Mari kita bicara tentang kebenaran. Tapi bukan, bukan kebenaran yang melayang-layang di langit, berkilauan seperti debu kosmik yang tak tersentuh. Kita bicara tentang kebenaran yang diucapkan dari mulut ke mulut, yang ditulis dari tangan ke tangan, yang diklaim di mimbar-mimbar agung. Kebenaran hasil tafsir. Lalu ada yang datang, dengan dada dibusungkan dan suara digetarkan, dan berkata: tafsir ini adalah kebenaran mutlak.
Logikanya, tentu saja, absurd. Omong kosong.
Kenapa? Karena tafsir, kata itu sendiri sudah berbau manusia. Keringat manusia. Darah manusia. Tafsir tidak turun dari langit dalam sebongkah batu meteor yang suci. Ia lahir dari kepala. Kepala manusia. Seseorang duduk, membaca sebuah teks—entah itu kitab suci, naskah kuno, atau sekadar gerak-gerik awan—lalu otaknya bekerja. Memori, emosi, dan seluruh katalog hidupnya ikut campur dalam sebuah proses kimiawi yang rumit. Hasilnya? Sebuah pemaknaan. Sebuah tafsir.
Dan di sinilah letak masalahnya. Manusia. Subjek yang menafsir itu tidak pernah bisa melompat keluar dari kulitnya sendiri. Ia terperangkap dalam sebuah ruang yang tak bisa ia tinggalkan: ruang subjektivitas. Ruang itu dibangun oleh dinding-dinding yang bernama budaya. Seseorang yang lahir dan besar di gurun pasir akan menafsirkan kata "air" dengan getaran jiwa yang berbeda dari mereka yang hidup di negara kepulauan. Air bagi yang satu adalah anugerah penyelamat, bagi yang lain adalah kawan sehari-hari yang kadang bisa menjelma bencana. Teksnya sama, tafsirnya lahir dari rahim budaya yang berbeda.
Lalu ada dinding lain: pengalaman personal. Luka pengkhianatan, euforia cinta pertama, pahitnya kemiskinan, arogansi kekuasaan. Semua itu bukan sekadar catatan harian. Semua itu adalah lensa. Lensa berwarna yang terpasang permanen di depan mata batin kita. Ketika kita membaca sebuah kalimat tentang keadilan, lensa pengalaman kita—apakah kita pernah dizalimi atau justru yang menzalimi—akan menentukan warna apa yang kita lihat dari kalimat itu. Kita tidak membaca teks sebagaimana adanya; kita membaca teks sebagaimana diri kita adanya.
Dan yang paling telanjang, paling brutal: kepentingan. Jangan naif. Tafsir sering kali bukan lagi upaya mencari pencerahan, melainkan alat untuk membenarkan sebuah agenda. Penguasa butuh tafsir yang melanggengkan kekuasaannya. Kelompok ekonomi butuh tafsir yang menghalalkan praktik bisnisnya. Individu yang terpojok butuh tafsir yang membuatnya merasa superior. Tafsir menjadi palu, bukan lagi suluh. Ia dipakai untuk memukul lawan, bukan untuk menerangi jalan yang gelap.
Celakanya, banyak yang tidak menyadari jebakan ini. Mereka berkata, "Saya tidak menafsir, saya hanya mengikuti tafsir yang paling benar."
Sungguh? Tindakan memilih tafsir mana yang akan diikuti itu sendiri adalah puncak dari subjektivitas. Dari sekian banyak olah pikir manusia yang tersedia—tafsir A, B, C, hingga Z—Anda memilih satu. Kenapa yang itu? Mungkin karena tafsir itu terdengar paling logis bagi Anda. Mungkin karena disampaikan oleh sosok yang Anda kagumi. Mungkin karena tafsir itulah yang diajarkan nenek moyang Anda. Atau, yang paling umum, karena tafsir itu paling nyaman dan paling menguntungkan bagi posisi Anda saat ini.
Apa pun alasannya, itu adalah sebuah pilihan. Dan pilihan selalu bersifat subjektif. Maka, ketika Anda menunjuk satu tafsir dan berteriak, "Inilah satu-satunya kebenaran absolut!", Anda tidak sedang memegang mandat ilahi. Anda hanya sedang menunjuk cermin. Anda sedang mendeklarasikan pilihan subjektif Anda seolah-olah itu adalah hukum alam universal.
Faktanya tetap tak terbantahkan: Anda tetap sedang mengikuti hasil olah pikiran manusia. Manusia yang sama-sama terkurung dalam budaya, pengalaman, dan kepentingannya sendiri. Mengklaimnya sebagai kebenaran mutlak adalah sebuah arogansi intelektual. Sebuah upaya menyedihkan untuk membekukan sesuatu yang sejatinya cair: pemaknaan.
Lantas apakah semua tafsir sama saja? Tidak juga. Ada tafsir yang dibuat dengan metodologi yang ketat, dengan kejujuran intelektual, dengan niat membuka dialog. Ada pula tafsir yang dibuat secara serampangan untuk menebar kebencian. Membedakannya adalah tugas akal sehat.
Namun, mengakui bahwa semua tafsir lahir dari rahim subjektivitas manusia bukanlah sebuah undangan menuju relativisme kosong. Justru sebaliknya. Ini adalah undangan menuju kerendahan hati. Sebuah pengakuan bahwa di hadapan teks-teks besar, kita semua adalah peziarah yang mencoba memahami. Bukan pemilik tunggal kebenaran.
Klaim atas tafsir yang mutlak hanya akan melahirkan dogma. Dan dogma adalah awal dari kematian nalar. Ia menutup pintu diskusi, membungkam pertanyaan, dan mengubah manusia menjadi beo-beo yang hanya bisa mengulang, bukan lagi berpikir.
Pada akhirnya, tafsir adalah sebuah perjalanan. Sebuah dialog tanpa henti antara teks yang diam dan manusia yang gelisah. Bukan tujuan akhir. Dan di sanalah, persis di sana, letak seluruh keindahan dan kemanusiaannya.
Komentar
Posting Komentar