Malam. Aspal. Sepotong kota yang menggigil dalam tidurnya. Aku pernah berjalan sendirian di bawah lampu jalan yang redup, cahaya kuningnya seperti madu yang tumpah dan membeku di atas keheningan. Dan di sanalah ia: bayanganku sendiri, terentang di depanku, hitam pekat di atas abu-abu trotoar. Ia bukan sekadar pantulan gelap dari tubuhku. Malam itu, ia tampak seperti orang asing yang paling setia.
Ia tak punya wajah, tak punya suara, tak punya kehendak. Tapi ia mengikuti. Setiap langkah kakiku adalah perintah baginya. Ketika aku berhenti, ia berhenti. Ketika aku ragu-ragu, ia membeku dalam keraguan yang sama. Sebuah duplikat bisu yang sempurna. Saat itulah aku mengerti, rindu seringkali tidak hadir dalam wujud wajah yang jelas di pelupuk mata, atau suara yang memanggil namamu dari kejauhan. Tidak. Rindu hadir seperti itu: sebuah kehadiran samar yang mengikuti tanpa bisa disentuh, sebuah kepastian yang tak berbentuk.
Bayangan itu adalah bukti bahwa aku ada, di sini, di bawah tatapan lampu jalan yang tak peduli. Namun ia juga bukti dari ketiadaan yang lain. Ia adalah ruang kosong yang diisi oleh kegelapan, persis seperti hati yang diisi oleh kenangan. Aku bisa melihatnya, aku bisa mengakuinya, aku bahkan bisa berbicara kepadanya dalam gumam yang tersangkut di kerongkongan. Tapi aku tidak akan pernah bisa memeluknya. Jika aku mencoba merengkuhnya, tanganku hanya akan menyentuh aspal yang dingin dan berdebu.
Begitulah rindu bekerja. Ia adalah teman perjalanan yang paling akrab sekaligus paling jauh. Ia meniru gerak-gerik jiwamu, cara engkau menarik napas panjang saat teringat sesuatu, jeda sebelum engkau melanjutkan langkah, bahkan keheningan ketika engkau berhenti, menatap ujung sepatumu yang usang seolah di sanalah seluruh jawaban atas peta kehidupan tersimpan. Rindu adalah bayangan dari seseorang yang pernah berjalan di sisimu, yang kini hanya menyisakan jejak gelapnya yang menempel pada dirimu.
Setiap orang yang berjalan sendirian di bawah lampu jalan pasti memahami ini. Kota di malam hari adalah panggung raksasa bagi monolog-monolog tanpa suara. Dengung samar transformator di tiang listrik, desau angin yang menyapu daun kering, klakson jauh yang terdengar seperti jeritan tertahan—semua itu adalah orkestra bagi tarian sepi antara seseorang dan bayangannya. Kita semua adalah penari yang merindukan pasangan, namun hanya bisa berdansa dengan salinan diri kita sendiri yang terbuat dari ketiadaan cahaya.
Lalu apa artinya sebuah kehadiran? Apakah kehadiran harus selalu bisa diraba, dikecup, atau didekap? Mungkin tidak. Mungkin kehadiran yang paling nyata adalah yang meninggalkan jejak paling abadi, bahkan setelah wujud fisiknya pergi. Bayangan itu tidak bisa dipeluk, seperti halnya rindu tidak bisa dipenuhi. Keduanya adalah paradoks. Keduanya memberi kepastian—bahwa ada sesuatu yang terus menemani—namun kepastian itu sekaligus adalah vonis: bahwa yang menemani itu tak akan pernah benar-benar hadir untuk mengisi kekosongan. Sebuah kepastian yang menyiksa sekaligus menenangkan.
Maka aku berjalan terus. Di lorong-lorong kota yang disiram cahaya sakit-sakitan, aku dan bayanganku menjadi satu-satunya entitas yang utuh. Ia tak pernah bertanya ke mana aku akan pergi. Ia tak pernah mengeluh betapa lambat langkahku. Ia hanya ada, membentang dan memendek seiring permainanku dengan sumber cahaya. Ia adalah saksi bisu dari segala resah yang tak terucap, pendengar setia dari segala dialog yang hanya terjadi di dalam kepala. Ia adalah bukti paling sahih dari sebuah kehilangan. Karena hanya orang yang pernah berjalan bersama seseorang yang akan mengerti betapa ramainya kesendirian saat hanya ditemani bayangan. Ia bukan hantu dari masa lalu, ia adalah penegasan dari sepi di masa kini.
Dan di ujung jalan, di bawah lampu yang berkedip seperti mata lelah, aku berhenti. Bayanganku pun berhenti. Kami berdiri dalam diam yang khusyuk. Ia tidak menawarkan penghiburan. Ia tidak menjanjikan apa-apa. Ia hanya ada. Setia. Dan kesetiaannya adalah belati yang paling tajam, sekaligus selimut yang paling ganjil. Ia adalah ketiadaan yang menjadi tubuh. Ia adalah rindu yang menjadi teman. Orang asing yang paling aku kenal.
Komentar
Posting Komentar