Langsung ke konten utama

Surat di Ujung Penantian

Bu, ini aku. Anakmu yang masih saja berlari di tempat. Maaf. Kata itu terasa begitu kecil dan aus, tak sepadan dengan keluasan sabarmu yang membentang seluas langit malam. Aku mengucapkannya lagi, lirih, seperti bisik angin yang tersesat di antara gedung-gedung kota yang menjulang angkuh. Maaf, Bu, aku belum juga bisa mengulurkan lebih banyak bahagia ke dalam genggaman tanganmu yang keriputnya adalah peta dari setiap perjalananku.

Lihatlah, Bu. Dunia berputar begitu cepat. Waktu adalah kereta ekspres yang tak pernah berhenti di peronku. Aku melihat mereka—teman-temanku, orang lain—telah punya sayap. Mereka terbang, menembus awan, menaklukkan cakrawala dengan kepak yang riuh dan penuh percaya diri. Sedang aku? Aku masih di sini. Dengan sepatu yang sama, di atas aspal yang sama, menatap jejak kaki yang berputar-putar di titik yang itu-itu saja. Maaf, karena aku masih mengeja langkah, sementara yang lain sudah menulis bab-bab kemenangan dalam buku hidupnya. Perjalanan ini, Bu, ternyata terlalu rumit untuk ditempuh kakiku yang kecil. Peta yang kau bekalkan dulu kini basah oleh keringat dan air mata, membuat nama-nama jalan dan persimpangan menjadi kabur tak terbaca.

Ada malam-malam ketika kota tak pernah benar-benar tidur, dan aku terjaga bersamanya. Bukan untuk merayakan kehidupan, Bu, tetapi untuk bertarung dengan sunyi yang menggigit. Di saat itulah tangisku kerap tumpah tanpa bisa dibendung. Ia mengalir seperti sungai kecil yang mencari muara, tetapi hanya menemukan palung-palung kesedihan yang lebih dalam. Ragaku ingin menyerah. Sungguh. Ada kalanya aku hanya ingin rebah, membiarkan tubuhku ditelan aspal, dan berhenti menjadi pelari yang kelelahan ini. Aku ingin berhenti mendengar deru kereta waktu yang terus-menerus meninggalkanku.

Namun, di tengah pekat yang paling kelam, selalu ada seberkas cahaya tipis yang merembes masuk. Aku tahu itu apa. Itu adalah doa-doamu, Bu. Doa-doa yang tak pernah tanggal dari bibirmu, yang kau rapalkan di setiap sepertiga malam, di antara helaan napas lelahmu. Doa itu menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Ia menjadi selimut saat aku menggigil dalam dinginnya kegagalan. Ia menjadi kompas ketika aku tersesat di belantara keraguan. Ia menjadi bisikan yang memberitahuku bahwa menyerah bukanlah pilihan, sebab di ujung jalan ada wajahmu yang menanti.

Aku percaya itu, Bu. Aku memegangnya erat-erat seperti jimat terakhir. Kepercayaan bahwa doa seorang ibu adalah mantra paling sakti yang tak akan pernah mengantarkanku pada kegagalan mutlak. Mungkin aku jatuh, mungkin aku terluka, mungkin aku harus merangkak bersimbah lumpur, tetapi aku tak akan pernah benar-benar kalah selama langit-langit kamarmu masih mendengar namaku dalam untaian doamu.

Maka kumohon, Bu, tetaplah ada. Jangan dulu lelah menungguku. Jangan biarkan punggungmu membungkuk lebih dalam karena menanggung bebanku. Tegaklah sebentar lagi. Sebab Ibu harus melihatku, suatu hari nanti, berdiri di puncak sambil menggenggam kemenangan. Bukan kemenangan yang gemerlap dan fana, tetapi kemenangan atas diriku sendiri, atas keraguanku, atas langkahku yang gamang.

Akan kuwujudkan semua, Bu. Daftar keinginan yang selama ini hanya bisa Ibu semogakan dalam diam. Rumah kecil dengan halaman yang bisa kau tanami bunga, mukena baru yang selembut awan, perjalanan ke tempat yang dulu hanya bisa kau tunjuk dalam gambar. Semua harapan yang kau gantungkan di langit-langit doa, suatu saat akan kupetik satu per satu dan kuletakkan di pangkuanmu.

Tunggulah aku, Bu. Pelari di tempat ini mungkin lambat, tetapi ia tidak pernah berhenti. Sebab di garis finis, aku tidak melihat trofi atau medali. Aku hanya melihat senyummu. Dan itu, Bu, adalah satu-satunya kemenangan yang berarti.

Komentar