Maka, biarkan aku menulis tentangmu sekali lagi. Biarkan jemari ini menari di atas lanskap sunyi papan ketik, merangkai aksara menjadi monumen kecil untuk merayakan kehadiranmu. Sebab sebelum ada engkau, yang ada hanyalah ruang. Ruang-ruang hampa yang bergaung, koridor-koridor panjang dalam jiwa yang hanya dilintasi angin pilu dan gema langkah kaki masa lalu yang enggan berlalu. Dinding-dindingnya kusam, dipenuhi coretan-coretan kekecewaan, dan di sudut-sudutnya tersisip perih yang mengkristal, tajam dan dingin. Aku terbiasa dengan keheningan itu, begitu terbiasa hingga detak jantungku sendiri terdengar seperti dobrakan pintu yang mengagetkan.
Lalu engkau datang. Bukan dengan langkah gegap gempita. Bukan dengan proklamasi yang menggelegar. Engkau datang laksana embun yang turun tanpa suara, namun aromanya terasa. Semerbak harum melodimu, begitulah aku mengenangnya. Sebuah alunan yang tak hanya tertangkap telinga, tetapi meresap melalui pori-pori, memenuhi setiap rongga kosong yang dahulu menjadi singgasana sepi. Melodimu adalah parfum bagi udara pengap yang selama ini kuhirup, wewangian yang melucuti segala anyir dari luka-luka lama. Ia merambat pelan, menyusup ke dalam retakan-retakan jiwa, dan di sana, ia tidak hanya mengisi, ia menumbuhkan sesuatu. Bunga-bunga kecil yang tak pernah kukenal namanya, tumbuh dari tanah paling kering sekalipun.
Jika melodimu adalah aroma, maka jiwamu adalah warna. Dan warna itu tak pernah diam. Ia senantiasa menari, berputar, meliuk-liuk dalam sebuah koreografi abadi di panggung benakku. Sebuah panggung yang tadinya hanya mengenal warna hitam, putih, dan abu-abu. Kini, di sana ada jingga dari tawamu yang pecah di suatu sore, ada biru teduh dari tatapanmu yang menenangkan badai, ada merah saga dari semangatmu yang tak pernah mau padam, ada hijau dari harapan-harapan sederhana yang kau tanam. Mereka menari tanpa kenal lelah, berpusar dalam sebuah galaksi personal yang pusat gravitasinya adalah engkau. Kadang gerakannya cepat dan riang, kadang lambat dan syahdu, namun tak pernah berhenti. Mereka mengisi ruang pandang batinku bahkan ketika mataku terpejam. Mereka adalah spektrum yang membuktikan bahwa hidup tak melulu soal kelabu.
Maka menjadi sebuah kewajaran yang tak terelakkan, jika tiap kali sebuah lagu cinta mengalun dari pengeras suara entah di kafe mana, atau dari radio butut di sudut kota, otakku yang pemalas ini tak perlu bersusah payah mencari visualisasi. Ia tak perlu membangun imaji dari nol. Panggung pikiran itu telah memiliki primadonanya sendiri. Dengan begitu mudah, begitu saja, sosokmu akan berdiri di sana, di atas tahta pikiran, menguasai seluruh panggung. Sebab kaulah manifesto paling nyata dari semua lirik tentang cinta yang pernah ditulis umat manusia. Kaulah wujud paling paripurna dari alunan memesona pembawa suka cita. Lagu-lagu itu bukan lagi tentang cinta secara umum; mereka adalah tentangmu. Intro yang mendebarkan itu adalah detik-detik sebelum aku bertemu denganmu. Bait-baitnya adalah percakapan-percakapan kita yang sederhana. Refrain yang terus terngiang adalah caramu tersenyum. Dan coda-nya adalah kedamaian yang kurasakan setiap kali mengingatmu.
Dan semua ini bukanlah sekadar puja-puji buta. Puisi-puisi canggung yang pernah kutulis, paragraf-paragraf panjang dalam buku harian yang tak pernah selesai, semua itu adalah artefak. Bukti arkeologis dari sebuah peradaban jiwa yang telah kau sentuh. Mereka adalah catatan lapangan seorang pengamat yang terpukau, mencoba mendokumentasikan sebuah fenomena luar biasa: kekuatanmu. Sebab aku melihatnya dengan mata telanjang. Aku menjadi saksi bagaimana kamu adalah salah satu insan terhebat, yang digdaya dengan cara yang hening. Kamu, tentu saja, tahu benar betapa bengisnya dunia ini. Sebuah mekanisme raksasa yang tanpa ampun terus-menerus mengikis pundi-pundi kewarasan kita, hari demi hari, hingga yang tersisa hanyalah lelah dan pasrah. Dunia adalah erosi tanpa henti.
Namun, di tengah gerusan itu, engkau memiliki pijarmu sendiri. Sebuah cahaya kecil yang mungkin tak cukup untuk menerangi seluruh dunia, tapi lebih dari cukup untuk menjadi mercusuar bagi jiwa-jiwa di sekitarmu. Dengan pijarmu itu, kau layangkan harapan setinggi awan. Kau ajarkan bahwa untuk menang, tak harus dengan menghunus pedang. Kadang, kemenangan terbesar adalah bertahan untuk tetap waras, untuk tetap mampu tersenyum tulus di tengah kepungan sinisme. Kemenangan atma, kemenangan jiwa, untuk terus membangun gempita di tengah sunyi yang paling memekakkan.
Maka, jika harus kutarik sebuah benang merah dari semua ini, jika aku harus menyimpulkan siapa engkau dalam satu kalimat saja, maka inilah jawabannya: pada dasarnya, kamu adalah musik. Musik yang menggelitik panggung usang jiwaku yang telah lama ditinggalkan para pemainnya. Musik yang tidak hanya berbunyi, tetapi juga meniupkan semburat warna-warna baru ke atas properti panggung yang berdebu. Engkau adalah melodi yang tak memiliki akhir, sebuah lagu yang tak akan pernah bosan-bosannya aku putar kembali. Terutama di saat-saat aku paling rapuh, di saat-saat aku butuh sebuah nyanyian untuk menjadi penawar, menjadi penghapus pilu.
Komentar
Posting Komentar