Pada judul yang mana kau terbitkan tentang bahasa Tuhan yang bernubuat? Pertanyaan itu datang bukan sebagai bisik, melainkan gelegar petir di siang bolong, di tengah kepala yang demam oleh pencarian. Pertanyaan itu telanjang, menuntut, dan menertawakan jemari yang siap menari di atas aksara. Judul? Judul hanyalah nisan. Sebuah penanda bagi sesuatu yang sudah selesai, yang sudah tamat. Sementara ini? Ini belum usai. Ini adalah proses menjadi bangkai.
Tak tertampung kata-kata untuk memuat. Tentu saja. Bagaimana mungkin kau sangkakan samudera ke dalam sebuah cangkir? Kata-kata hanyalah buih di bibir pantai, sementara gemuruh ombak yang sesungguhnya—gemuruh bernama rindu, bernama kehilangan—berkecamuk di palung jiwa yang tak terukur dalamnya. Kata-kata adalah pengkhianat. Ia mencoba melukiskan demam, tapi ia tak pernah benar-benar menggigil. Ia mencoba menuliskan lapar, tapi ia tak pernah benar-benar merasakan keroncongan usus yang melilit.
Maka aku berhenti menulis. Aku membiarkan diriku basah.
Aku mencari-cari Tuhan pada tirai-tirai hujan. Bukan sebagai kiasan puitis murahan yang sering kau baca di buku-buku roman picisan. Tidak. Ini adalah laku. Adalah ziarah. Aku berdiri di bawah talang air, membiarkan setiap tetesnya yang dingin meninju ubun-ubun, menampar pipi, mengalir masuk ke kerah baju hingga tubuh ini kuyup dan bergetar hebat. Setiap tetes adalah aksara dalam bahasa-Nya yang purba. Bahasa gigil. Bahasa demam. Bahasa sunyi yang lebih jujur dari semua kamus di dunia.
Kelaparan, kehausan, menggigil begitu layaknya demam tak tertahan. Inilah ayat-ayat suci yang sedang kurapal. Tubuhku telah menjadi kitab berjalan, dan setiap pori-pori kulitku adalah halaman yang merekam naskah-naskah kuno tentang penantian. Lapar bukan lagi soal perut, tetapi soal kekosongan jiwa yang tak bisa diisi oleh apapun yang dunia tawarkan. Haus bukan lagi soal tenggorokan, tetapi soal kerinduan akan setetes saja jawaban dari langit yang bungkam membisu.
Dan semua baitku untuk Tuhan, layaknya doa yang tak menyerah. Doa yang telah kehilangan bentuknya yang sopan. Ia bukan lagi permohonan yang terangkai indah. Ia telah menjadi raungan. Geraman. Desis putus asa di sela-sela gigi yang gemeretak menahan dingin. Ia adalah mantra yang diulang-ulang tanpa henti, bukan agar dikabulkan, tetapi sekadar untuk membuktikan bahwa aku masih di sini. Masih ada. Masih bernapas di tengah kepungan ketiadaan-Nya.
Sebab aku tersesat ke segala arah. Kompas moral? Peta spiritual? Semua itu lebur menjadi bubur kertas di bawah hujan yang sama. Utara, selatan, timur, barat kehilangan artinya ketika satu-satunya arah yang kau tuju adalah sebuah wajah yang tak pernah kau lihat, sebuah suara yang tak pernah kau dengar. Arah menjadi ilusi. Yang nyata hanyalah labirin tanpa akhir. Lorong-lorong gelap bernama detik, menit, dan jam yang merayap begitu lambat, menyiksa.
Sebab; tiada wadah untuk menampung air mata. Ember? Tempayan? Sungai? Samudera sekalipun akan meluap. Air mata ini bukan lagi cairan bening yang asin. Ia telah menjadi substansi lain. Ia adalah lelehan dari segala yang tak terucap, endapan dari segala yang tak terjawab. Ia adalah bukti paling sahih dari sebuah cinta yang terus hidup meski ditinggal mati oleh harapan.
Maka, biarlah rindu ini menjadi mayat dalam bait kata-kata. Inilah satu-satunya kejujuran yang tersisa. Aku tak lagi mencoba menghidupkannya dengan metafora-metafora cantik. Aku sedang menggali kuburnya. Setiap kata yang kutulis adalah sekop tanah. Setiap bait adalah liang lahatnya. Aku membungkusnya dengan kain kafan termahal: keikhlasan untuk mengaku kalah. Rindu ini tak akan pernah sampai. Ia mati di tengah jalan. Dan tugasku kini hanyalah menjadi juru makamnya.
Tanpa bapak sebagai mulanya. Nah, inilah pusat dari segala gempa. Inilah lubang hitam yang menyedot segala cahaya. Ketiadaan yang menjadi sebab dari segala ada. Pencarian ini begitu purba karena ia mencari titik nol, mencari asal-usul yang terpenggal. Tanpa mula, bagaimana mungkin ada akhir? Tanpa bapak, kepada siapa anak ini harus mengadukan lelahnya?
Dan jangan pernah bertanya mengapa. Bukan karna rayu jua aku mencintainya dan tanpa karena. Cinta ini bukanlah transaksi. Cinta ini adalah takdir. Adalah kodrat. Ia ada begitu saja, seperti gravitasi, seperti kebutuhan paru-paru akan udara. Ia tak butuh alasan untuk ada, dan justru ketiadaan alasan itulah yang membuatnya abadi sekaligus menyakitkan.
Jadi, pada judul yang mana semua ini akan kuterbitkan?
Tak ada.
Naskah ini tak akan pernah punya judul. Ia tak akan pernah terbit. Ia akan tetap menjadi catatan-catatan acak seorang febrilis di tengah badai. Naskah ini adalah demam itu sendiri. Adalah gigil itu sendiri. Bahasa Tuhan yang bernubuat itu ternyata bukanlah sabda agung di puncak gunung, melainkan getar bibir seorang pesakitan yang berbisik dalam sunyi: aku di sini, tanpa karena, menunggumu, meski kau tak pernah ada.
Komentar
Posting Komentar