Langsung ke konten utama

Di Persimpangan Jalan Abu-abu

Di bilik jiwa yang paling sunyi, tak ada riuh yang menghakimi perasaan. Gembira, lara, benci, rindu—semua telanjang tanpa nama, mengalir laksana sungai bawah tanah sebelum dunia datang dengan kamus dan neracanya. Dunia selalu menuntut pilihan. Hitam atau putih? Kiri atau kanan? Malaikat atau iblis? Seolah-olah hidup adalah selembar kertas ujian dengan dua kolom jawaban, dan kita dipaksa melingkari salah satunya, padahal hati merasakan ribuan spektrum warna di antaranya.

Maka, di sanalah manusia berdiri: terkekang di persimpangan jalan yang tak mengizinkannya berpihak. Kaki yang satu ingin melangkah ke altar suci para malaikat, dengan janji kebaikan abadi yang menenangkan. Namun, kaki yang lain terpikat pada bisikan iblis, pada pesona kekuasaan dan kepuasan fana yang begitu nyata dan mendesak. Manusia tidak memilih menjadi abu-abu; ia adalah abu-abu. Ia adalah kanvas tempat pertarungan itu terjadi, bukan hakimnya. Terjebak dalam paradoks, terantai oleh kodratnya sendiri untuk menginginkan surga sekaligus mendamba dunia. Jiwanya ditarik ke dua arah yang berlawanan hingga nyaris terbelah, namun ia tetap utuh dalam keterbelahannya.

Lalu datanglah angka-angka, deretan nol yang memanjang seperti ular, melingkari leher moralitas hingga mati lemas. Datanglah takhta, kursi berkilauan yang menjanjikan kuasa untuk menentukan nasib orang lain. Di hadapan angka nominal dan kekuasaan, arti baik dan buruk menguap seperti embun pagi. Kebenaran menjadi komoditas yang bisa ditawar. Kebaikan menjadi strategi investasi. Kejahatan menjadi risiko bisnis yang diperhitungkan. Semuanya terdistorsi. Batas antara yang terpuji dan yang tercela menjadi kabur, luluh lantak oleh pragmatisme buta.

Lihatlah bagaimana kepentingan pribadi, sang berhala agung zaman ini, menuntut pengorbanan. Bukan lagi domba atau darah perawan, melainkan harga diri. Martabat ditumbalkan di altar kepuasan sesaat, dianggap remah-remah tak berarti yang bisa disapu dari meja perjamuan para pemenang. Manusia-manusia menanggalkan kehormatannya seperti menanggalkan pakaian kotor, demi sebuah jabatan, demi pundi-pundi yang lebih gemuk, demi tepuk tangan riuh dari kerumunan yang tak peduli dari mana kemenangan itu berasal. Mereka lupa, atau sengaja lupa, bahwa sekali harga diri itu dilepas, ia tak akan pernah bisa dikenakan kembali dengan pas.

Dan betapa rapuhnya sebuah nama besar, sebuah benteng kehormatan yang dibangun dari keringat dan sumpah para pendahulu. Hanya karena satu petinggi, satu jiwa yang tersesat dalam labirin kekuasaannya sendiri, seluruh citra instansi aparat terlucuti di hadapan publik. Tingkahnya yang tidak terpuji menjadi bor yang menggerogoti tiang-tiang penyangga kepercayaan. Seragam yang dulu gagah kini seolah membawa noda yang tak bisa dicuci. Satu kesalahan menjadi dosa turunan bagi ribuan orang yang tak tahu apa-apa. Ini adalah tragedi zaman kita: kolektivitas dihukum atas nama individualitas, dan kepercayaan menjadi barang langka yang teramat mahal.

Misteri ini berkelindan, menari-nari dalam kepala. Berbagai potongan pertanyaan beterbangan seperti pecahan kaca setelah ledakan, tak satu pun cukup besar untuk memantulkan sebuah jawaban utuh. Mengapa? Bagaimana bisa? Siapa? Setiap tanya hanya melahirkan tanya baru, menciptakan labirin tanpa akhir. Kita mencari kambing hitam, sosok untuk disalahkan, dan tak jarang jari telunjuk yang gemetar itu mengarah ke langit.

Namun, Tuhan tak sepatutnya disalahkan. Larangan-Nya telah tertuliskan sejak ribuan tahun silam dalam kitab-kitab suci, dalam bisikan nurani, dalam nasihat orang-orang bijak. Ia telah memberikan peta, lengkap dengan tanda bahaya di setiap persimpangan yang curam. Perkara manusia memilih merobek peta itu dan berjalan dengan mata tertutup, itu adalah pilihan—atau keterpaksaan—yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Kini, di tengah puing-puing ini, apa yang tersisa? Barangkali hanya memori. Mungkin kelak, ketika debu telah mengendap dan luka telah menjadi parut, semua ini akan menjadi sebuah kisah. Kisah kerinduan pada sebuah masa yang lebih sederhana, atau mungkin kerinduan pada kepolosan yang telah hilang. Semoga memori lama ini, betapapun pahitnya, bertransformasi menjadi beribu kenangan yang tak terlupakan. Bukan untuk meratapi, tetapi untuk menjadi pengingat abadi tentang betapa rumitnya menjadi manusia.

Komentar