Di saku kemeja yang lecek ini, selembar kertas terlipat. Isinya bukan sajak cinta atau daftar belanjaan, melainkan kutipan fatalistik seorang insinyur Irlandia: Murphy’s Law. Jika sesuatu bisa salah, maka itu akan salah. Sebuah kredo bagi pesimisme, atau mungkin, realisme paling brutal. Catatan itu terasa dingin di dada, sedingin embun yang menggantung di pucuk-pucuk pinus sepanjang jalan bebukitan yang kami lalui. Kata "kami" mungkin tak lagi tepat. Seharusnya aku. Hanya aku.
Mata terlempar ke bahu jalan, ke jurang yang menganga malas di antara kabut pagi. Ada semacam ketidakberdayaan yang akut dalam cara otak ini mengolah informasi. Kata-kata—entah dari pesan singkat yang kubaca berulang kali hingga menjadi buram, atau dari percakapan telepon yang bunyinya seperti datang dari dasar sumur—semua mengarah pada satu titik beku: dia sebenarnya sudah pergi. Pergi bukan dalam artian perjalanan yang meniscayakan kepulangan. Pergi adalah kata kerja yang telah selesai, sebuah titik di akhir kalimat yang tak bisa lagi diberi koma atau kata sambung. Informasi itu ada, telanjang dan benderang, namun kesadaran menolaknya, seperti tubuh yang menolak organ cangkokan.
Di tengah keasyikan melumat sunyi, seekor kucing hitam—klise yang sempurna untuk sebuah adegan melankolis—melompat dari bingkai jendela sebuah rumah kosong di tepi jalan. Gerakannya lincah, kontras dengan jiwaku yang terasa tertambat pada jangkar timah. Lompatannya mengusik segalanya. Hening yang tadinya padat menjadi pecah berkeping-keping. Dan dari kepingan itu, Sunyi mengambil wujud, duduk di kursi sebelahku yang kosong, lalu kami mulai berbincang. Tentu saja tanpa suara.
Kami memperdebatkan siapa yang lebih terasing; malam yang pekat tanpa kerlip satu pun bintang, ataukah pagi pucat yang lahir tanpa nyala surya? Malam tanpa bintang masih menyisakan janji akan fajar, kataku. Tapi pagi tanpa surya adalah kebohongan, ia hanya siang yang menyamar dalam kelabu abadi, balas Sunyi. Perdebatan itu tak menemukan pemenang, sebab kami berdua tahu, yang paling terasing adalah ruang di antara dua orang yang pernah saling mengisi, yang kini kosong dan bergema.
Tubuhku meringkuk di kursi mobil, mencoba mengecil hingga hanya seukuran anak kunci. Mungkin jika aku cukup kecil, aku bisa menyelinap keluar dari kenyataan ini. Ketidakberdayaan ini adalah penjara tanpa jeruji, ruang kedap suara tempat logikaku sendiri berteriak parau tanpa ada yang mendengar. Terjebak. Kata itu terasa begitu fisik, seolah selaput bening telah membungkus sekujur tubuh, memisahkanku dari udara, dari waktu, dari dunia yang terus berputar tak peduli.
Kepergian, seharusnya ia menjadi sebentuk kecukupan, sebuah penyadaran bahwa yang pernah ada sudah cukup untuk dikenang. Tanpa perlu lagi festival hedonis konsumerisme untuk menambal lubang: belanja, makan, bepergian tanpa tujuan, semua hanyalah anestesi murahan. Tapi teori tetaplah teori. Praktiknya, kekosongan ini menuntut untuk diisi, dan aku tak punya apa-apa untuk menawarkannya. "Lihat," ucap Sunyi, menunjuk ke mataku lewat pantulan kaca spion. "Ada rerintikan patrikor dalam matamu." Aroma tanah basah setelah hujan. Aroma kenangan.
Lalu, sebagai upaya terakhir melawan, Denny Caknan meraung dari pengeras suara. Satru 2, volume penuh. Sebuah proklamasi patah hati massal wong Jawa. Notasi dangdut koplo yang harusnya mengajak tubuh bergoyang kini terasa seperti cambuk. Suaranya memecah hening, ya, tapi tidak dengan dinginnya. Dingin ini datang dari dalam, dari sumsum tulang, dari tempat di mana namanya pernah menjadi doa. Musik itu gagal. Ia hanya kebisingan lain yang melapisi kesunyian.
Dan kemudian sesuatu yang ganjil terjadi. Detik-detik pada jam digital di dasbor seolah melambat, ragu-ragu untuk berganti angka. Jalanan di luar tampak bergerak dalam gerak lambat yang sinematik. Konsepsi akan kesadaran waktu telah diambil sepenuhnya dariku. Jika dimirip-miripkan, ini terasa seperti deskripsi Einstein tentang seseorang yang jatuh dan waktu membeku baginya; frozen in time. Saat itu, aku dan Sunyi mencapai sebuah kesepakatan diam-diam: jika semua ini hanyalah ilusi—cinta, kehilangan, waktu itu sendiri—maka tak ada yang perlu diratapi.
Maka, tanpa banyak yang tahu, di dalam mobil yang melaju entah ke mana, diiringi lagu putus asa yang riang, kami menikmati dilatasi waktu. Kami mengamati dunia yang membeku, tetes hujan yang menggantung di udara, dan bayangan yang berhenti memanjang. Ini bukan lagi soal dia, bukan lagi soal kepergian. Ini hanyalah catatan kecil kami; aku dan sunyi. Dalam sebuah semesta saku yang patuh pada hukum Murphy.
Komentar
Posting Komentar