Langsung ke konten utama

Apel Merah di Atas Meja yang Terbelah

Maka dunia pun sepakat, di atas meja kayu yang sama, di bawah langit yang sama, dengan mata yang sama-sama memandang: apel itu merah. Sebuah kebenaran yang tak perlu dipertanyakan, sebuah fakta yang terbentang begitu saja di hadapan mata telanjang. Merah seperti senja yang pasrah, merah seperti darah yang tumpah dalam dongeng-dongeng kepahlawanan. Semua orang melihatnya, semua orang mengakuinya. Inilah jangkar pertama kita pada realitas, sebuah kesepakatan komunal yang nyaman. Apel itu merah, dan dalam kebenaran sederhana itu, kita merasa aman. Kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah persekutuan mata yang tak pernah salah.
​Identitas kita dirajut dari benang-benang merah itu. “Aku adalah orang yang tahu bahwa apel itu merah.” Dan karena semua orang di sekelilingku juga berkata demikian, maka duniaku kokoh, duniaku utuh. Kita membangun percakapan, lagu, bahkan mungkin peradaban di atas kepastian warna merah apel di atas meja. Kita bertukar pandang dan mengangguk, sebuah validasi tanpa kata bahwa kita semua berada di pijakan yang benar.

​Namun, seperti dalam setiap cerita yang layak dikenang, selalu ada tangan yang gatal, yang tak puas hanya dengan memandang. Tangan yang meraih pisau kecil—bukan untuk menikam, melainkan untuk bertanya. Pisau itu berkilat sejenak, menangkap cahaya lampu, sebelum menancap pada kulit apel yang licin. Dan ketika kulit itu terkelupas dalam satu putaran panjang yang anggun, seperti rok penari yang tersingkap, terkuaklah sebuah kebenaran lain. Sebuah kebenaran pucat yang selama ini bersembunyi. 

​“Apel ini,” kata si pemilik tangan, suaranya tenang, nyaris berbisik namun terdengar laksana guntur di tengah keheningan, “di dalamnya berwarna putih.”

​Dunia yang tadinya kokoh tiba-tiba bergoyang. Kesepakatan komunal itu retak. Sebab pernyataan itu, sesederhana apa pun, adalah sebuah serangan. Bukan serangan pada apel, melainkan pada identitas setiap orang yang telah dibangun di atas warna merahnya. Realitas mereka ditantang, bukan oleh sebuah kebohongan, melainkan oleh kebenaran lain yang tak mereka harapkan kedatangannya. “Bagaimana bisa kau bilang apel ini putih,” kata mereka, “padahal mataku, mata ayahku, mata semua orang yang kukenal, melihatnya merah?”

​Si pengelupas apel tidak pernah berkata bahwa apel itu tidak merah. Ia hanya menambahkan sebuah dimensi, sebuah lapisan baru pada realitas. Ia hanya menunjukkan apa yang ada di balik kulit. Namun, bagi kerumunan, menambahkan adalah mengubah. Dan mengubah adalah menghancurkan.

Di sanalah, di antara merahnya kulit dan putihnya daging buah, kebencian mulai tumbuh. Bukan benci pada dusta, sebab si pengelupas apel tak berdusta. Daging apel itu memang putih. Ini adalah benci pada kebenaran yang tak diundang. Benci pada kerumitan yang merusak keindahan sebuah kesederhanaan. Benci karena si pengelupas apel telah memaksa mereka untuk berpikir, untuk mempertanyakan sesuatu yang selama ini hanya perlu diterima. Identitas “apel merah” yang mereka yakini kini terasa goyah, dan manusia, makhluk yang rapuh, akan selalu membenci apa pun yang menggoyahkan pijakannya.

​Orang yang berpikir kritis itu, si pengelupas apel itu, menjadi musuh bersama. Ia dituduh mengacau, mencari-cari perhatian, atau bahkan sesat. Padahal, apa yang ia lakukan adalah sebuah undangan. Undangan untuk melakukan hal yang sama.

​Sebab pisau itu ada di tangan kita semua. Kemampuan untuk mengelupas itu bersemayam dalam setiap akal. Kita semua bisa, jika kita mau, merasakan bagaimana dinginnya baja pisau menyentuh kulit buah. Kita semua bisa mendengar desis lembut saat kulit itu menyerah, memperlihatkan dagingnya yang rapuh. Kita bisa melangkah lebih jauh, membelahnya, dan menemukan biji-biji hitam di jantungnya—janji akan pohon apel yang baru. Kita bahkan bisa menggigitnya, merasakan perpaduan manis dan asam yang meledak di lidah, sebuah kebenaran yang hanya bisa dipahami oleh indera perasa, bukan sekadar mata.

​Apel itu merah di luar. Apel itu putih di dalam. Apel itu memiliki biji yang hitam. Apel itu terasa manis sekaligus masam. Semua adalah kebenaran. Semua adalah bagian dari apel itu sendiri.

​Tragedinya bukanlah karena ada yang melihat merah dan ada yang melihat putih. Tragedinya adalah ketika pemilik mata yang hanya melihat merah, menolak untuk percaya bahwa ada warna putih di dalamnya, dan memilih untuk membenci si pembawa kabar. Padahal kita semua duduk di depan meja yang sama, memandangi apel yang sama. Dan pisau itu tergeletak begitu saja di antara kita, menunggu untuk dijemput. Pertanyaannya bukan lagi apa warna apel itu, melainkan: mengapa kita lebih memilih untuk saling membenci dalam kebutaan parsial, daripada bersama-sama mengupasnya hingga ke inti terdalam?

Komentar