Hidup adalah sebuah peron stasiun yang tak pernah tidur. Selalu ada kereta yang datang, selalu ada kereta yang pergi. Kau berdiri di sana, di antara deru dan decit roda besi, di antara pengumuman dari pengeras suara yang parau. Kau menatap wajah-wajah. Ribuan wajah. Jutaan wajah. Dan kau tahu, jauh di dalam sumsum tulangmu, ini semua tentang seleksi.
Sebuah proses eliminasi tanpa juri dan tanpa panggung.
Kadang, kau yang terseleksi. Disingkirkan. Dilupakan. Namamu pernah menjadi lagu yang dinyanyikan setiap pagi. Kini, bahkan nadanya pun tak diingat lagi. Wajahmu pernah menjadi satu-satunya pemandangan yang ingin dilihatnya saat membuka mata. Kini, wajahmu hanya selembar foto usang di dasar laci, tertimbun struk belanjaan dan tiket bioskop yang telah pudar warnanya. Mungkin sudah dibuang. Kau tak akan pernah tahu.
Kau menjadi hantu di koridor ingatan seseorang. Gema tawa yang sesekali terdengar, tapi sumbernya tak lagi bisa dilacak. Kau adalah paragraf yang dihapus dari sebuah cerita, karena alurnya harus berjalan tanpamu. Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada surat pemecatan. Hanya sunyi yang datang tiba-tiba. Panggilan telepon yang tak lagi berdering. Pesan yang hanya dibaca, tanpa pernah berbalas. Lalu hening. Hening yang memekakkan.
Kau mencoba mengingat kesalahanmu. Apa yang kurang? Di tikungan mana kau salah belok? Tapi tak ada jawaban. Karena sering kali ini bukan tentang salah dan benar. Ini hanya tentang ruang. Ruang di hatinya sudah penuh. Atau mungkin, ruang yang kau tempati dibutuhkan untuk orang lain. Seseorang yang keretanya baru saja tiba, sementara keretamu sudah harus berangkat. Maka kau pun tersingkir. Terlempar dari orbitnya, melayang di kehampaan, mencari pijakan baru yang entah ada di mana. Dilupakan. Sebuah kata yang brutal, tapi jujur.
Lalu, ada kalanya, kau yang memegang kendali. Kau yang menjadi kepala stasiun bagi hidupmu sendiri.
Kau berdiri di depan pintu. Di luar, ada seseorang. Wajahnya, ceritanya, tawanya, pernah menjadi bagian integral dari harimu. Tapi kau tahu, segalanya telah berubah. Kehadirannya kini terasa seperti beban. Percakapan menjadi skrip basi yang diulang-ulang. Kebersamaan hanya menunda perpisahan yang tak terhindarkan. Maka kau harus menyeleksi.
Ini bukan keputusan yang mudah. Tanganmu gemetar saat memutar kunci. Ada rasa bersalah yang menggerogoti, seperti karat pada besi. Kau menyingkirkannya bukan karena dia jahat. Bukan karena dia cacat. Kau menyingkirkannya karena kau harus menyelamatkan dirimu sendiri. Seperti seorang tukang kebun yang memangkas dahan yang indah tapi menghalangi sinar matahari untuk dahan yang lain. Sakit. Tapi perlu.
Kau menutup pintu itu. Pelan. Tanpa suara bantingan. Hanya bunyi klik yang final. Di luar, satu semesta mungkin runtuh. Di dalam, kau mencoba mengatur napas, meyakinkan diri bahwa ini yang terbaik. Lalu kau mulai proses melupakan. Menghapus nomornya. Mengarsipkan fotonya. Menghindari jalan yang biasa kalian lewati. Kau membangun benteng di sekeliling ingatan, berharap waktu akan menjadi sekutu yang baik. Menyingkirkan. Melupakan. Dua kata kerja aktif yang membutuhkan seluruh tenagamu.
Maka jangan pernah percaya pada dongeng tentang keabadian. Tidak ada.
Tidak ada yang benar-benar abadi. Ucapkan itu seperti mantra. Ucapkan itu seperti doa. Atau kutukan. Semua hanyalah rangkaian babak. Satu babak selesai, tirai turun. Para aktor berganti. Panggungnya tetap sama: hidupmu. Orang-orang adalah penumpang. Mereka naik di satu stasiun, dan akan turun di stasiun lain. Ada yang perjalanannya bersamamu singkat, hanya satu perhentian. Ada yang lebih lama, melewati banyak kota dan musim. Tapi pada akhirnya, semua akan turun.
Lalu siapa mereka? Orang-orang yang masih di sini? Yang duduk di sampingmu hari ini, menyeruput kopi di kedai yang sama, menertawakan leluconmu yang payah?
Mereka bukan orang-orang yang sempurna. Bukan juga orang-orang yang paling hebat. Mereka adalah para penyintas. Sama sepertimu. Mereka adalah orang-orang yang telah melewati berkali-kali proses seleksi itu, dan entah bagaimana, memilih untuk tetap tinggal. Dan kau, dengan segala keraguan dan ketakutanmu, masih berkenan bersama mereka.
Mereka telah melihatmu dalam versi terburukmu, dan tidak pergi. Kau telah mendengar cerita paling kelam mereka, dan tidak berlari. Setiap hari adalah proses seleksi yang tak diucapkan. Sebuah pilihan sunyi untuk kembali membuka pintu. Sebuah kesediaan diam-diam untuk terus menyediakan ruang. Mereka adalah bukti bahwa di antara jutaan wajah yang datang dan pergi di peron stasiun hidupmu, ada beberapa yang memutuskan untuk melewatkan kereta mereka. Demi satu perjalanan lagi bersamamu.
Hargai mereka. Karena di dunia yang terus-menerus menyingkirkan dan melupakan, menemukan seseorang yang bertahan adalah satu-satunya keajaiban yang tersisa. Sampai stasiun berikutnya. Selalu sampai stasiun berikutnya.
Komentar
Posting Komentar