudian menjadi menusuk: Adakah orang-orang waras yang kembali mengumpati dan mengutuki hal pasif ini?
Tentu saja ada. Mereka banyak. Mereka adalah mayoritas. Mereka adalah kita, barangkali, di hari Senin pagi yang sibuk. Dunia modern, dengan segala dogma produktivitasnya, akan menyebut ini kemalasan. Eskapisme. Defeatism. Orang yang memilih diam adalah pecundang yang menyerah sebelum perang. Mereka akan diumpat sebagai parasit sosial, beban masyarakat, orang-orang aneh yang tak mengerti cara kerja dunia. "Kewarasan" versi mereka adalah kewarasan yang diukur dari denyut aktivitas, dari kalender yang padat, dari notifikasi yang tak henti-hentinya berdering. Mereka lupa, atau mungkin tak pernah tahu, bahwa roda yang berputar paling kencang justru porosnyalah yang diam.
Maka datanglah bisikan dari masa lalu, dari seorang pangeran Jawa yang memilih jalan sunyi. "Anteng-manteng; sugeng jeneng," kata Raden Mas Sosrokartono. Tenang dan stabil, maka selamatlah nama (dan jiwa). Ini bukan resep menjadi patung. Ini adalah formula untuk menemukan pusat gravitasi di tengah badai kosmik kepalsuan. Ketenangan yang kokoh. Diam yang berisi. Dan dari sudut lain, seorang penyair lirih menambahkan resepnya, "Tak banyak kehendak," begitu kata Sapardi. Dua kalimat pendek itu, jika direnungkan, adalah sebuah manifesto radikal melawan seluruh arsitektur peradaban yang dibangun di atas fondasi kerakusan dan hasrat yang tak pernah padam.
Sebab apa? Sebab susah tidak abadi, senang tidak hakiki. Keduanya hanyalah anomali, getaran singkat pada senar eksistensi. Yang nyata hanyalah ketumimbalan dan segala sesuatu yang berkondisi, yang sifatnya sementara. Kita, semua entitas makhluk ini, secara fundamental labil. Hari ini tertawa terbahak-bahak, besok bisa menangis meraung-raung. Hanya Pencipta, atau apa pun kita menyebut entitas Absolut itu, yang stabil. Makhluk merasakan susah-senang dalam dialektika yang tak berkesudahan; Pencipta tidak susah dan tidak senang. Ia melampaui dualitas picisan itu.
Ada dua kemungkinan seseorang bisa mengucapkan frasa ajaib "biasa saja" saat ditimpa nasib baik atau buruk. Kemungkinan pertama, dan ini yang paling dangkal, adalah karena ia tidak pernah benar-benar menghayati apa pun. Hidupnya datar. Kesedihan tak cukup dalam untuk meninggalkan bekas, kesenangan tak cukup tinggi untuk memberinya euforia. Ia hanya mengambang, mati rasa. Kemungkinan kedua, dan inilah yang kita bicarakan, adalah karena ia sudah melewati semua fase itu dengan begitu muluk, begitu dramatis, hingga ia sampai pada satu titik puncak kebosanan eksistensial. Ia telah menenggak piala kesenangan sampai mabuk dan meminum cawan kesedihan sampai kering. Lalu ia memutuskan: bodoh amat.
Frasa Jawa yang pesimistis itu, "senangnya sebiji kapuk, susahnya sepanjang musim penghujan," adalah potret realitas diri yang keblinger. Diri yang masih terperangkap dalam kalkulasi untung-rugi, yang belum menerapkan laku eling lan waspada—selalu ingat dan waspada pada tipu daya perasaan. Sosrokartono dan murid spiritualnya, Ki Ageng Suryomentaram, memberikan formulasi untuk mencapai "biasa saja" yang mulia itu: "langgeng tanpa susah, tanpa senang." Abadi tanpa duka, tanpa suka. Bukan berarti menjadi robot tanpa emosi, melainkan memahami bahwa "susah dan senang senantiasa mingkar-mingkur," senantiasa datang dan pergi silih berganti. Mengikatkan diri pada salah satunya adalah kebodohan yang paling purba.
Maka, ketika Chairil Anwar, si binatang jalang itu, menulis dalam salah satu sajaknya yang paling getir, "Tak Sepadan", ia tidak sedang bicara tentang cinta yang gagal antara dua manusia. Ia bicara tentang absurditas perjuangan itu sendiri. Segala peluh, darah, dan air mata yang kita curahkan untuk mengejar fatamorgana yang kita sebut "kebahagiaan" atau "kesuksesan". Pada akhirnya, semua itu is not worth it. Tidak sepadan.
Karena apa? Karena tak ada yang bisa sangat tabah menanggung beban dunia yang fana ini, kecuali hati yang selesai. Hati yang telah menuntaskan segala urusannya dengan kemelekatan dan ketumimbalan. Hati yang tidak lagi berdebar karena pujian dan tidak lagi menciut karena cacian. Hati yang melihat kesusahan bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai proses pemurnian. Hati yang memandang ketiadaan bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai ruang lapang untuk diisi oleh sesuatu yang lebih besar dari ego.
Jadi, biarkan mereka, orang-orang "waras" itu, mengumpati keheningan kita. Biarkan mereka mengutuki kepasifan kita. Di tengah hiruk-pikuk pasar dunia di mana semua orang sibuk menjual jiwa mereka untuk ditukar dengan koin-koin pengakuan, mungkin kekayaan yang sesungguhnya memang hanya dimiliki oleh orang-orang yang berani untuk tidak memiliki apa-apa. Orang-orang yang telah kalah dalam perlombaan dunia, dan justru dengan kekalahan itulah mereka memenangkan semesta.
Komentar
Posting Komentar